Agar Harapan Tetap Menyala — bagian 1

Percikan Iman – Berputus asa, mematikan di dunia, mencelakakan di akhirat. Sedang harapan memberi kita keberanian untuk bergerak meski serba terbatas. Maka, kita harus menjaga nyala harapan, layaknya saudara kita di Palestina, meski setiap saat terancam mati, namun mereka tetap mampu tersenyum dan optimis bahwa kemerdekaan ada di depan mata.

Fundamental yang harus kita terima dan pahami ialah kenyataan bahwa hakikat kehidupan dunia ini adalah ujian. Dengan kita menerimanya, maka kita akan mewajarkan ketika kita didera musibah karena itulah alasan kita Allah Swt. berikan kesempatan hidup di dunia. Ketika kita lulus, maka kita berhak atas kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Dalam Qur’an, Surat Al-Ankabut ayat 1-3, Allah Swt. berfirman,

الۤمّۤ ۗ 

Alif Lam Mim.

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ 

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, “Kami telah beriman,” padahal mereka tidak diuji?

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ 

Sungguh, Kami telah menguji orang- orang sebelum mereka. Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang benar imannya dan orang-orang yang dusta.

Bagi mereka yang merindukan surga, kesungguhan dalam beramal sholeh, baik yang bersifat pribadi dengan Allah maupun yang bersifat sosial, adalah kemestian. Dalam perjalanannya, sama dengan kita, Rasulullah Saw dan para sahabat pun harus berhadapan dengan ujian yang “menggetarkan jiwa”.

Dalam Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 214, Allah Swt. berfirman,

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ 

Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami oleh orang-orang sebelummu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang dengan berbagai cobaan sehingga Rasul bersama orang-orang beriman berkata, “Kapan pertolongan Allah datang?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, kita dapat menemukan jika al-ba-sa-u artinya kemiskinan, sedangkan ad-dlarraa-u ialah penyakit. Sedangkan wa-zul-ziluu artinya takut oleh musuh dengan ketakutan yang amat sangat. Artinya, keimanan kita akan diuji oleh Allah Swt. dengan beragam macam bentuk. Ketika ujian itu datang, jawabannya ialah “kita menerima sebagai qudrah dan irodah Allah Swt. pada kita”. Ketika kita menerimanya, maka jalan untuk bisa sabar terbuka lebar bagi kita.

Ayat tersebut juga merangkum bagaimana ekspresi kekhawatiran para sahabat, yakni dengan bertanya pada Rasulullah Saw.,”Kapan pertolongan Allah datang?”. Artinya, betapa berat ujian yang para sahabat rasakan pada saat itu.

Dari Khabbab ibnul Art yang telah menceritakan hadis berikut:

قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا؟ أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لَنَا؟ فَقَالَ: “إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانَ أَحَدُهُمْ يُوضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مفْرَق رَأْسِهِ فَيَخْلُصُ إِلَى قَدَمَيْهِ، لَا يَصْرفه ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، ويُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا بَيْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، لَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ”. ثُمَّ قَالَ: “وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ اللَّهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ قَوْمٌ تَسْتَعْجِلُونَ”.

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak meminta pertolongan buat kami, mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah untuk kami?” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada seseorang dari mereka yang diletakkan pada ubun-ubunnya sebuah gergaji, lalu ia, dibelah dengan gergaji itu sampai kepada kedua telapak kakinya, tetapi hal itu tidak: memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang antara daging dan tulangnya disisir dengan sisir besi, tetapi hal tersebut tidak menggoyahkan imannya dari agamanya.” Kemudian Rasulullah Saw. bersabda:  Demi Allah, sesungguhnya Allah pasti akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara berjalan dari San’a ke Hadramaut tanpa merasa takut kecuali kepada Allah dan serigala yang mengancam ternak kambingnya, tetapi kalian ini adalah kaum yang tergesa-gesa.

Jika ujian itu mendera Rasulullah Saw. yang notabene kekasih Allah Swt. dan juga para sahabatnya, yang Allah Swt. pada mereka dan mereka ridho pada Allah Swt. maka, jika kita ingin bersebelahan dengan Nabi di surga nanti, kita pun akan mendapati ujian dan kita harus dapat menyikapinya sesuai dengan kehendak Allah Swt, layaknya para sahabat.

Itu artinya, kita harus dapat memahami bahwa ujian yang menimpa kita, sejatinya sebentuk kasih sayang Allah Swt. pada kita. Sebagaimana yang Allah Swt. memberikan ujian pada para Rasul-Nya.

Dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 155-157, Allah Swt. berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali).

اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Mereka itulah orang yang akan memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Pada dasarnya, musibah atau ujian atau fitnah merupakan sebentuk kasih sayang dan cinta Allah Swt. pada hamba-nya yang beriman. Apakah tujuannya untuk menghapus dosa atau untuk meningkatkan derajat di sisi-Nya. Ada sedikit perbedaan yang perlu kita pahami agar kita dapat memahami dan menyikapinya dengan tepat. 

  • Musibah : Penderitaan, kesulitan akibat keteledoran kita (misalnya, ugal-ugalan di jalan) (Qs. As-Syuro: 30) – ini manusiawi

  • Ujian: Ini berkaitan dengan hak prerogatifnya Allah Swt. tidak ada kaitan dengan keduanya (musibah dan azab) (Qs. Al-Anbiya: 35)

  • Azab: Penderitaan, kesulitan akibat dosa-dosa kita atau kedurhakaan (Qs. Al-A’raf: 96)

Kita mungkin pernah terpikir, “mengapa ya orang kafir itu kehidupan dunianya baik, nampak terhormat, sedang kita beriman tapi kok buat hidup enak tuh susah”? Sebetulnya, peluang untuk menggapai kemuliaan dunia itu, fundamentalnya sama, yakni bersungguh-sungguh dan sabar. Siapapun yang menegakkan disiplin tersebut, baik kafir maupun mukmin, niscaya bisa menggapainya.

Hanya, bagi orang kafir, bisa jadi kenikmatan yang nampak tersebut merupakan sebentuk penundaan hukuman dari Allah Swt. sehingga hukuman di akhiratnya akan amat berat alias disekaliguskan. Ini kaitannya dengan akhirat. Sementara bagi orang beriman, karena konsekuensi akan keyakinannya atas kehidupan akhirat, maka Allah Swt. dengan kasih sayangnya, pada saat kita berbuat dosa atau maksiat, maka sesekali akan Allah Swt ingatkan agar mengurangi jumlah hukumannya ketika di akhirat. 

Dalam Al-Qur’an, Surat Asy-Syu’ara ayat 30, Allah Swt. berfirman,

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ 

Musibah apa pun yang menimpamu disebabkan oleh perbuatanmu sendiri. Allah memaafkan sebagian besar kesalahanmu

Kecuali, orang kafir tersebut sudah keterlaluan melawan Allah Swt. maka baginya berlaku azab. Layaknya yang menimpa Fir’aun, Haman, dan Qarun. Mereka Allah Swt. azab karena mereka melakukan maksiat hingga ke puncaknya. 

Itulah gambaran, bagaimana setiap ujian yang mendera kita sejatinya merupakan sebentuk kasih sayang Allah Swt. pada orang beriman. 

____
Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada Majelis Percikan Iman di Masjid Peradaban Percikan Iman, setiap Ahad sepanjang Bulan Oktober 2023

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *