Agar Resolusi Tak Keberantakan dan Merugi

Percikan Iman – “Gak kerasa ya udah ganti tahun aja”, begitu kalimat yang acap terdengar di awal pergantian tahun. Ada juga yang gagap menulis tahun. Macam-macam memang sindrom pergantian tahun di sekitar kita. Namun, yang tak kalah riuh soal pergantian tahun ialah soal membuat resolusi. Target-target tahun lalu, kita evaluasi, menjadi bahan menentukan target-target setahun menjelang. 

Saking kita menikmati hidup di alam dunia, sampai-sampai kita lupa waktu. Perjalanan waktu sampai tak terasa. Berganti hari, berganti pekan, berganti bulan, hingga satu tahun berlalu. Berbagai peristiwa berlalu di sekitar kita, ada yang memang dibuat, ada yang merupakan akibat, ada juga yang memang kehendak dari Allah S.W.T. yang Maha Berkuasa. 

Semua peristiwa itu sejatinya merupakan pengingat, namun lagi-lagi kita mudah lupa. Begitu memang tabiat kita selaku manusia. Cenderung lalai pada waktu luang dan kesehatan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah S.A.W. pernah bersabda, “Ada dua macam nikmat yang sering dilalaikan manusia, yaitu kesehatan dan kesempatan (waktu luang).”

Beruntungnya kita karena kita hidup di zaman di mana teknologi jam sudah ter-standarisasi, di mana kalender sudah lazim kita gunakan, bahkan keduanya kini senantiasa kita bawa-bawa, yakni di ponsel kita. 

Masa pergantian tahun, lazimnya menjadi momen yang dijadikan umumnya kita berhitung. Dalam proses berhitung, kita mungkin akan menemukan sebagian target kita tidak tercapai, ada juga yang tercapai. Jika tidak tercapai, hendaknya kita tidak mengutuknya. Jika tercapai, bersyukurlah pada Allah S.W.T. karena itu merupakan kehendak-Nya.

Rasulullah S.A.W. bersabda, “Janganlah mencerca waktu karena Allah S.W.T. pemilik waktu.” (H.R. Ahmad)

Bersyukurlah bila sahabat mampu berupaya menempuhi upaya pencapaian target. Setidaknya sahabat sudah berupaya menjadi lebih baik mulai dari mengajukan proposal pencapaian pada Allah S.W.T. Berupaya sekuat hati dan tenaga untuk mencapainya. Jika sahabat menyisipinya dengan prasangka baik pada Allah S.W.T. sahabat layak berharap, setiap jentik jari dan putaran roda ikhtiar menjadi amal sholeh di sisi-Nya. 

Bila sahabat sudah membuat resolusi, apakah sahabat sudah menimbang-nimbang, jika target-target yang sahabat canangkan, tak hanya mendulang profit di dunia, namun juga dapat dikonversi menjadi pahala? Boleh-lah sahabat mencanangkan pencapaian penambahan aset, tak masalah juga jika sahabat mencanangkan target wisata ke tempat-tempat terindah di dunia. 

Hanya, sayang sekali jika target-target pencapaian kita tak bisa dikonversi menjadi bekal perjalanan menuju akhirat, menjadi stimulan turun-nya ridho Allah S.W.T., menjadi pengungkit derajat kita si surga-Nya. Betapapun menterengnya pencapaian kita di dunia, pada akhirnya, kematian akan memisahkan kita dengannya. 

Ingat mati, maka kita akan lebih menghargai waktu. Pasalnya, ketika kematian datang pada seseorang, maka terputuslah amalnya, kecuali ia membawa amal sholeh yang cukup atau memiliki pahala jariyah sehingga menambah pundi-pundi pahalanya meski tak lagi beramal. Kita juga harus ingat, kematian akan datang pada kita tanpa memberi mengetuk pintu atau tanpa peringatan. 

Dalam firman-Nya pada surat Al-Munafiqun ayat 10, Allah S.W.T. mengabarkan pada kita, bahwa mereka yang sudah mati akan menyesal karena kurangnya amal sholeh. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Infakkan sebagian harta yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang menjemputmu. Lalu, ada yang menyesali, “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sesaat saja agar aku dapat bersedekah dan menjadi orang-orang saleh.”

Karena itu, mari kita buat resolusi dengan menjadikan akhir hayat sebagai pijakan. Dengan begitu, pencapaian kita dunia, bukan hanya mengahantarkan kita bahagia dan mulia di dunia, namun juga di akhirat. Mulai dari alam kubur, menempuhi perjalanan menuju mahsyar, hisab, menyebrangi shirat, dan semoga Allah S.W.T. berkenan mencurahkan rahmat-Nya seraya menempatkan kita di tempat yang mulia.

Ketahuilah, manusia pada dasarnya cenderung akan “merugi”. Hanya mereka yang senantiasa merawat imannya tetap prima, melakukan kegiatan-kegiatan dengan value amal sholeh yakni bermanfaat, seraya peduli pada sesamanya; dengan nasihat, dengan postingan positif dan memotivasi, sehingga orang tetap berada di jalan yang benar dan bersabar dalam menempuhi jalan juang selama di dunia. 

Terakhir, mari kita renungi kalimat yang guru kita, Ustadz Aam Amirudin sampaikan dalam kitab tafsirnya, Al-hikmah,

Sesungguhnya, kita diberi waktu yang sama oleh Allah S.W.T., 60 detik dalam satu menit, 60 menit dalam satu jam, dan 7 hari dalam seminggu. Persoalannya, mau diisi dengan apa waktu tersebut?

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *