Apakah Nur Muhammad itu?

Secara bahasa Nur artinya adalah cahaya. Sedangkan Nur Muhammad adalah cahaya Nabi Muhammad SAW, yang mesti kita fahami sebagai sesuatu yang datang darinya dan penerang bagi kehidupan manusia.

Nur tersebut tiada lain adalah wahyu Allah, karenanya manusia mendapat petunjuk untuk meniti kehidupan di jalan yang lurus. Firman Allah SWT :

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (TQS. As-Syuraa 42 : 52)

Memang ada anggapan dari sebagian kalangan ummat Islam yang berkeyakinan bahwa yang pertama kali diciptakan Allah aadalah nur (cahaya) Nabi Muhammad SAW atau bahwa Allah memegang segenggaman cahaya wajah-Nya dan genggaman itu adalah Muhammad SAW.

Allah memperhatikn genggaman tersebut lalu meneteslah beberapa tetesan darinya dan diciptakan dari setiap tetesan itu seorang Nabi atau makhluk-Nya yang seluruhnya dari cahaya Rasululloh SAW.

Namun riwayat tersebut tidak ada dasarnya sama sekali.
Wallahu A’lam


mapi oktober 2009

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Apakah Nur Muhammad itu?

Shalat sunah boleh dilakukan sambil duduk, bahkan sambil berbaring pun diperbolehkan walaupun kita masih kuat melakukannya sambil berdiri. Namun, pahalanya berkurang dibandingkan kalau kita melakukannya sambil berdiri.

Perhatikan keterangan berikut, “Imran bin Hushain pernah bertanya kepada Nabi saw. tentang shalat seseorang sambil duduk. Nabi saw menjawab,“Shalat sambil berdiri itu lebih baik. Siapa yang shalat sambil duduk, ia mendapatkan pahala setengah dari orang yang shalat sambil berdiri. Siapa yang shalat sambil berbaring, pahalanya setengah dari yang duduk.” (HR. Al-Jamaah kecuali Muslim)

Ketentuan ini hanya berlaku untuk shalat sunah, sementara untuk shalat fardhu yang lima waktu diwajibkan sambil berdiri selama kita mampu, kalau sudah tidak kuat berdiri karena sakit atau tidak memungkinkan karena shalat dikendaraan misalnya, atau sebab-sebab lainnya yang di luar kemampuan kita, maka diperbolehkan duduk, dan kalau tidak kuat atau tidak memungkinkan sambil duduk, diperbolehkan sambil berbaring.

Silakan cermati keterangan berikut, “Imran bin Hushain r.a. berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang shalat orang sakit. Beliau menjawab, “Shalatlah sambil berdiri. Tetapi kalau tidak bisa, shalatlah sambil duduk. Kalau tidak bisa, shalatlah sambil berbaring.” (H.R.Tirmidzi)

Kesimpulannya, kita boleh melakukan shalat sunah sambil duduk walaupun masih mampu melaksanakannya sambil berdiri, namun pahalanya akan berkurang. Sedangkan shalat fardhu yang lima waktu wajib dilakukan sambil berdiri selama kita kuat, kalau tidak memungkinkan baru diperbolehkan duduk, dan kalau duduk pun tidak memungkinkan, diperbolehkan berbaring. Wallahu A’lam.

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *