Bagaimana Doa agar terkabul oleh Allah swt?

Sesungguhnya Allah swt. akan selalu mengabulkan permintaan hamba-Nya yang berdo’a dengan sungguh-sungguh. “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’amu.” (QS. Al-Mu’min 40:60)

Pengabulan do’a ada yang cash (langsung/kontan). Misalnya, saat tahajud kita minta jodoh yang shaleh. Ternyata, siang harinya ada yang melamar dan besoknya menikah. Inilah do’a yang cash (kontan).

Ada juga do’a yang delayed (tertunda / ditangguhkan). Misalnya, hari ini kita berdo’a, tetapi dikabulkannya baru lima tahun kemudian. Inilah do’a yang delayed (ditangguhkan). Bahkan ada juga do’a yang pengabulannya tidak di dunia, tetapi menjadi deposito amal shaleh kita di akhirat. Ini juga merupakan bentuk pengabulan do’a yang delayed (ditangguhkan).

Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorang muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdo’a, kecuali Allah akan mengabulkannya (memberikannya). Kadang-kadang, pengabulannya dipercepat (cash) dan kadang diperlambat/ditanggauhkan (delayed).” (HR. Ahmad dan Hakim)

Secara manusiawi, apabila permohonan kita tidak atau belum terkabulkan, kita merasa sumpek. Padahal, kemungkinan besar ini yang terbaik untuk kita.

Ingat, ilmu kita sangat terbatas, sementara ilmu Allah swt. Maha luas. “Bisa saja kamu membenci sesuatu padahal hal itu baik untuk kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagi kamu. Dan Allah-lah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2:216) “Bisa saja kamu membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa 4:19)

Prinsip-prinsip di atas harus dipegang teguh agar kita tidak berprasangka buruk kepada Allah swt. dan tidak putus asa dari rahmat dan karunia-Nya. Adapun trik agar do’a kita lebih berpeluang untuk dikabulkan adalah sebagai berikut,

1. Awali Do’a dengan Asmaul Husna.
“Allah mempunyai Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu…” (QS. Al-A’raf 7:180) Asmaul Husna artinya nama-nama Allah yang baik, seperti Ar-Rahman (Maha Pemurah), Al Hakiim (Maha Bijaksana), Ar-Rahiim (Maha Penyayang), Al Kariim (Maha Dermawan), Al ‘Aliim (Maha Mengetahui), dan lain-lain. Merujuk pada ayat ini, ketika kita akan meminta sesuatu pada Allah swt., maka awali dengan asmaul husna yang kita hafal, misalnya Ýa Rahmaan, Ya Rahiim, dan lain-lain. setelah itu baru kita berdo’a.

Berapa kali Asmaul Husna yang harus kita baca pada awal do’a ? Tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan jumlahnya. Jadi, baca saja semampu dan semau kita, sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Namun, alangkah baiknya kalau Asmaul Husna yang kita baca itu ada korelasi (hubungan) dengan permintaan kita, misalnya kalau minta ilmu, awali dengan Ya ‘Aliim (WahaiYang Maha Tahu), Ya Hakiim (Wahai Yang Maha Bijaksana). Kalau minta ampun, kita awali dengan Ya Ghafuur (Wahai Yang Maha Pengampun), Ya Rahiim (Wahai Yang Maha Penyayang), dan lain-lain.

2. Ucapkan Kalimah Tauhid Setelah membaca Asamul Husna, lalu kita ucapkan Kalimah Tauhid, yaitu pernyataan yang mengekpresikan keimanan kita kepada Allah swt. Kita nyatakan bahwa Allah swt. itu Maha Tunggal, Maha Berkuasa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan lain-lain. Adapun Kalimah Tauhid yang sebaiknya kita baca saat berdo’a adalah sebagai berikut, [Allahumma inni as aluka bi anni asyhadu annaka antallahu laa ilaaha illa antal ahadu shamadul ladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad ] “Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ya Allah, dengan bersaksi bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah Yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Tunggal dan Yang menjadi tempatku bergantung, Yang tidah beranak dan tidak diperanakkan, serta tak ada yang menyamai-Mu seorang pun.” (H.R.Abu Daud, Tirmizdi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim) [Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbaru, Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, laa ilaaha illallaahu, walaa haula walaa quwwata illa billaah] “Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya pula segala puji, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah dan tiada daya serta tak ada kekuatan selain dengan kekuatan yang datang dari Allah.” (H.R.Thabrany)

3. Iringi do’a dengan prasangka baik. Berdo’a harus diiringi dengan prasangka baik kepada Allah swt. bahwa Dia akan selalu mengabulkan do’a kita. Apabila do’a belum dikabulkan, kita harus yakin bahwa apa yang kita pinta mungkin menurut Allah swt. kurang baik, karena itulah Dia tidak mengabulkan permintaan kita, atau tanpa kita sadari Allah telah menggantinya dengah yang lebih baik.

Yakinlah, Allah swt. hanya akan mengabulkan permintaan yang sekiranya akan menjadi kebaikan untuk diri kita. “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdo’a kepada-Ku”. (H.R.Bukhari dan Muslim). Maksudnya, kalau kita menyangka Allah itu Maha Penyayang, maka Dia akan menyayangi kita. Kalau kita menyangka Allah itu akan mengabulkan do’a kita, maka Dia akan mengabulkannya selama yang kita mintakan itu akan menjadi kebaikan.

4. Berdo’a dengan hati yang mantap Allah akan mengabulkan do’a yang lahir dari hati yang sungguh-sungguh (mantap), karena itu bersungguh-sungguh dan optimislah bahwa do’a kita bakal dikabulkan-Nya. “Wahai manusia, jika kamu memohon kepada Allah ‘azza wa jalla, mohonlah langsung kehadirat-Nya dengan keyakinan yang penuh bahwa do’amu akan dikabulkan, karena Allah tidak akan mengabulkan do’a yang keluar dari hati yang lalai.” (H.R.Ahmad)

5. Berdo’a dengan kerendahan hati dan suara lembut Kebalikan dari rendah hati adalah sombong. Kalau kita ingin do’a kita dikabulkan, kikislah serta kuburlah sifat-sifat sombong atau takabur. Ketahuilah, Allah hanya akan mengabulkan do’a orang-orang yang rendah hati. “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf,7 : 55) Selain dengan rendah hati, berdo’a sebaiknya dilakukan dengan suara yang lembut, karena Allah itu maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kita tidak perlu berdo’a dengan berteriak. Rasulullah saw. pernah menegur sejumlah shahabat yang berdo’a dengan berteiak-teriak, Sabda Nabi saw., “Hai Manusia, sesungguhnya Dzat yang kamu seru itu tidak tuli dan tidak jauh, sesungguhnya Tuhan yang kamu seru itu ada diantara kamu, bahkan diantara leher kamu !” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

6. Ulangi Permintaan Sebanyak tiga kali Saat berdo’a, Rasulullah saw., suka mengulanginya hingga tiga kali. “Nabi saw., apabila berdo’a, beliau mengulanginya tiga kali, dan apabila meminta, juga mengulanginya tiga kali.” (H.R.Muslim).

7. Iringi do’a dengan ikhtiar (usaha) Do’a dan ikhtiar bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Keduanya saling melengkapi, tidak bisa dipisahkan. Kalau kita minta ilmu, barengi dengan belajar, minta harta, dampingi dengan usaha, minta sukses dalam karier, iringi dengan kerja keras, minta kesembuhan, ikuti dengan pengobatan, dan lain-lain. “…Bekerjalah (berusahalah) kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan (ikhtiar)mu itu…” (QS. Attaubah 9:105)

Kesimpulannya, setiap do’a yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan Allah swt. Adapun bentuk pengabulannya, ada yang langsung, ada pula yang di tangguhkan hingga beberapa bulan atau tahun, bahkan ada yang ditangguhkan sampai hari akhirat, menjadi deposito pahala di akhirat nanti. Agar do’a berpeluang dikabulkan, kita harus mengawalinya dengan Asmaul Husna, mengucapkan Kalimah Tauhid, berprasangka baik pada Allah, optimis, lakukan dengan rendah hati, ulangi beberapa kali, dan iringi dengan usaha. Wallahu A’lam

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bagaimana Doa agar terkabul oleh Allah swt?

Tak dapat dibantah, ML (making love) alis hubungan intim dapat dikategorikan aman sekaligus sehat bilamana dilakukan dengan pasangan yang sah dan dilaksanakan menurut aturan agama yang didukung dengan pengetahuan medis. Contoh, Islam melarang suami-istri berhubungan intim saat istri sedang menstruasi.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang (hukum bercampur dengan istri yang sedang) haid. Katakanlah, ’Haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka bersuci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.’ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Q.S. Al Baqarah 2:222)

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa alat kelamin wanita menjadi saluran yang menghubungkan rongga perut dengan yang ada di luar, vagina berlubang, mulut rahim berlubang. Kemudian rongga ini terus masuk ke kiri dan ke kanan menjadi saluran telur. Kemudian saluran telur ini bermuara ke rongga perut. Anda tahu bahwa dalam perut banyak sekali organ-organ tubuh yang sangat penting dan sangat sensitif, seperti usus, hati, pancreas, dan masih banyak lagi. Kalau kuman masuk melalui saluran alat kelamin wanita, kemudian masuk dalam perut, hal ini akan menimbulkan infeksi yang sangat berbahaya.

Dalam keadaan normal, saluran ini biasanya diamankan oleh lender-lendir kental yang ada di dalam mulut rahim sehingga kotoran apa pun tidak akan bisa masuk ke dalam rongga perut. Lendir-lendir yang kental ini berisi banyak sekali sel-sel darah putih yang akan memakan semua kuman yang lewat. Kuman-kuman yang akan masuk ke dalam rahim akan ditahan oleh lendir rahim. Di dalam lender rahim bayak sekali sel-sel darah putih yang siap memakan semua benda-benda asing yang masuk.

Pada saat menstruasi, lender ini tidak ada, sebab kalau lendir ini masih ada, darah mens tidak bisa keluar. Jadi pada waktu menstruasi, sumbatan lendir itu akan terlepas. Akibatnya saluran kelamin akan terbuka dan sangat rentan terhadap serangan kuman.

Pada waktu menstruasi, banyak sekali perlukaan dan terbukanya pembuluh-pembuluh darah di dinding rahim. Jadi kalau terjadi kuman masuk, dengan mudah kuman tresebut akan masuk ke dalam rahim karena tidak ada hambatan dari lendir. Kalau itu terjadi, bukan hanya masuk ke dalam rongga perut, tapi kuman-kuman tersebut bisa mencapai seluruh tubuh melalui pembuluh-pembuluh darah yang terbuka. Dengan cepat kuman-kuman itu masuk ke dalam otak, ginjal, jantung, sehingga dapat menyebabkan infeksi seluruh tubuh, bahkan bisa menimbulkan kematian mendadak.

Kalau misalnya ada udara terdorong masuk ke dalam mulut rahim lalu masuk ke dalam pembuluh darah, ini akan membawa kuman ke jantung sehingga menimbulkan gangguan jantung. Kalau terbawa ke otak, dengan cepat akan terjadi suatu reaksi alergi atau akan menyebabkan gangguan otak (akan mengalami kejang-kejang dan diikuti dengan kematian mendadak).

Dapat Anda lihat bahwa medis dan agama selalu sejalan. Agama mengharamkan hubungan suami istri pada saat haid, ternyata memang hal itu sangat berbahaya. Karenanya wawasan akan pengetahuan agama dan medis seputar seks mutlak diperlukan oleh siapa saja. Jangan sampai ketidaktahuan menyebabkan kita terjerembab ke dalam seks yang tidak aman dan tidak sehat.

Nah, kalau hubungan intim suami-istri saja dapat menimbulkan masalah bila tidak dilakukan sesuai prosedur (kaidah agama & medis), apalagi hubungan intim yang bukan dilakukan dengan pasangan yang sah. Tentunya akan membawa dampak yang sangat buruk dan tidak diinginkan, seperti terjangkitnya penyakit menular seksual. Wallahu A’lam
Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *