Bermetamorfosis Dengan Ramadhan

Percikan Iman – Selayaknya, ulat dalam kepompong, dia melalui fase tersebut dengan perjuangan. Dia bukan diam dan menunggu, melainkan melakukan proses secara aktif. Maka, jangan harap kita bisa bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih “indah dan bermanfaat” jika hanya tidur selama puasa. Allah Swt. telah menentukan program sebagai sarana kita bermetamorfosis.

Yang paling utama, kita harus mengukur diri kita, “apakah kita bergembira dengan datangnya Ramadhan?”. Kalau kedatangan Ramadhan belum bisa tanggapi dengan gembira, bisa jadi kita belum mengenal Ramadhan atau kita belum merasakan “manisnya” sajian Ramadhan. 

Ibnu Rajab Al-Hambali memberikan kesaksian bagaimana ekspresi sahabat Nabi saat menyongsong Ramadhan. Saking “nikmatnya” Ramadhan bagi mereka, jangankan ketika datangnya Ramadhan, mereka bahkan sudah bergembira sejak enam bulan sebelum kedatangannya dan mempersiapkan diri. 

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.” 

(Latha’if Al-Ma’arif hal. 232)

Bergembira dengan Ramadhan, artinya bergembira dengan karunia dan Rahmat-Nya. Sebagaimana terangkum dalam Qur’an, surat Yunus ayat 58, Allah Swt. berfirman, 

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakan, Muhammad, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira dengan itu. Hal itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Selanjutnya, ikuti semua program Ramadhan dengan suka cita hingga kita merasakan kelelahan. Mulailah dengan menetapkan target dan jadwalnya. Dengan menentukan target dan jadwal, setidaknya kita ada acuan dan merasa bersalah ketika target kita tidak tercapai. 

Rasulullah bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu 

(HR. Bukhari no. 2014)

“Iḫtisâb itu berarti tekad yang kuat, yakni seseorang berpuasa atas dasar kecintaannya pada pahala yang terkandung di dalam puasa Ramadhan, (juga atas dasar) kebaikan dirinya dengan tanpa merasa terbebani atas puasa dan tak merasa terlalu panjang hari-hari puasanya,” begitu pendapat Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari Sarh Sahih al-Bukhari li Ibn Hajar, juz 4, h.115).

Puasa ialah landasan untuk kita dapat mengendalikan diri. Di-support dengan pemenuhan nutrisi dan waktu istirahat yang cukup, kita dapat melakukan berbagai kegiatan ibadah selama puasa. Mulai dari yang sifatnya muamalah dengan sesama, seperti kerja dan membantu urusan rumah tangga, hingga yang sifatnya membangun hubungan langsung dengan Allah Swt. 

Jika tidur saja bisa bernilai ibadah, apalagi jika kita juga mengoptimalkan waktu dengan membaca Al-Qur’an, shalat fardhu tepat waktu (di masjid bagi lelaki), dan infak-sedekah, terutama pada keluarga. 

Ramadhan ialah momen diturunkannya Al-Qur’an, maka Ramadhan ialah momen yang pas untuk kita membaca dan menelaah kandungannya. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta sebagai pembeda antara yang benar dan yang batil. Siapa pun di antaramu berada di negeri tempat tinggalnya pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa. Jika tidak berpuasa karena sakit atau dalam perjalanan, kamu wajib menggantinya pada hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan itu. Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah:185)

Selanjutnya, kita bisa meningkatkan kualitas shalat kita. Yang pertama, jika kita kadang masih terlambat shalat di luar Ramadhan, maka Ramadhan ialah momen yang tepat untuk kita memperbaikinya. 

Dalam Qur’an, surat An-Nisa, ayat 103, Allah Swt. berfirman,

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا 

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salatmu, ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat seperti biasa. Sesungguhnya, salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.

Dalam hadits, Rasulullah Saw. bersabda, 

عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا »

Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud no. 426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dan hendaknya, bagi laki-laki bersungguh-sungguh mengejar keutamaan shalat di Masjid. Sungguh rugi, jika kita meninggalkan berbagai keutamaan yang terkandung dalam shalat berjama’ah di masjid Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ


“Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).

Setelah shalat fardhu kita penuhi penyempurnaannya, selanjutnya, kita bisa mengejar keutamaan qiyamullail. Shalat malam ialah separuh sayap dari puasa Ramadhan yang kita lakukan sepanjang siang. Dengan melaksanakannya, kita membuka “satu pintu” ampunan lainnya, setelah melaksanakan puasa. 

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” 

(HR Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya, jika kita berkesempatan dicukupkan harta, alangkah baiknya, kalau kita berbagi, terutama dengan anggota keluarga kita. Jika sudah terpenuhi, kita bisa meluaskan areanya, mulai dari berbagi takjil atau buka bersama orang tua, hingga teman kantor, lebih jauh lagi dengan orang-orang yang membutuhkan. 

Dalam Qur’an, surat Al-Hadid ayat 18, Allah Swt. berfirman, 

اِنَّ الْمُصَّدِّقِيْنَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَاَقْرَضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ اَجْرٌ كَرِيْمٌ 

Sesungguhnya, orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan, dan memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik akan dilipatgandakan balasannya bagi mereka. Mereka akan mendapat pahala mulia. 

Terkait traktir ifthor, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807)

Nah, sahabat, mari kita optimalkan Ramadhan kita dengan mengikuti berbagai program yang telah Allah Swt. tentukan sehingga seiring dengan berakhirnya Ramadhan, kita boleh berharap, kita berhasil ber-”metamorfosis” menjadi pribadi yang bertakwa. 

Wallahu a’lam bi shawwab

_____
Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada program “Safari Dakwah Tasik-Ciamis” 28 Februari – 1 Maret 2024

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *