Daya Rusak Munafik (bagian 1)

Percikan Iman – Kafir itu, ibarat warna hitam di atas putih. Siapapun dapat melihatnya dengan jelas, minimal kita lihat dari KTP-nya. Namun, ada golongan, yang dia ber-KTP Islam, namun di balik itu dia menyembunyikan kebencian yang besar pada orang maupun ajaran Islam. Bahayanya, beberapa sifanya, bisa menjangkiti Muslimin, sadar maupun tidak. Perilakunya bernama nifaq, pelakunya disebut munafiq atau hipokrit. 

Dalam Qur’an, surat Al-Anfal ayat 2, kita dapat menemukan ciri-ciri orang dengan keimanan yang baik. Yakni, ketika disebut nama Allah, bergetarlah hatinya.



اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Sesungguhnya, orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya. Apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.

Iman, itu bukan hanya soal perkataan dan perbuatan yang siapapun bisa mendengar dan melihatnya. Melainkan berlandaskan hati yang yakin pada Allah Swt. Lisan dan perbuatannya merupakan cerminan isi hatinya. Maka, orang yang beriman itu pasti konsisten antara hati, lisan, maupun perbuatannya.


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (الْإِيمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ). أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ فِي سُنَنِهِ  

Rasulullah SAW bersabda, ‘Iman itu pengenalan dengan hati, pelafalan secara lisan, dan pengamalan dengan anggota badan,’” (HR Ibnu Majah).

Sedangkan munafik, meski perbuatannya mengagumkan banyak orang, suaranya terdengar merdu, namun semua itu hanya “topeng”. Di balik itu, dia menyembunyikan keyakinannya yang tidak sesuai dengan perbuatannya.

Umar pernah berkhutbah di atas mimbar, lantas ia mengatakan,

إنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ المنَافقُ العَلِيْمُ ، قَالُوْا : كَيْفَ يَكُوْنُ المنَافِقُ عَلِيماً ؟ قَالَ : يَتَكَلَّمُ بِالْحِكْمَةِ ، وَيَعْمَلُ باِلجَوْر ، أَوْ قَالَ : المنْكَرِ

“Yang aku khawatirkan pada kalian adalah orang berilmu yang munafik. Para sahabat lantas bertanya: “Bagaimana bisa ada orang berilmu yang munafik?” Umar menjawab, “Ia berkata perkataan hikmah, namun sayangnya ia melakukan kemungkaran.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 490)

Munafik itu lebih berbahaya daripada orang kafir karena secara lahiriah mereka muslim, bahkan mungkin terlihat “lebih takwa” dari kebanyakan Muslim. Karena pesonanya, bisa jadi orang-orang yang masih lemah imannya, sedikit ilmunya, bisa terkecoh sehingga sedikit demi sedikit orang terjauhkan dari Islam. Terkait golongan ini, Allah Swt. telah memberikan kita peringatan, yakni dalam Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 8, 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ

Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” Padahal, sesungguhnya mereka itu bukan orang-orang beriman.

Selain itu, nifaq itu mirip dengan kanker. Awalnya, jinak, namun lama-lama karena terbiasa, bisa membawa pelakunya lebih jauh terjebak pada lembah munafik. Karena itu, ulama mengkategorikan nifaq itu dalam dua jenis. Yang satu dijamin masuk neraka jahannam, kecuali dia bertobat. Jenis kedua, lebih ringan, hanya tetap jangan sampai kita meremehkannya. 

1. Nifak I’tiqodi

Sebentuk nifak dalam hati, di mana seseorang menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekafiran.

Bentuk Nifak I’tiqadi :

  • Mendustakan Rasul ﷺ
  • Mendustakan sebagian ajaran Rasul ﷺ
  • Benci pada Rasul ﷺ
  • Benci pada sebagian ajaran Rasul ﷺ
  • Senang melihat agama Rasul ﷺ direndahkan.
  • Tidak senang jika agama Rasul ﷺ mendapatkan kemenangan.

Mereka yang ada ciri-ciri tersebut, otomatis mengeluarkannya dari Islam dan kemunafikan seperti ini akan membuat seseorang berada kerak neraka di bawah orang kafir, Yahudi dan Nasrani, naudzubillahi min dzaalik, sebagaimana firman Allah dalam Qur’an, surat An-Nisa ayat 145,

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ

Sesungguhnya, orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka,

 

2. Nifak ‘amali

Nifak ini tidak dihukumi kafir karena wujudnya hanya nampak dalam sifat lahiriyahnya dan tidak nampak pada batinnya. 

Contoh:
Seseorang yang menampakkan dirinya shalih ketika berada di khalayak ramai. Namun ketika sendiri, ia jauh berbeda.

Oleh karena itu Al Hasan Al Bashri mengatakan,

مِنَ النِّفَاقِ اِخْتِلاَفُ القَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَاخْتِلاَفُ السِّرِّ وَالعَلاَنِيَّةِ ، وَاخْتِلاَفُ الدُّخُوْلِ وَالخُرُوْجِ

“Di antara tanda kemunafikan adalah berbeda antara hati dan lisan, berbeda antara sesuatu yang tersembunyi dan sesuatu yang nampak, berbeda antara yang masuk dan yang keluar.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 490)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: (1) jika diberi amanat, khianat; (2) jika berbicara, dusta; (3) jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; (4) jika berselisih, dia akan berbuat zalim. (HR. Muslim no. 58)

2.1. Jika Bicara, Dusta

Dusta itu serangkai dengan kejahatan atau kesalahan di hadapan manusia. Pada dasarnya, siapapun yang memiliki iman atau fitrah imannya masih hidup, akan malu jika berbuat salah. Karena itu, seseorang kemungkinan akan menutupi kesalahannya, yakni dengan dusta. Namun, dia lupa, kalau orang bisa percaya padanya, Allah Swt. Maha Tahu apa yang ada dalam dada kita, dan kita tidak bisa membohongi diri sendiri dengan rasa bersalah akibat berbohong itu. Dia berbohong, seolah Allah Swt. tidak tahu. 

Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)

Rasulullah Saw. telah mengabarkan pada kita 1,5 abad lalu soal fakta kebohongan. Tugas kita beriman padanya. Namun, ilmu pengetahuan dapat menguatkannya. Seorang profesor dari departemen Psikologi Pendidikan dan Konseling Univ. McGill, Victoria Talwar, dalam bukunya “The Truth About Lying” (2022) mengatakan, “Secara umum kebohongan terjadi karena alasan mementingkan diri sendiri hingga altruistik”. Dia selanjutnya mengelompokkan kebohongan dalam beberapa kategori;

  • kebohongan untuk menghindari dampak buruk/hukuman
  • kebohongan untuk kepentingan pribadi
  • kebohongan untuk merawat citra
  • kebohongan untuk bersikap sopan
  • kebohongan untuk membantu orang lain atau kelompok
  • kebohongan altruistik.

Sedangkan yang menjadi pemicunya, secara umum, ada beberapa hal;

  • Takut kena hukuman (misal: ketika anak memecahkan gelas ayahnya)
  • Benturan kepentingan (misal: ketika pengajuan di kantor, sementara dapur di rumah tidak ngebul)
  • Cari perhatian (misal: anak pura-pura sakit, flexing harta)
  • Menginginkan sesuatu (misal: anak pura-pura menghilangkan mainannya biar dibelikan mainan baru)
  • Ingin dihargai (misal: ijazah palsu)
  • Jaga perasaan = kebohongan putih (misal: memuji karya teman ‘bagus” padahal, biar cepet aja)

Dalam Islam, pada dasarnya, semua kebohongan itu dosa kecuali dalam tiga kondisi:

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, “Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).”  (HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

(bersambung)

 

Wallahu a’lam bi shawwab

________

Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada Majelis Percikan Iman di Masjid Peradaban Percikan Iman, setiap Ahad

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *