Definisi Sukses dalam Perspektif Islam

Percikan Iman – Sudah lazim tersebar di masyarakat bahwa sukses ialah ketika kita memiliki harta (kaya raya, rumah mewah, mobil mewah), tahta (jabatan, tenar), dan wanita (pasangan yang rupawan).

Wajar jika masyarakat berpikir seperti itu. Di ruang-ruang akademik, kita dapat menemukan pelajaran yang bersumber dari Abraham Maslow, memang seperti itu. Itulah Teori Hierarki Kebutuhan Manusia.

Pada dasarnya, semua orang menginginkan hidup sukses, itu hal yang wajar. Namun, kami mengajak agar yang di atas (harta, tahta, dan wanita) agar jangan sampai menjadi tujuan. Bahayanya seseorang akan melakukan berbagai cara, tanpa mengindahkan aturan jika ketiga hal tersebut menjadi tujuan.

Mari kita coba buka kembali Al-Qur’an. Di sana, Allah S.W.T. sudah menetapkan wujud sukses yang sejati. Sukses menurut Al-Qur’an erat hubungannya integritas kepribadian: jujur, baik, dan sholeh.

Dalam ayat Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 25 Allah S.W.T. berfirman

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗوَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Sampaikan kabar gembira kepada orang-orang beriman dan berbuat kebajikan bahwa mereka disediakan surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi buah-buahan serupa (tetapi tidak sama dengan buah-buahan di dunia). Di surga, mereka juga memperoleh pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.

Kemudian, Allah S.W.T. mengajarkan pada kita jika kesuksesan itu bukan ketika kita memiliki banyak harta, namun ketika kita mengelolanya sesuai dengan kehendak-Nya.

Dalam Al-Qur’an, kita akan menemukan kisah orang kaya yang dalam menggunakannya tidak sesuai dengan ketentuan Allah S.W.T. akibatnya, Allah S.W.T. memerintahkan bumi untuk menelan diri dan seluruh kekayaannya. itulah Qarun

اِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْ ۖوَاٰتَيْنٰهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَآ اِنَّ مَفَاتِحَهٗ لَتَنُوْۤاُ بِالْعُصْبَةِ اُولِى الْقُوَّةِ اِذْ قَالَ لَهٗ قَوْمُهٗ لَا تَفْرَحْ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

Sesungguhnya, Qarun termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku zalim terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan harta yang banyak kepadanya sehingga kunci-kunci gudang hartanya sangat berat sekalipun dipikul oleh sejumlah orang kuat. Ingatlah, ketika kaumnya berkata kepadanya, “Jangan kamu terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri.” (Al-Qasas:76)

Kemudian, di zaman Rasulullaah S.A.W. kita dapat menemukan kisah Tsa’labah. Seorang sahabat yang meminta pada Rasulullah S.A.W. untuk dido’akan menjadi orang kaya. Namun, pada gilirannya kemudian, di saat kekayannya melimpah, dia lupa memenuhi haknya. Kisahnya Allah S.W.T. abadikan dalam surat At-Taubah ayat 75-77

۞ وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Di antara mereka, ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya, jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pasti kami termasuk orang-orang saleh.”

فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ

Ketika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada mereka, mereka menjadi kikir dan berpaling serta menentang kebenaran.

فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَآ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Allah tanamkan jiwa kemunafikan dalam hati mereka sampai mereka menemui-Nya karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan selalu berdusta.

Di Al-Qur’an, Allah S.W.T. memberikan kita pelajaran melalui kisah Fir’aun. Dia salah satu penguasa besar di zamannya. Namun, dia justru menggunakan kekuasaannya untuk berlaku zhalim. Kisahnya, dapat kita temukan salah satunya dalam surat An-Nazi’at ayat 17-25

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ

pergilah kamu kepada Fir‘aun! Sungguh, ia telah melampaui batas,

فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ

Katakanlah kepadanya, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri dari kedurhakaan,

وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ

akan aku tunjukkan ke jalan Tuhanmu agar kamu takut kepada-Nya?”

فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ

Lalu, Musa memperlihatkan kepada Fir‘aun mukjizat besar.

فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ

Tetapi, Fir‘aun mendustakan dan mendurhakai.

ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ

Kemudian, ia berpaling seraya menantang Musa.

فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ

Kemudian, ia mengumpulkan pembesar-pembesarnya, lalu berseru memanggil kaumnya,

فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ

seraya berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ

Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia.

Di sisi lain, Allah S.W.T. memberikan kita kisah mereka-mereka yang mendapatkan kebahagiaan atau kesuksesan yang sebenarnya, yang sejati. Di antaranya, kita dapat temukan pada kalangan sahabat.

Meski dia budak belian, namun orang-nya sholeh, Allah S.W.T. berikan padanya kemuliaan di dunia dan kemuliaan di akhirat. Ialah Bilal bin Rabah. Ia sosok yang terompahnya terdengar di surga karena tekun melaksanakan shalat sunnah setiap selesai wudhu. Ia sosok orang biasa, namun tekun beribadah pada Allah S.W.T.

Juga, ada contoh lainnya dari kalangan hartawan. Ialah Abdurrahman bin Auf yang pernah meng-infakan hasil penjualan tanahnya senilai 40.000 dinar demi kepentingan Islam.

Dari berbagai kisah tersebut, kita dapat menyimpulkan, jika sukses itu ialah manakala kita mencapai tujuan hidup sebagaimana terangkum dalam surat Al-Baqarah ayat 201:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Di antara mereka juga ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Untuk mencapainya, ada dua jalan, yakni beribadah dan berdo’a kepada Allah S.W.T. dengan menjalankan peran khalifatu fil ardh; mengelola bumi sesuai kehendak Allah S.W.T.

Tulisan merupakan resume dari Materi Kajian Tematik yang disampaikan oleh Ustadz Dudi Nashrudin pada Momen MPI 24 Juli 2022

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *