Di Sini, Nenek-Kakek pun Bisa Menghafal Qur’an Dengan Bahagia

Percikan Iman – Katanya menghafal di usia senja itu sulit, “Hafal enggak, tensi yang naik”. Namun, di sini, di momen I’tikaf Perdana Masjid Peradaban Percikan Iman, meski kesulitan, nenek-kakek bisa menghafal Qur’an dengan bahagia.

Berupaya keras bagi remaja atau pemuda masih tertunjang dengan energi besar. Namun, bagaimana dengan mereka yang sudah berusia senja? Apalagi konsep I’tikaf Masjid Peradaban bukan sekadar I’tikaf biasa, melainkan menjadi semacam pesantren.

Ya, pesantren..

Tepatnya, “Pesantren Husnul Khotimah”

Selama sepuluh hari, peserta yang hadir menjalani sehari-hari layaknya santri. Bukan hanya qiyamullail, tadarus perseorangan, melainkan juga harus mencapai target-target tertentu. Belum lagi mereka harus “menyantap” sajian ilmu yang menurut penulis, materinya cukup padat.

Lantas, bagaimana peserta yang berusia senja tersebut dapat mengikuti pesantren? Bagaimana mereka menghafal? Bagaimana mereka dapat menyerap materi-materi yang cukup padat tersebut?

Betul.. Menghafal bagi mereka yang berusia senja bisa jadi memang jadi lebih sulit ketimbang bagi mereka yang masih remaja. Yang lebih mudah sudah hafal lima belas ayat dalam satu hari, yang berusia senja, satu pun nampak kesulitan.

Bedanya, di sini, meski kesulitan, seyum bahagia masih dapat penulis lihat di wajah-wajah mereka. Meski belum hafal, bapak – ibu peserta I’tikaf dapat tertawa bersama yang lainnya.

Dalam proses menghafal bersama, peserta dipersilahkan untuk duduk se-rileks mungkin. Yang tidak kuat duduk lama di lantai, panitia menyediakan kursi lipat. Sebagian mereka juga ada yang berinisiatif membawa sejadah lipat dengan sandaran.

Bisa jadi, pengondisian itu lah yang menjadi salah satu faktor bahagia. Ketika rileks, peserta jadi lebih menikmati proses.

Kemudian, bisa jadi senyum itu merupakan indikator jika peserta sudah ada dalam tahap menikmati proses. Karena begitulah, mencari ilmu itu adalah ibadah tersebdiri. Tugas kita belajar, Allah S.W.T. yang memberii ilmunya, begitu kata guru kita Ustadz Aam Amirudin.

“Saya mah suka iri sama orang yang kesulitan belajar seraya terus berjuang,” tutur Ustadz Aam dalam beberapa kesempatan, “karena mereka pahalanya banyak. Itu karena Allah S.W.T. menilai bukan dari hasil, melainkan sejauh mana kita berupaya.”

Di sini, kelelahan bukan kendala, usia bukan kendala karena kelelahan itu nyatanya nikmat, kesulitan itu nikmat. Tetap sulit, namun karena kita dapat memilih untuk menikmatinya.

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *