Embracing Failure

Percikan Iman – Merantau dari kampung halaman, berharap menggapai kesuksesan di Jakarta, nyatanya setelah bertahun-tahun berjuang, kesuksesan yang dibayangkan belum terlihat secercah-pun. Buka lapak di Tanah Abang, sepi, konon karena masyarakat sedang menahan sebagian besar uangnya untuk kebutuhan yang lebih pokok. Rasanya, ingin pulang saja, namun malu pada orang di kampung; pulang malu, tak pulang rindu.  

Nyatanya, jalan menuju kesuksesan tak melulu mulus. Penuh kerikil dan juga jalan berlubang. Juga, kadang menghabiskan bekal di tengah jalan. Itulah realitanya. Hanya, sebagian orang memutuskan berhenti di tengah perjalanannya, menyerah melanjutkan perjalanan, kemudian kembali ke titik mula. Padahal, semua jalan menuju puncak itu memang tak ada yang mulus sehingga bisa membuat seseorang terjatuh. Kita hanya harus menerimanya atau kita mengakuinya. 

Bicara soal kegagalan dan kesalahan, tahukah Anda, Islam adalah ajaran yang mengakui eksistensi kesalahan dan mengajarkan kita untuk mengakui kesalahan. Fitrahnya, kita malu ketika berbuat kesalahan atau gagal sehingga tak jarang, kita malah menutup-nutupi kesalahan, bahkan dari diri sendiri dengan berdalih atau menyalahkan orang lain. “Itu sih gara-gara aplikasi LIVE, jadinya pasar sepi sekarang”. 

Padahal, mengakui kesalahan merupakan awal kemenangan di kesempatan berikutnya. 

Kalau Anda coba telaah Al-Qur’an, di sana kita akan menemukan, bukan saja kesalehan para Nabi, namun juga kesalahan-kesalahannya. Misal, teguran Allah Swt. secara langsung pada Rasulullah Saw. dengan turunnya surat Abasa. Saat itu Rasulullah Saw. sedang menyampaikan dakwah pada para pembesar Quraisy. Karena merasa itu momen penting, sampai-sampai Rasulullah Saw.  mengabaikan sahabatnya yang buta, Abdullah bin Ummi Maktum Ra., yang membutuhkan petunjuk dari beliau. Kisahnya dapat kita lihat dalam Qur’an, surat Abasa ayat 1-11.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ

Muhammad berwajah masam dan berpaling,

اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ

karena seorang buta telah datang kepadanya.

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ

Tahukah kamu (Muhammad) barangkali ia ingin menyucikan dirinya dari dosa,

اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ

atau ia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya?

اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ

Kepada orang yang merasa dirinya serbacukup (para pembesar Quraisy),

فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ

kamu (Muhammad) memberi perhatian kepadanya,

وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ

padahal kamu tidak tercela sekiranya pembesar Quraisy tidak beriman.

وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ

Adapun kepada orang yang datang kepadamu dengan bersegera untuk mendapatkan pengajaran,

وَهُوَ يَخْشٰىۙ

dan ia takut kepada Allah,

فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ

kamu (Muhammad) mengabaikannya.

كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ

Jangan begitu! Sungguh, ajaran-ajaran Allah itu suatu peringatan,

Kesalahan itu merupakan mata rantai yang dimulai sejak manusia sekaligus Nabi pertama, Adam As. Yakni saat beliau terperdaya oleh Iblis untuk memakan buah terlarang. Kemudian, kesalahan Nabi Musa As. yang menghasratkan untuk melihat dzat Allah Swt. Terus, ada juga Nabi Daud As. yang memanfaatkan kewenangannya selaku raja demi memenuhi keinginannya. Yang tak kalah masyhur, adalah kisah Nabi Yunus As. yang “pundung” lantaran umatnya acuh terhadap seruan beliau untuk menyembah Allah Swt.  

Bayangkan jika Anda ada di posisi Rasulullah Saw. yang tegurannya itu hanya diterima oleh diri beliau Saw., sementara beliau Saw. ada seorang Rasul. Artinya, yang beliau terima dalam bentuk teguran itu wahyu yang wajib disampaikan pada umatnya. Seandainya, orang yang tidak ada di iman yang ada posisi beliau, bisa-bisa karena “malu”, ditahannya itu wahyu. “Bisa-bisa turun kredibilitas”

Namun, iman mendorong Rasulullah Saw. tetap menyampaikan pada umatnya bahwa diri beliau ditegur oleh Allah Swt. dan disebut-sebut hingga akhir zaman. 

Ketika Allah Swt. hukum diturunkan ke bumi, Nabi Adam As. pun tidak melakukan pembelaan atas dirinya, langsung mengakui kesalahannya. Sebagaimana terangkum dalam Qur’an, surat Al-A’raf ayat 19-23, Allah Swt. berfirman:

وَيٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Allah berfirman, “Hai, Adam! Tinggallah kamu bersama istrimu dalam surga dan makanlah apa saja yang kamu berdua sukai. Namun, janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. Apabila didekati, kamu berdua termasuk orang-orang zalim.”

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْاٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ ِالَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ

Kemudian, setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya agar terbuka aurat mereka berdua yang selama ini tertutup. Setan berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal dalam surga.”

وَقَاسَمَهُمَآ اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ

Setan bersumpah kepada keduanya, “Sungguh, aku ini benar-benar sebagai penasihatmu.”

فَدَلّٰىهُمَا بِغُرُورٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْاٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Ketika keduanya mencicipi buah pohon itu, tampaklah aurat mereka. Maka, mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarangmu dekat dengan pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa setan adalah musuh nyata bagi kamu berdua?”

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pasti kami termasuk orang-orang rugi.”

Pun Nabi Musa As. mengakui kesalahannya, sebagaimana terangkum dalam Qur’an surat Al-A’raf ayat 143,  Allah Swt. berfirman:

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Ketika Musa datang untuk bermunajat pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” Allah berfirman, “Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), pasti kamu dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan keagungan-Nya pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah sadar, Musa berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.

Sedang kesalahan Nabi Daud As. sendiri bermula ketika Nabi Daud As. berhasrat menggenapkan istrinya menjadi 100. Sementara, perempuan yang ia hasratkan menjadi istri merupakan istri dari salah satu ksatria beliau As. Dengan kewenangannya, Nabi Daud As. memerintahkan panglima beliau itu untuk ke medan perang dengan harapan sang panglima syahid, dan istrinya pun menjadi janda sehingga bisa dinikahi. Karena perbuatannya tersebut, Allah Swt. memperingati Nabi Daud As. dengan mengirimkan dua malaikat ke mihrab tempat ibadah beliau As. Dalam Qur’an, surat Shad ayat 22 – 24, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِذْ دَخَلُوْا عَلٰى دَاوٗدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوْا لَا تَخَفْۚ خَصْمٰنِ بَغٰى بَعْضُنَا عَلٰى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَآ اِلٰى سَوَاۤءِ الصِّرَاطِ

Ketika mereka masuk menemui Daud, lalu ia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, “Jangan takut! Kami berdua sedang berselisih. Sebagian kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan yang adil di antara kami dan jangan menyimpang dari kebenaran serta tunjukkan kepada kami jalan yang lurus.

اِنَّ هٰذَآ اَخِيْ ۗ لَهٗ تِسْعٌ وَّتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَّلِيَ نَعْجَةٌ وَّاحِدَةٌ ۗفَقَالَ اَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِيْ فِى الْخِطَابِ

Sesungguhnya, saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja, lalu ia berkata, Serahkanlah kambingmu itu kepadaku!’ Ia mengalahkanku dalam perdebatan.”

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ اِلٰى نِعَاجِهٖۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْۗ وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَاكِعًا وَّاَنَابَ ۩

Daud berkata, “Sungguh, ia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Hanya sedikit di antara mereka yang berbuat begitu.” Daud menduga bahwa Kami mengujinya. Ia pun memohon ampunan kepada Tuhannya, lalu menyungkur sujud dan bertobat.

فَغَفَرْنَا لَهٗ ذٰلِكَۗ وَاِنَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰبٍ

Lalu, Kami mengampuni kesalahannya. Sungguh, ia mempunyai kedudukan yang sangat dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Selanjutnya, kisah Nabi Yunus As. atau Dzun Nun. Beliau meninggalkan medan dakwah karena upayanya tak berujung pada penerimaan kaumnya. Skenario Allah Swt. mengantarkannya pada tiga kegelapan di perut ikan Nun atau paus besar. Di sana, belaiu menyadari kesalahannya dan mengakuinya. Kisah lengkapnya dapat kita temukan di surat As-Shaffat ayat 139-148. Namun, fokus bahasan kita adalah mengenai pengakuan kesalahan beliau, yang terdapat pada surat Al-Anbiya ayat 87, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ

Ingatlah kisah Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah. la menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. la pun berdoa dalam keadaan sangat gelap, “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang zalim.”

Setiap manusia, termasuk Nabi dan Rasul sekalipun tak lepas dari kerikil yang bisa membuat terpeleset atau beban yang begitu berat sehingga ingin melepaskannya. Namun, karena itu keniscayaan, maka tidak ada yang salah dengan berbuat salah, kecuali dalam menyikapinya. Jika takdir harus kita terima, kesalahan adalah untuk kita akui. Setelah itu, terbukalah pintu-pintu kebaikan bagi kita. Sebagaimana terbukanya ampunan bagi Nabi Adam As., pintu kemuliaan bagi Daud As. dan Musa AS., kemenangan dakwah bagi Nabi Yunus As.

Pada akhirnya, kita pun seyogyanya menyadari, bahwa manusia memang tak luput dari salah dan khilaf, bahkan para Nabi dan Rasul. Hanya, kita membutuhkan runtuhnya ego dalam diri untuk mengakui kesalahan dan memohon ampun pada Allah Swt. atau meminta maaf jika terkait dengan relasi dengan sesama. Jika perbuatan tersebut menyangkut aib, yakni kemaksiatan dalam bentuk fahsya dan munkar, maka jagalah agar sampai terungkap ke publik. Cukup Allah Swt. dan pihak terkait yang tahu. 

Namun, jika terlanjur terbuka, bisa jadi itu takdir dari Allah Swt. agar dapat menjadi pelajaran bagi semua manusia, dengan Anda sebagai mediumnya atau bisa jadi sebagai bentuk penghapusan dosa. Terlepas apakah orang lain menyebarkannya dengan sengaja, itu urusan dia dengan Allah Swt. 

Kesalahan yang menghantar pada kegagalan, pada akhirnya merupakan bagian dari perjalanan hidup. 

“Kesalahan bukan untuk kita tutup-tutupi, melainkan untuk kita akui kemudian perbaiki”

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *