Etika Dakwah Internet dan Sosial Media


Memberi faidah ilmu atau nasehat singkat baik melalui Messenger (WA dam Telegram) dan Sosial media (IG, Line, Twitter, FB, Pinterest) adalah amal mulia, salah satu bentuk cara dakwah yang populer saat ini. Namun ada yang perlu diperhatikan terkait dengan perbuatan ini, diantaranya adalah beberapa hal berikut:

1. Niat. Ini penting. Bahkan lebih penting dari amal shaleh itu sendiri. Hendaknya dilakukan dengan ikhlas; ber-mujahadah (bersungguh-sungguh) melawan niat riya, pamer, ingin dipuji, atau dapat jempol banyak dan lain-lain. Mengapa harus ber-mujahadah? Karena mengikhlaskan niat itu tidak mudah. Sufyan Atsauri berkata, “Tidak ada sesuatu yang paling sulit aku hadapi selain niatku, karena ia senantiasa berbolak-balik.” Jangan sampai, niat mulia menebar ilmu berubah menjadi pamer ilmu atau sekedar memuaskan nafsu dikenal dan di-like.

2. Memastikan bahwa pesan, ilmu atau nasehat itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Misalkan terdapat dalil  Al Qur’an, Sunnah atau perkataan para sahabat. Jagalah amanah ilmiah. Hendaknya selalu berusaha mencantumkan sumber dari mana ilmu atau faidah itu kita dapatkan dengan bertanggung jawab. Kalaupun berawal dari konten copy-paste, pastikan mengetahui betul maksud dan kebenarannya.

3. Menjaga akhlak mulia. Walaupun dalam bentuk tulisan, tetaplah memperhatikan sopan santun dan etika; tidak mengandung celaan, kata-kata kasar dan bermuatan menjatuhkan kehormatan orang lain. Jangan memposting dengan sengaja untuk membuat hiruk-pikuk perdebatan apalagi dengan dalih banyak yang datang dan melihatnya.

4. Mempertimbangkan maslahat dan mafsadat serta tepat sasaran. Pilihkan konten atau isi yang sesuai dengan kondisi waktu dan permasalahan sehingga lebih membantu kepada netizen untuk semangat belajar dan memahami.