Gambar Galeri Dakwah Percikan Iman



Waspadailah Penghapus Pahala Sedekah

Tidak diragukan lagi bahwa bersedekah memiliki nilai amal lebih tersendiri. Namun perlu diwaspadai, jangan sampai pahala sedekah yang melimpah menjadi terhapus sia-sia.

Allah ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (QS.2:264)

Tiga Perbuatan Penghapus Pahala Sedekah

Dalam ayat di atas, Allah menjelasakan ada tiga perbuatan yang dapat menghapus pahala sedekah :

Pertama. ( ِالْمَنِّ) al mann
Menyebut-nyebut pemberian sedekah. Adalah menyebut-nyebut pemberian sedekah di hadapan orang yang diberi sedekah untuk menunjukkan kelebihan dirinya dibanding orang yang diberi sedekah tersebut.

Seperti misalnya si A memberikan sedekah kepada si B. Dia selalu menyebt-nyebut sedekah pemberiannya tersebut di hadapan si B. Seperti ini adalah termasuk perbuatan ( ِالْمَنِّ) al mann yang tercela seperti tersebut dalam ayat di atas. Perbuatan ini mencakup seluruh bentuk sedekah, baik itu sedekah terhadap teman, tetangga, kerabat, maupun istri dan anak-anaknya.

Rasulullah SAW juga bersabda :

 ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ، ولا ينظر إليهم ، ولا يزكيهم ، ولهم عذاب أليم ، قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرار . قال أبو ذر : خابوا وخسروا . من هم يا رسول الله ؟ قال : المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

“ Ada tiga golongan, yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak akan Allah lihat, dan tidak akan Allah sucikan, serta baginya adzab yang pedih. Rasulullah mengulang sebanyak tiga kali. Abu Dzar bertanya : Siapa mereka wahai Rasulullah ? Sabda beliau : Al musbil (lelaki yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki, al mannaan (orang yang suka menyebut-nyebut sedekah pemberian), dan pedagang yang bersumpah dengan sumpah palsu” (H.R. Muslim:106)

Kedua. (َالَّذِي ) al adzaa
Menyakiti orang yang diberi sedekah. secara bahasa maknanya adalah setiap perbuatan yang merugikan atau menyakiti orang lain, baik dalam hal agamanya, kehormatannya, badannya, maupun hartanya. Adapaun (َالَّذِي ) al adzaa yang menghapus pahala sedekah yaitu bersikap sombong terhadap orang yang diberi sedekah dan menyakitinya dengan kalimat yang menyakitkannya, atau dengan sesuatu yang mencela kehormatannya dan merendahkan kemuliaan dan kedudukan orang tersebut.

Ketiga. ( الرياء ) ar riyaa’
Perbuatan riya’.  Perbuatan seorang hamba menampakkan amalnya kepada manusia karena ingin mendapat pujian. Jika seseorang riya’ dalam amalan sedekahnya maka akan menghapus pahala sedekah tersebut. Bahkan perbutan riya’ tidah hanya dalam masalah sedekah saja. Riya’ dapat terjadi pada setiap amal dan menghapus pahala amal tersebut.

Waspadailah saudaraku, ketiga perbuatan tersebut dapat merusak pahala sedekah yang kita lakukan



Memberi faidah ilmu atau nasehat singkat baik melalui Messenger (WA dam Telegram) dan Sosial media (IG, Line, Twitter, FB, Pinterest) adalah amal mulia, salah satu bentuk cara dakwah yang populer saat ini. Namun ada yang perlu diperhatikan terkait dengan perbuatan ini, diantaranya adalah beberapa hal berikut:

1. Niat. Ini penting. Bahkan lebih penting dari amal shaleh itu sendiri. Hendaknya dilakukan dengan ikhlas; ber-mujahadah (bersungguh-sungguh) melawan niat riya, pamer, ingin dipuji, atau dapat jempol banyak dan lain-lain. Mengapa harus ber-mujahadah? Karena mengikhlaskan niat itu tidak mudah. Sufyan Atsauri berkata, “Tidak ada sesuatu yang paling sulit aku hadapi selain niatku, karena ia senantiasa berbolak-balik.” Jangan sampai, niat mulia menebar ilmu berubah menjadi pamer ilmu atau sekedar memuaskan nafsu dikenal dan di-like.

2. Memastikan bahwa pesan, ilmu atau nasehat itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Misalkan terdapat dalil  Al Qur’an, Sunnah atau perkataan para sahabat. Jagalah amanah ilmiah. Hendaknya selalu berusaha mencantumkan sumber dari mana ilmu atau faidah itu kita dapatkan dengan bertanggung jawab. Kalaupun berawal dari konten copy-paste, pastikan mengetahui betul maksud dan kebenarannya.

3. Menjaga akhlak mulia. Walaupun dalam bentuk tulisan, tetaplah memperhatikan sopan santun dan etika; tidak mengandung celaan, kata-kata kasar dan bermuatan menjatuhkan kehormatan orang lain. Jangan memposting dengan sengaja untuk membuat hiruk-pikuk perdebatan apalagi dengan dalih banyak yang datang dan melihatnya.

4. Mempertimbangkan maslahat dan mafsadat serta tepat sasaran. Pilihkan konten atau isi yang sesuai dengan kondisi waktu dan permasalahan sehingga lebih membantu kepada netizen untuk semangat belajar dan memahami.

 



Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun).

Lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari no. 2506).

Shaum (Puasa) Sunnah sesuai Syariah, diantaranya .


1. Puasa Senin Kamis (HR.Tirmidzi no.747)
.
2. Puasa Daud (HR.Bukhari no.3420, Muslim no.1159
.
3. Puasa Ayyamul Bidh (HR.Bukhari no.1178)
.
4. Puasa Syawal (HR.Abu Dawud no.2438, Tirmidzi no.757)
.
5. Puasa Arafah (HR.Muslim no.1162)
.
6. Puasa Bulan Sya'ban (HR.Bukhari no.1970, Muslim no.1156)
.
7. Puasa Tasu'a (HR.Muslim no.19160)
.
8. Puasa Asyura (HR.Muslim n0.1163)
.
.
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (agama), maka Allah akan mudahkan untuknya jalan ke Syurga"
 



Delapan Amal Kegiatan yang Melelahkan tapi Membuat Masuk Syurga



Sedekah Akan Membuatmu Kaya



Nabi Muhammad SAW bersabda : Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani)

“Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Bukhari Muslim)



Jangan Jadikan Rumah Kita Seperti Kuburan



Caranya adalah :

Segera ISTIGHFAR
Ikhlas BERHENTI & Menyesalinya

MENJAUHI Sebab-sebab Dosa
Perbanyak AMAL Shalih
Mohon MAAF utk yg Terzalimi
BERKUMPUL di lingkungan Shalih
Terus Memperdalam ILMU
BERDOA Tanpa Putus Asa



Banyak pahala kebaikan yang bisa kawan perolah di hari Jum'at. Berikut ini beberapa amalan istimewa di hari Jum'at:

1. Membaca surat al-Kahfi pada malam Jum'at. Dibolehkan membacanya di siang hari bila tidak sempat membacanya di malam hari (HR. Ad-Darimi, An-Nasa'i, Al Hakim)

2. Membaca surat As-Sajdah dan surat Al-Insan dengan sempurna pada dua rakaat shalat Shubuh (HR. Bukhari dan Muslim dan yang lainnya)

3. Memperbanyak shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. (HR. Abu Dawud) demikian juga disunnahkan memperbanyak dzikir maupun membaca Al-Qur'an.

4. Dianjurkan mandi besar sebelum berangkat shalat Jum'at (HR. Muslim)

5. Memakai wewangian, bersiwak atau menggosok gigi, serta mengenakan pakaian yang paling baik. (HR. Ahmad) Disunnahkan pula memotong kuku dan rambut.

6. Berangkat lebih awal menuju masjid. (HR. Muttafaqun 'alaih). Saat sahabat masuk masjid disunnahkan mengerjakan shalat dua rakaat terlebih dahulu sebelum duduk mendengarkan khutbah. Hal ini berlaku sekalipun khutbah sedang berlangsung. (HR. Muslim)

7. Wajib mendengarkan khutbah dengan khidmat. Bagi sahabat yang sibuk sendiri dengan bermain-main HP atau bercakap-cakap dengan teman pada saat khutbah sedang berlangsung, maka jum'atnya sia-sia. (Muttafaqun 'Alaih)

8. Doa mustajab di penghujung hari Jum'at/menjelang Maghrib. (Muttafaqun 'Alaih)



Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ، اثْنَانِ فِي النَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ: رَجُلٌ عَلِمَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ جَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ

Hakim-hakim itu ada tiga, dua di neraka dan satu di surga : Seorang hakim yang mengetahui kebenaran, lalu dia memutuskan hukum dengan kebenaran, maka dia di surga; Seseorang (hakim)  yang memutuskan hukum dengan kebodohan, maka dia di neraka; Dan seorang (hakim) yang menyimpang di dalam keputusan, maka dia di neraka” [HR. Ibnu Majah, no. 2315; Tirmizi, no. 1322; Abu Dawud, no. 3573]

Maka para hakim hendaklah waspada, serta senantiasa berusaha mencari keridhaan Allâh dan itulah yang lebih utama dibandingkan kesenangan dunia yang sementara. Memberikan putusan yang benar berdasarkan syari’at-Nya itu yang menjadi kewajiban mereka. Semoga Allâh selalu menjauhkan kita dari segala keburukan dan memudahkan kita di dalam kebaikan.

Prev | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | Next