Kapankah Sakit dianggap Pengurang Dosa ?

Sakit sebagai penghapus dosa jika kita mendekatkan diri pada Allah. Misalnya: Orang sakit jadi rajin ibadah, memperbanyak doa maka dalam kedaan sakit yang demikian tersebut maka pantas bila sakitnya menjadi kaffarat atau penutup atau penghapus dosa. Tapi kalau dalam sakitnya, sholat ditinggalkan, berdoa tidak pernah, lalu apanya yang menjadi penghapus??

Kapan sakit itu menjadi penghapus dosa dan kapan sakit itu menjadi adzab? Semua itu tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Sakitnya sama, misal kanker otak. Si A menyikapinya dengan meningkatkan amal-amalan sholeh maka sakitnya adalah ujian dan penghapus dosa.

Sedangkan si B sholatnya jadi nggak pernah, berdoa jarang, banyak mengeluh alias meninggalkan ajaran agama. Ini baru namanya adzab.

Jadi apapun yang menimpa kita, apakah mau jadi adzab atau ujian. Tergantung diri kita dalam menyikapinya. Setiap muslim yang terkena duri, tapi jika ia bersabar maka ssakitnya akan menjadi penghapus dosa baginya.


Wallahu A’lam

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kapankah Sakit dianggap Pengurang Dosa ?

Kalau usia kita sudah cukup untuk menikah, lalu berusaha mencari calon pasangan yang kira-kira cocok, itu merupakan amal yang mulia, sebab secara sunatullah kita membutuhkan pasangan. Namun kita pun harus sadar bahwa jodoh ada di tangan Allah swt., kita hanya diwajibkan berusaha.

Ikhtiar yang kita lakukan tentunya harus mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan. Bertanya masalah jodoh atau tentang hal-hal gaib lainnya kepada “orang pintar” (paranormal), haram hukumnya. Perhatikan keterangan berikut,
“Barangsiapa mendatangi “orang pintar” (paranormal), kemudian menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.” (H.R. Muslim)

Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa mendatangi seorang dukun kemudian mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah mengufuri apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.” (H.R. Muslim)

“Barangsiapa yang mendatangi paranormal atau dukun, kemudian mempercayai apa yang telah mereka katakan, maka ia telah mengufuri apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.” (H.R. Abu Daud)

“Tidak termasuk golonganku, yaitu orang yang meramal nasib dan minta diramal nasibnya, atau yang mempraktikkan perdukunan atau minta didukunkan, atau yang minta sihir atau disihirkan untuknya. Barangsiapa yang pergi kepada seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah mengufuri apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.” (H.R. Bazar)

Kesimpulannya, kita diperintahkan untuk berusaha mendapatkan jodoh yang saleh. Namun, upaya yang dilakukan harus islami. Bertanya masalah jodoh kepada “orang pintar”, dukun, peramal, atau paranormal hukumnya haram.

Humas PI

Humas PI

PERCIKAN IMAN ONLINE DIGITAL - Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667 | info@percikaniman.org

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *