Kesaksian Gua Tsur

Percikan Iman – Siapa yang meragukan kedudukan Rasulullah S.A.W. di mata Allah S.W.T.? Ia adalah cahaya yang sinarnya menarik para Malaikat sehingga senantiasa mengikuti Nabi Adam A.S. Ukiran namanya terlihat oleh Nabi Adam A.S. sudah tergantung si surga.

Nabi Muhammad S.A.W. ialah satu-satunya hamba yang Allah S.W.T. perkenankan bertemu dengan-Nya sebelum wafatnya. Disibakkan baginya tirai, lantas berjumpa Allah S.W.T. yang duduk di Arsy-nya. Ia juga yang Allah S.W.T. menjadi manusia pertama yang masuk ke dalam surga-nya dan umatnya mendapatkan keutamaan sebagai umat yang pertama kali masuk.

Namun, Rasulullah S.A.W. “Dia biarkan bersusah-susah”. Sejarah mencatat begitu banyak kesulitan yang sang kekasih Allah S.W.T. itu hadapi. Ia Dihinakan oleh tetangga dan kerabatnya, tak ketinggalan hinaan dan cercaan menyertai. Istri tercintanya dicabut nyawa di salah satu momen terberatnya. Wajahnya pernah tertusuk anak panah sehingga tertancaplah salah satu mata rantai di pipinya.

Begitu pula kala beliau menjalani salah satu perintah-Nya, hijrah ke Yastrib, yang nantinya berubah nama menjadi Kota Madinah. Dalam logika kebanyakan kita, seyogyanya seorang kekasih itu mendapatkan berbagai kemudahan.

Bukankah mudah bagi Allah S.W.T. menghantarkan kekasih-Nya Muhammad S.A.W. dengan buraq? Mungkin sekejap mata sampai. Bukankah mudah bagi Allah S.W.T. menurunkan makanan layaknya makanan dan minuman yang turun pada bani Israil; Manna  dan salwa. Bukankah mudah bagi Allah S.W.T. melupuhkan para pemburu kekasih-Nya sehingga tak lagi bisa mengejar?

Namun, mengapa Allah S.W.T. justru “membiarkan” kekasih-Nya mengendap-ngendap, menggunakan unta sahabat-nya, Abu Bakar As-Shiddiq. Mereka kemudian mengembil risiko menyewa penunjuk jalan penyembah berhala. Sedangkan untuk makanan, Allah S.W.T. “membiarkan” beliau mendapatkan bantuan dari Asma’ binti Abu Bakar.

Rasulullah S.A.W. bahkan harus repot-repot mengambil jalan ke arah Selatan, berlawanan dengan arah Kota tujuan. Sebagai bentuk ikhtiar beliau menghindarkan diri dari kejaran musuh.

Allah S.W.T. “membiarkan” para musuh-nya mampu mengejar mereka berdua hingga keduanya harus bersembunyi dalam gua yang tingginya hanya 1,5 meter, yang cukup menampung pas untuk keduanya.

Itu-lah gua Tsur yang terletak di salah satu gunung tertinggi di sekitar Mekah, tepatnya di sebelah selatan Mekah.

Rasulullah S.A.W. dan sahabatnya bersembunyi di dalamnya. Gua tersebut sangat kecil sebetulnya untuk menampung mereka berdua. Gambaran ukurannya tersebut dapat kita temukan dalam dialog Abu Bakr dengan Rasulullah S.A.W.

Wahai Rasulullaah, seandainya salah satu dari mereka melihat ke kakinya, niscaya ia akan melihat kita,” begitu, ucap Abu Bakr.

Sebagai kekasih Allah S.W.T. kok serepot itu sih?” Begitu mungkin respon pertama kita ketika mendengar kisah hijrah sang kekasih Allah S.W.T. tersebut.

Bisa jadi, begitulah memang bentuk kasih sayang Allah S.W.T. kepada hamba-hamba-Nya termasuk kita. Tidak melulu berupa kemudahan, namun justru dengan berbagai kesulitan dan ruang ikhtiar yang lapang. Dengan kesulitan, kita sadar. Dengan ikhtiar, kita memperoleh pahal sekaligus mendekatkan pertolongan-Nya.

Dialog kemudian berlanjut. Menangkap kekhawatiran sahabatnya, Rasulullah S.A.W. menenangkannya, “Wahai Abu Bakr, apa menurutmu jika ada dua orang, sementara Allah yang ketiganya?”

Di sisi lain, benar saja, para pengejar yang sudah sampai di pintu gua itu melihat ke arah kakinya. Ketika mereka melihat ke arah lubang persembunyian, di saat itu-lah Allah S.W.T. “samarkan” penlihatan mereka, seraya menurunkan malaikat-malaikatnya.

Di mulut gua tersebut, tiba-tiba tertutupi oleh sarang laba-laba. Di sana juga, ada sarang burung.

Pertolongan yang “sederhana”. Namun, begitulah sejarah mencatat. Bahkan, Allah S.W.T. mengabadikannya di dalam Al-Qur’an, surat At-Taubah ayat 40:

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah). Pada waktu itu, ia (Muhammad) merupakan salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua. Ketika itu, ia berkata kepada sahabatnya (Abu Bakar), “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantunya dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu. Allah juga menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Q.S. At-Taubah:40)

Begitulah, Gua Tsur menuturkan kesaksiannya bagaimana wujud kasih sayang Allah S.W.T. pada kekasih-Nya.

Tak lupa ia menitipkan pesannya, agar kita meng-akrabi sinyal-sinyal kasih sayang Allah S.W.T. di setiap dera masalah yang menghampiri kita. Caranya, bersabar dan mengekplorasi ruang-ruang ikhtiar yang Allah S.W.T. bukakan bagi kita, seraya menjaga prasangka baik kita pada-Nya. Dengan mengharap ridho-Nya, hingga Ia perkenankan pertolongan menghampiri kita.

Niscaya keselamatan, kebahagiaan, dan kemenangan bagi kita.


Tulisan merupakan serial artikel tempat-tempat di sekitar tempat ritual Haji

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *