Kesaksian Padang Arafah

Percikan Iman – Pria kukuh itu tiba-tiba terisak di tengah euforia kemenangan karena diumumkannya syariat telah tuntas turun dan tersampaikan. Isak-nya mengundang keheranan sahabat di sekitarnya. “Bukankah berarti kita sudah menang? Bukankah ini buah perjuangan kita?” begitu nampaknya yang mereka pikir.

Bukankah, ketika misi telah tuntas tertunaikan, itu berarti sang pembawa misi akan kembali ke tempat asal-nya?” begitu timpal pria kukuh itu lembut.

Seketika, semua tersadar, sang kekasih, tempat bertanya ketika buntu, tempat berkeluh ketika sendu itu akan berpulang ke haribaan-Nya.

Suhu panas yang melingkupi Arafah saat itu seketika menjadi kelabu. Jiwa yang selama ini tertaut dengan cinta berlandas keimanan itu seketika bergemuruh. Mereka sadar, mereka akan berpisah dengan manusia yang paling mencitai mereka, yang selama ini menautkan jiwa mereka dengan satu-satunya sumber cinta dan solusi, Allah S.W.T.

Kita mengenal sang “pelopor” isak-tangis itu dengan sebutan Abu Bakr As-Shiddiq, yang nama aslinya ialah Abu Quhafah. Dia pria dewasa yang pertama kali menyambut seruan sang kekasih Allah S.W.T. Muhammad S.A.W. yang dari fenomena itu-lah gelar “Abu Bakr” melekat padanya.

Tak sempat hari berganti, ia segera mengajak kalangan saudagar Makkah untuk kemudian turut serta dalam lokomotif Islam. Di antaranya ialah penyandang nama-nama besar, yang mendapatkan jaminan surga, Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf.

Dia juga yang senantiasa membenarkan apapun risalah yang Muhammad S.A.W., terutama ketika momen Isra’ dan Mi’raj. Ketika logika masyarakat menolak mentah-mentah kabar yang Rasulullah S.A.W. sampaikan, Abu Bakr membenarkannya, “Kalau Muhammad S.A.W. yang mengatakan, pasti benar,” tegasnya. Gelar As-Shiddiq tersemat padanya mulai hari itu.

Dia pula-lah satu-satunya sahabat yang tak pernah terkalahkan oleh sahabat yang paling sengit jiwa persaingannya, Umar bin Khathab. Dalam perlombaan tiba di masjid, dalam perlombaan lebih dulu beramal di satu shubuh, dan di kala infaq untuk jihad fii sabilillah. Ia selalu paling duluan di setiap amal.

Di sini-lah dia kala itu, di Padang Arafah, tempat di mana kemudian jutaan umat Islam berkumpul setiap tahunnya. Ia sesenggukan sendiri di tengah riuh kegembiraan. Cintanya pada sang Nabi, Rasulullah, rekan, sekaligus sahabatnya membukakan baginya tabir kabar sebelum tibanya bagi yang lain.

Di sini-lah dia, tempat di mana Allah S.W.T. dan para malaikat turun meng-amin-kan setiap munajat di momen wukuf. Tempat yang berat untuk tercapai karena pendakian mempersyaratkan kekuatan fisik yang memadai. Bukit berbatu dengan suhu yang bisa mencapai 49° Celcius, Jabal Rahmah.

Di musim haji tahun 10 Hijriah itu-lah, tertunaikan amanat Allah S.W.T. pada Rasul-Nya. 120.000-an sahabat yang kala itu hadir, akhir-nya harus merelakan kembali-nya sosok tercinta mereka. Figur suami teladan, figur ayah teladan, figur pedagang teladan, figur teman gurau, figur pedagang paling jujur, figur penglima paling kuat dan berani.

Para sahabat itu hampir saja terguncang kala kepergiannya, termasuk sahabat yang paling keras, Umar bin Khathab. Beruntung, pria kukuh itu jadi orang yang sadar di saat yang selalu tepat.

Sabar, sabarlah Umar! Dengarkan! ” kata Abu Bakr.

Abu Bakr kemudian menenangkan semua orang yang ada di sekitar rumah Rasulullah dengan mengatakan, “Saudara-saudara sekalian, barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tak akan pernah mati,”

Pria kukuh itu di kemudian hari ditakdirkan menjadi penerus, pengokoh pondasi dakwah. Yang kemudian, dengan ke-kukuhan-nya, syari’at tertegakkan, api fitnah mereda.

Di tempat itu, di padang tandus itu, pada momen haji itu, mereka berpisah dengan pecintanya. Namun, mereka sadar, rahmat itu harus sampai ke sampai ke penjuru bumi. Mereka sambung-menyambung meng-estafet-kan pesan dengan penuh kasih-sayang hingga akhirnya sampai pada kita.

Padang Arafah menjadi saksi, cinta-nya sang Rasul pada sahabat dan umatnya memang sulit kita gambarkan indahnya. Seandainya “keabadian” manusia itu eksis, peluang itu terbuka padanya lewat Jibril. Namun, rindunya pada Allah S.W.T., sebaik-baik asma, tiada bandingannya.


Artikel merupakan serial Tempat-tempat di sekitar tempat ritual Haji

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *