Melatih Jiwa Pemaaf

Percikan Iman – Ketenangan dalam rumah tangga, rupanya bukan kondisi otomatis seketika menikah, melainkan perlu upaya. Upaya yang dimaksud adalah menjaga hubungan baik dengan jalan komunikasi. Namun, komunikasi sering kali tersumbat lantaran ada kesalahan-kesalahan yang belum termaafkan. Untuk itu, jiwa pemaaf merupakan pondasi untuk membangun rumah tangga yang “sakinah”.

Soal jiwa pemaaf ini, Allah Swt mengajarkan kita lewat firmannya yang termaktub dalam Qur’an, Surat Ali Imron ayat  159,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ


Karena rahmat Allah, kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri darimu. Karena itu, maafkan mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertawakal.

Dari ayat tersebut, kita dapat menemukan, bahwa sikap keras serta berhati kasar akan menjauhkan manusia dari sekitar kita. Sebaliknya, sifat lemah lembut adalah kunci untuk mendekatkan mereka.

Ayat ini, berkaitan dengan peristiwa pasukan pemanah yang meninggalkan pos-nya. Akibatnya, kaum Muslimin mengalami kerugian yang besar. Untuk kasus sepenting ini, Allah Swt tetap memerintahkan Nabi-Nya untuk berlaku lembut, apalagi yang sifatnya tidak prinsipil, salah satunya di rumah tangga.

Di media massa, kita dapat dengan mudah menemukan berita perceraian karena hal sepele. Misal, istri lupa masak, malah senam zumba. Kemudian, cerai karena pasangan mendengkur. Tentu masih banyak kisah lainnya. Hanya, di sini, kita ingin menekankan, betapa keharmonisan dalam rumah tangga adalah hal yang mahal.

Untuk itu, ketika kita akhirnya Allah takdirkan mendapatkan pasangan lewat pernikahan, alangkah baiknya, jika kita senantiasa memabngun kapasitas berumah tangga sehingga kita tidak dengan mudah memutuskan tali pernikahan yang mulia.

Pada dasarnya, sebagaimana istri, suami juga manusia yang pasti berbuat salah, pasti berbeda pandangan, dan semua itu pintu-pintu konflik jika tak disikapi dengan lapang dada. Karena itu, penting, untuk setiap pasangan untuk melapangkan dada-nya agar dapat mengendalikan diri  kala kita menemukan kesalahan pada pasangan kita. 

Berikut, adalah “menu latihan” untuk melatih jiwa pemaaf.

Pertama, pahami bahwa pasangan kita adalah manusia yang pasti berbuat salah dan lupa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَوْ أَنَّ اْلعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا، لَخَلَقَ اللهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ، ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ، وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Seandainya para hamba tidak melakukan dosa niscaya Allah akan menciptakan makhluk lain yang melakukan dosa, kemudian Allah akan mengampuni mereka, dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Al-Hakim : IV/246)

Karena pasangan kita pasti berbuat salah, idealnya, kita sudah “memaafkan pasangan kita” jauh sebelum pasangan kita berbuat salah. Dengan begitu, kita tidak mudah memfonis pasangan kita dan ada celah dalam dada kita untuk meresponnya dengan baik. 

Kedua, terima bahwa pasangan kita adalah takdir terbaik bagi kita.

Jika kita orang yang baik, tentu yang menjadi istri kita adalah orang baik juga. Begitu rumusnya. Sebagaimana yang tercantum dalam Qur’an, surat An-Nur ayat 26,

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ ࣖ

Perempuan-perempuan keji untuk laki-laki keji dan laki-laki keji untuk perempuan- perempuan yang keji pula. Perempuan- perempuan baik untuk laki-laki baik dan laki-laki baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula. Mereka itu bersih dari tuduhan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

Jika kita memahami “yang menjadi pasangan kita adalah yang terbaik bagi kita”, seharusnya kita tak perlu dengan yang lain. Namun, yang perlu kita pahami, pasangan itu ada yang sifatnya saling melengkapi dan ada yang sifatnya sama-sama seimbang. Hany, kita perlu ingatkan diri kita, yang namanya pasangan itu “kanan-kiri”, ada masanya, satu sama lain berbeda pendapat. 

Ketiga, mohonkan ampun atas kesalahan yang pasangan kita lakukan

Sebagaimana yang termaktub dalam Ali Imron 159, ada penggalan kalimat “mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka”. Ayat itu dikuatkan lagi pada surat At-Taghabun ayat 14-15

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Hai, orang-orang beriman! Sesungguhnya, di antara pasangan-pasanganmu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

Sesungguhnya, hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah ada pahala besar.

Keempat, pahami keutamaan menjadi pemaaf

Dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 134, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ 

yaitu orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.

Berkata al-Kafawi menjelaskan, “al-‘Afwu artinya ialah tidak menyakiti (orang yang telah berbuat jahat padanya) walaupun mampu untuk membalasnya”. Dan setiap orang yang berhak mendapat balasan yang setimpal atas perilakunya, kemudian yang disakitinya tidak menuntut balas dan dirinya ikhlas dan mampu untuk itu, dan ia membiarkannya maka itulah yang dinamakan al-‘Afwu (memaafkan)

Sifat pemaaf merupakan sifatnya para Nabi dan orang-orang sholeh. Meski dimusuhi puluhan tahun oleh penduduk Mekah, saat Rasulullah menaklukkan mereka, ia memaafkan mereka. Imam Malik juga pernah disiksa dan di penjara oleh rezim penguasa di zamannya, namun beliau memaafkan orang yang menyiksanya. 

Namun, memaafkan juga ada ketentuannya. Misal, ketika seseorang itu melanggar syari’at, misal mencuri atau berbuat zina, maka dia tidak layak dimaafkan. Selama tidak ada pelanggaran syari’at, maka memaafkan adalah kemuliaan dan ketahuilah, tanggungan pahala bagi orang yang memaafkan ada dalam tanggungan Allah Swt.

Wallahu a’lam bi shawwab

__________
Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada Safari Dakwah Tasik-Ciamis, di Masjid Al-Urwatul Wutsqa, Peruma Graha Persada Sindagkasih, Ciamis pada Kamis (14 Desember 2023)

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *