Memaknai Setiap Pengorbanan (Bagian 1)

Percikan Iman – Pada dasarnya memang hidup tidak mudah, butuh perjuangan, dan menuntut pengorbanan

Seorang ibu yang harus hamil rasanya berat, penuh pengorbanan. Selaku pasangan suami-istri, ada yang mudah punya anak, akhirnya repot mengurusi anak. Namun, ada juga yang repot berupaya memiliki anak. Dari sini, kita dapat menemukan jika hidup itu tak mudah selalu ada susah payah.

Soal susah payah, selain kita dapat merasakannya, Allah S.W.T. juga sudah menegaskan hakikat kehidupan tersebut dalam surat Al-Balad ayat 4.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Pengorbanan ada dalam berbagai lini kehidupan kita. Salah satunya dalam hidup berumah-tangga. Suami maupun istri punya “hadiah terbaik” yang diberikan pada satu sama lain, istri memiliki “jiwa maaf”. sedangkan suami memiliki “menerima apa adanya” dengan kurang dan lebihnya; judesnya, cerewetnya.

Suami maupun istri sama-sama punya porsi pengorbanannya masing-masing

Suami berkorban salah satunya dengan bentuk bekerja. Baik sebagai bawahan maupun atasan, mereka sama-sama harus memikul bebannya tersendiri. Yang jadi direktur, harus memikirkan bawahannya, yang jadi staff biasa harus memenuhi arahan dan perintah dari atasan.

Istri punya kisahnya tersendiri. Ketika suami bekerja, Ibu mengambil peran mengurus berbagai keperluan anak, menjaga harta amanah suami, menjaga rumah agar tetap nyaman, dan masih banyak lagi.

Terkait dengan pengorbanan, kita akan bertemu dengan salah satu bulan yang identik dengan “pengorbanan”.

Allah S.W.T. berfirman dalam surat At-Taubah ayat 36

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Sesungguhnya, jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Di antara bulan yang dua belas itu, ada empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus. Maka, janganlah kamu menzalimi dirimu dalam keempat bulan itu dan perangilah kaum musyrik sebagaimana mereka memerangimu. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang bertakwa.

Dari 12 bulan yang Allah S.W.T. ciptakan, ada 4 bulan yang Ia tetapkan sebagai bulan “Haram”. Di bulan-bulan tersebut, Allah S.W.T. menghimbau kita meningkatkan jumlah istrighfar dan jumlah ibadah. Pada bulan ini, Allah S.W.T. melarang kita untuk menyerang musuh, namu ketika kita diserang, Allah S.W.T. memerintahkan kita melawannya

Satu di antara empat bulan haram itu ialah Dzulhijjah yang di dalamnya, Allah S.W.T. mensyaria’atkan haji dan penyembelihan hewan qurban.

Dalam garis waktu, kita akan mendapati hikmah besar pengorbanan dari Nabi Ibrahim dan keluarganya. Nabi Ibrahim dan istrinya, Sarah belum memiliki anak hingga 86 tahun. Di sini, Sarah berkorban dengan mempersilahkan Ibrahim menikahi Hajar.

Ketika Allah S.W.T. memberi Nabi Ibrahim A.S. putera dari rahim istrinya, Hajar, Allah S.W.T. memerintahkan Nabi Ibrahim A.S. menyimpan istri dan anaknya yang masih merah, Ismail A.S., di tempat yang gersang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan, yang demikian itu agar mereka melaksanakan salat. Ya Tuhan, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rezeki dari buah- buahan kepada mereka. Mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim:37)

Dalam do’a tersebut luar biasanya Nabi Ibrahim A.S., meski tempat tersebut tandus, beliau tidak langsung meminta dihadirkan makanan-minuman. Namun, beliau meminta agar anak keturunannya sebagai anak-anak yang menegakkan shalat. Baik hubungannya dengan Allah S.W.T. Nabi Ibrahim A.S. meminta dibaikkan imannya.

Kemudian hal penting selanjutnya yang Nabi Ibrahim A.S. ialah agar orang-orang menyayanginya. Artinya, Nabi Ibrahim berharap anaknya menjadi orang yang baik akhlaknya pada sesama.

Barulah Nabi Ibrahim A.S. meminta “buah-buahaan”.

Dengan begitu, anak-keturunannya, diharapkan menjadi hamba yang bersyukur.

Karena itu, sebagai orang tua, ketika kita menitipkan anak kita ke pesantren misalnya, pesankan pada mereka agar menjaga imannya, berbuat baik pada sesama sehingga lingkungannya menjadi sarana pelindung bagi dirinya, sesudah itu, ketika anak ita punya rizki, bersyukur dengan berbagi pada sesamanya.

Dari kisa Nabi Ibrahim dan keluarganya, kita dapat melihat pengorbanan dimulai dari Sarah, Nabi Ibrahim yang harus meninggalkan Hajar disertai penerimaan, lahirlah keturunan sholeh.

Kita dapat menemukan dalam sejarah dari pengorbanan Nabi Ibrahim dan istri-istrinya, lahirlah para Nabi dan Rasul, orang-orang pilihan Allah S.W.T.

Dari Nabi Ismail nantinya lahirlah Rasulullaah Muhammad S.A.W. dari anaknya Sarah, lahirlah Ishaq yang melahirkan Nabi dan Rasul yang nantinya kita kenal sebagai Nabi Bani Israil. Di garis keturunan ini, nantinya lahir Nabi Isa A.S.

 


Tulisan merupakan resume dari materi yang Ustadz Aam Amirudin sampaikan di Majelis Percikan Iman (MPI) Ahad, 5 Juni 2022 di Masjid Peradaban Percikan Iman, Arjasari

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *