Membendung Ghibah dan Fitnah

Percikan Iman – “Lidah tidak bertulang”, begitu budaya kita mendefinisikan betapa lisan susah kita kendalikan. Lisan sangat lentur sampai-sampai kita tanpa sadar melakukan dosa dengannya. Niatnya membicarakan pekerjaan, eh malah ngomongin kolega atau atasan. Niatnya ngobrol parenting, eh malah ngomongin anaknya orang penting. 

Karena itu, kita patut amat bersyukur jika sudah memahami bahayanya. Apalagi, jika tumbuh kesadaran berlatih mendeteksi ghibah atau fitnah dalam ruang interaksi kita. Namun, tantangan berikutnya ialah ketika dua perilaku dosa tersebut kita temukan di tengah arisan atau di tengah kumpul keluarga. Bagaimana sikap kita?

Tentu saja, sikap terbaik adalah memperingatkan saudara kita. Ingatlah, dengan kita memberitahu teman kita, sejatinya kita sedang menjauhkan diri kita dan dirinya dari jilatan api neraka. Rasulullah Saw. bersabda dalam salah satu hadits,

مَنْ ذَبَّ عَنْ لَحْمِ أَخِيهِ بِالْغِيبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang membela daging (kehormatan) saudaranya dari ghibah, maka menjadi hak Allah untuk membebaskannya dari api Neraka. (HR. Ahmad)

Namun, ada kondisi, di mana kita sungkan mengingatkan. Apakah karena dia atasan kita atau orang tua. Untuk ini, kita pamit undur diri dari forum tersebut seraya mendo’akan mereka agar Allah Swt. ampuni serta meraih hidayah. 

Dalam Qur’an, surat Al-An’am ayat 68, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْٓ اٰيٰتِنَا فَاَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۗ وَاِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ 

Apabila kamu (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkan mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Jika setan benar-benar menjadikanmu lupa pada larangan ini, janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim setelah ingat kembali. (QS. Al-An’am:68)

Nah, jika dua kondisi sebelumnya orang di sekitar kita yang menjadi subjek atau pelaku menggunjing (ghibah) atau fitnah, sekarang bagaimana jika justru orang yang kita sayang yang menjadi korban. Seperti istri Nabi Muhammad Saw. yang menjadi korban fitnah dari orang-orang munafik di Madinah.

Kalau kita perhatikan kisahnya, kita akan menemukan luar biasanya Rasulullah Saw. kuat menghadapi tekanan orang satu kota. Beliau mampu membendung gelombang fitnah yang amat besar. Terlihat, Rasulullah Saw. tidak serta merta meng-interogasi bunda Aisyah. 

Ini menjadi pelajaran buat kita, dalam hukum Islam, selama belum spesifik bukti dan saksinya, maka tidak boleh ada tindakan. Semua masih ada dalam ruang prasangka dan Rasulullah Saw. mengajarkan kita agar teguh di sisi prasangka baik atau husnudhon, apalagi pada orang dekat, apalagi pasangan kita yang kita ketahui kesholehannya.

Sebagai lelaki, wajar jika ada cemburu di hatinya, namun Rasulullah Saw. kokoh dalam prasangka baiknya. Terlihat dari kata-kata yang beliau sampaikan pada istrinya, Bunda Aisyah. Dalam penggalan hadits, Bunda Aisyah menyampaikan, 

“Nabi Muhammad SAW hanya berkata ‘Aisyah, kamu sudah dengar berita [perselingkuhannya]. Kalau itu benar, bertaubatlah kepada Tuhan. Kalau itu salah, saya yakin Tuhan akan menyampaikan tentang kebersihanmu. Jadi, sampaikanlah apa yang kamu mau sampaikan’,”  

Yang sulit membendung justru kalangan penduduk Madinah yang lain. Ada beberapa orang yang menjadi korban, turut membenarkan fitnah pada Bunda Aisyah. Salah satunya, sepupu Abu Bakr Ash-Shiddiq RA. Sampai-sampai Abu Bakr RA. berniat menghentikan bantuan ekonomi padanya saat kasusnya terbongkar nanti. 

Namun, di antara para sahabat juga ada yang menjadi secercah cahaya terang. Bahkan, dapat menjadi teladan bagi kita dengan diabadaikan-Nya dalam Al-Qur’an. Mereka adalah Abu Ayyub Al-Anshary dan Ummu Ayyub Al-Anshary.

Dalam Qur’an Surat An-Nur ayat 12, Allah Swt. berfirman,

لَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بِاَنْفُسِهِمْ خَيْرًاۙ وَّقَالُوْا هٰذَآ اِفْكٌ مُّبِيْنٌ

Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri ketika kamu mendengar berita bohong itu dan berkata, “Sungguh, ini berita bohong.

Yang awalnya dari satu orang, jika tidak segera dibendung, maka akan menjadi gelombang. Yang awalnya membicarakan kinerja, lama-lama masalah personal. Inilah lisan yang tidak bertulang. Mari kita saling mengingatkan karena konsekuensinya, meski terkesan ringan, namun dapat membuat orang terpeleset hingga kerak neraka. Naudzubillahi min dzaalik

Wallahu a’lam bi shawwab

__________
Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada Majelis Percikan Iman di Masjid Peradaban Percikan Iman, setiap Ahad sepanjang Bulan  November 2023

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *