Memplester Retak Hati

Percikan Iman – Kecewa pada perilaku pasangan ialah hal yang niscaya lantaran amat berat bagi kita tak berekspektasi sama sekali padanya. Maka yang dapat seseorang upayakan ialah memilih sikap terbaik. Dengan begitu kekecewaan tersebut berlarut-larut hingga sebagai pasangan, terjebak pada “toxic relationship”. 

Yang pertama, kendalikan ekspektasi Anda. Prinsipnya, sebagai sesama manusia, meski sudah lama hidup bersama, ada saja kesalahan, ada saja lupanya, maka kita harus “siap kecewa” dan “dikecewakan”. Alangkah lebih baiknya jika kita “mampu memaafkan sebelum sebelum dikecewakan.”

Ingat, kesalahan itu ciri manusia, termasuk pasangan kita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَوْ أَنَّ اْلعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا، لَخَلَقَ اللهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ، ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ، وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

“Seandainya para hamba tidak melakukan dosa niscaya Allah akan menciptakan makhluk lain yang melakukan dosa, kemudian Allah akan mengampuni mereka, dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Al-Hakim : IV/246)

Selanjutnya, minimalisasi kemungkinan kecewa dengan teknik komunikasi. MIsal, sebelum pulang, agar meminimalisasi kecewa, sebagai suami,  bisa bertanya via aplikasi chat, “Sayang, buat makan malam, rencana masak apa nih?”  atau istri bisa memulai lebih dulu, “Sayang, ada request menu buat makan malam?”

Meski begitu, adakalanya istri lupa, suami yang di kantor juga tiba-tiba ada rapat dadakan, ditambah hape lupa dicas, jadi habis. Tetap, ada kemungkinan “kecewa”. Maka, kita harus mengembangkan jiwa “tasammuh” atau dalam bahasa Indonesia, kita kenal dengan istilah “toleransi”.

Tasāmuḥ diambil dari kata samaḥa berarti tenggang rasa atau toleransi. Dalam bahasa Arab sendiri tasāmuḥ berarti sama-sama berlaku baik, lemah lembut dan saling pemaaf (maaf-memaafkan). 

Dalam KBBI:

  1. n  batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan
  2. n  penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja

Artinya, bukan toleransi namanya jika tidak ada batasan. Maka Islam telah menetapkan batasan toleransi, khususnya dalam konteks hubungan pernikahan. Batasan yang pertama ialah kemaksiatan. Jika pasangan kita melakukan kemaksiatan, apalagi yang termasuk dosa besar, maka dia sudah melanggar batasan.

Sebagaimana termaktub dalam Qur’an surat At-Taghabun ayat 14, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Hai, orang-orang beriman! Sesungguhnya, di antara pasangan-pasanganmu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ayat tersebut turun berkenaan dengan perilaku anak dan istri sahabat dalam momen hijrah. Ada beberapa orang istri dan anak dari para sahabat yang tak mau ikut hijrah sehingga menahan para sahabat (lelaki) untuk hijrah.

Batasan berikutnya ialah, ketika salah satu pasangan melalaikan hak dan kewajiban satu sama lain. Misal, ketika suami tak memberi nafkah dalam jangka waktu tertentu atau ketika istri tak memenuhi hak biologis suami. 

Dalam QS. An-Nisa’ ayat 34, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا 

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian laki-laki atas perempuan dan karena laki-laki telah menafkahkan sebagian harta mereka. Maka, perempuan-perempuan yang saleh adalah perempuan yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaga mereka . Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan berbuat nusyūz hendaklah kamu menasihati mereka, pisahlah dari tempat tidur mereka (pisah ranjang), dan jika perlu, pukullah mereka. Namun, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menceraikannya. Sesungguhnya, Allah Mahatinggi, Mahabesar.

Dalam praktiknya, karena memang jiwa manusia itu cenderung melakukan kesalahan atau alpa, maka siapkan “obat” kecewa, yakni Al-Qur’anul Kariim.

Dalam Qur’an Surat Yunus ayat 57, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ 


Hai, manusia! Sungguh, telah datang kepadamu Al-Qur’an dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam hati dan petunjuk serta rahmat bagi orang beriman.

Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt. Yang Maha Mengetahui kondisi hamba-Nya, yang Maha Mengetahui berbagai kemungkinan problematika yang akan dihadapi hambanya. Untuk itu, ada banyak ayat Al-Qur’an yang pilihan katanya yang indah dapat menjadi obat bagi kita.

Ketika membacanya, bayangkan, seolah-olah Allah Swt sedang berkata langsung pada kita.

Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an, yang bisa menjadi “obat” bagi hati Anda yang terluka.

1. Dalam Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 153 [Hal. 23], Allah Swt. berfirman

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Hai, orang-orang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.

  1. Dalam Qur’an surat Ath-Thalaq ayat 7 [Hal. 559], Allah Swt. berfirman

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا ࣖ 

Hendaklah orang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya dan orang yang terbatas rezekinya memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.

  1. Melalui At-Tahrim ayat 5 [hal. 560], Allah Swt. menghibur (dengan membela Rasul-Nya) 

عَسٰى رَبُّهٗٓ اِنْ طَلَّقَكُنَّ اَنْ يُّبْدِلَهٗٓ اَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنْكُنَّ مُسْلِمٰتٍ مُّؤْمِنٰتٍ قٰنِتٰتٍ تٰۤىِٕبٰتٍ عٰبِدٰتٍ سٰۤىِٕحٰتٍ ثَيِّبٰتٍ وَّاَبْكَارًا 

Jika Nabi menceraikanmu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, perempuan-perempuan patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda, dan yang perawan.

Sahabat, kecewa pada manusia itu hal niscaya karena mereka pasti berbuat kesalahan dan lupa. Maka, jangan sampai terlarut dengan “perasaan kecewa”, terima “kekurangan” pasangan kita sebagaimana kita pun ingin ia terima. Kemudian, pilihlah sikap terbaik berlandaskan prasangka baik.

JIkapun memang pasangan kita melakukan kesalahan, berilah nasihat dengan cara yang lembut berlandaskan kasih sayang, bukan “marah karena kecewa”. 

Wallahu a’lam bi shawwab

____
Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada Majelis Percikan Iman di Masjid Peradaban Percikan Iman, dengan judul “Ketika Hidup Tak Sesuai Impian”, pada Ahad sepanjang Bulan Januari 2024

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *