Mencegah Azab Dengan “Mengucapkan Jangan”

Percikan Iman – Allah S.W.T. tidak akan memilah yang sholeh maupun yang salah ketika azab terpaksa Ia turunkan. Baik mereka yang berpegangan tangan di pinggir pantai dengan status menikah maupun pacaran, sama-sama akan terlibas oleh tsunami. Di sinilah kita perlu saling mengingatkan, salah satunya dengan berani mengatakan “jangan” pada hal-hal yang jelas-jelas Allah S.W.T. melarang darinya. 

Melalui salah satu ayat-Nya, Allah S.W.T. telah memperingatkan kita, yakni dalam surat Al-Anfal ayat 25,

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Jauhkan dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antaramu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.

Menurut guru kita, Ustadz Aam Amirudin, azab ialah puncak dari ketidakhadiran dakwah di tengah-tengah kita. Tidak ada ajakan pada kebaikan dan tidak pernah terungkap “jangan” di tengah-tengah interaksi kita. Ketika kita cuek melarang orang mencungkil-cungkil papan buritan kapal demi tusuk gigi, satu-dua orang, lama-lama banyak orang mengikuti. 

Akhirnya, kapal pun bolong dan semua penumpangnya tenggelam. 

Untuk itu, jangan sungkan mengatakan “jangan” ketika kita melihat anak perempuan kita keluar tanpa menutup auratnya. Kita tidak tahu takdir apa yang akan terjadi pada kita ketika diam saja, apalagi cuek pada rasa bersalah yang mencuat dari hati terdalam bapak-ibu. 

Tentu saja, kerudung memang tak bisa membuat anak kita secara instan menjadi anak sholehah. Namun, siapa tahu peringatan kita pada anak kita membuat Allah S.W.T. ridho pada kita karena ketaatan kita untuk berdakwah sehingga menyelamatkan kita dari musibah.

Faktanya, sering kali rasa sungkan menjadi sebab kita diam. Memang tak mudah mengatakan jangan. Tak mudah memang mencegah kemunkaran. Kecendurungan manusia kemaksiatan dan dosa memang menjadi tabi’atnya, apalagi dengan dorongan hawa-nafsu.

Siapa yang tak benci penolakan? Siapa yang nyaman dengan penolakan? Meski secara logika kita tahu kita benar, namun penolakan terlalu menakutkan bagi jiwa kita. Minimal kita akan takut kalimat “sok suci”, “sok alim”, dan yang semakna dengannya akan cukup menyakitkan. 

Begitulah hakikat dakwah, musuh bisikan hawa nafsu. Penolakan itu baru pukulan awal. Tuduhan dan fitnah akan menjadi senjata penghadang penyayat hati. Berpotensi memadamka semangat, menciutkan mental, dan menumpulkan lisan. 

Nabi Nuh A.S. melarang umatnya dari kesyirikan, istri dan anaknya justru menjadi penentang utama. Nabi Ibrahim A.S. menjauhkan umatnya dari kesyirikan, ia dipanggang hidup-hidup. Nabi Muhammad S.A.W. dihadapkan pada penentangan, gangguan, dan fitnah dari paman yang juga tentangganya. 

Itulah puncak dakwah, mengucapkan jangan pada “kesyirikan”. Sesuai dengan kapasitasnya. 

Sedangkan untuk kita, bisa jadi tak seberat itu. Kita dapat mulai berlatih mulai dari mengatakan “jangan” pada anak-anak kita dari hal-hal yang sepele. Mulai dari jangan makan berdiri, jangan makan dengan tangan kiri, jangan membuang sampah sembarangan. Itu juga dakwah kok. 

Selain itu, ketahuilah tingkatan cara mengatakan “jangan”.

Ketika ucapan tak mampu membuat anak kita mengikuti, jangan tenggelamkan resah yang meyeruak di hati. Siapa tahu, ridho dengan getaran hati sahabat, apalagi ketika terlafalkan dalam do’a memintakan maghfirah dan hidayah atas anak kita. 

Bukankah dakwah itu bisa dengan tangan, ucapan, dan resah jiwa? 

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.

(H.R. Muslim)

Mari kita belajar mengatakan “jangan” mulai dari hal kecil. Namun, ketika terasa begitu berat, jangan biarkan tahan keresahan yang tetiba mencuat. Setidaknya mohonlah ampun. Ketahuilah, memohon ampun Allah S.W.T. sertakan jaminan membentengi kita dari azab, berkat “advokasi” dari jungjungan kita, Rasulullah S.A.W. 

Dalam sholat gerhana, Nabi Muhammad S.A.W. berdiri dan ruku’ dengan durasi yang panjang. Lalu, pada sujud yang terakhir, beliau menghela nafas dan menghembuskannya cukup kencang seperti sedang menahan tangis.

Kemudian, Nabi Muhammad S.A.W. berkata, “Ya Allah, bukankah Engkau telah berjanji, bahwa Engkau tidak akan menurunkan Azab kepada umatku selama aku berada bersama mereka. Dan Engkau tidak juga menurunkan azab selama mereka memohon ampun?” Setelah sholat, Nabi SAW bangun, matahari pun kembali terang terbebas dari gerhananya. 

(HR Al-Baihaqi).

 

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *