Menikmati Buah Penantian Berpuluh Tahun

Percikan Iman – Sudah selayaknya ketika rindu itu sudah terpupuk sejak lama, lantas kita menikmatinya seketika yang kita rindu itu tiba, ketika yang kita rindu itu hadir di hadapan kita.

Kampung halaman tempat kita bertumbuh, tempat kita menempa pertemanan, dan kekerabatan dengan perisa ragam emosi; manis, asam, asin memupuk rasa cinta dalam hati kita. Kini, kita berpuluh kilometer berjarak dengannya. Kerinduan itu kian hari layaknya karet yang terus meral, kian jauh, kian lama, kian ia memanjang. Rasanya, ingin segera melesat pada waktunya.

Namun, sayangnya, kerinduan itu tertahan, bahkan ada yang getas dan putus. Tertahan karena berbagai ketetapan yang tak terhindarkan.

Begitulah yang mungkin turut sebagian jama’ah haji rasakan. Benih kerinduan pada baitullah yang lahir dari keimanan, terpupuk bertahun-tahun. Pada titik kemauan itu, Anda mulai memutuskan untuk mulai menabung, menyisihkan sebagian uang makan, menyisihkan sebagian anggaran investasi.

Kian terkumpul tabungan Anda, kian terpupuk kerinduan, apalagi ketika manasik sudah terlalui. Kerinduan itu kian merasuk karena rasanya baitullah sudah ada di pelupuk mata.

Tugas kita berupaya; merencanakan seraya menapaki langkah demi langkah pemenuhan syarat. Namun, Allah S.W.T. Sang Pemilik Ketetapan. Awal 2020, wabah merebak seluruh negeri, sakit menjangkiti banyak orang, bahkan banyak dari kita terputus dari kewajiban ibadahnya, terkubur menunggu perhitungan amal.

Hampir tiga tahun bagi para perindu bukan waktu yang sebentar. Kata “haji”, “baitullah”, “Mekah”, “ka’bah” menjadi kalimat yang kian menyesakkan dada sementara itu. Tentu karena kerinduan itu kian memenuhi dada.

Alhamdulillah, bagi sebagian dari kita, kerinduan itu akhirnya menemukan peraduannya. Jutaan jamaah dari seluruh negeri, ratusan ribu jama’ah Indonesia berturut-turut mendatanginya. 87 di antaranya ialah jama’ah haji KBIH Percikan Iman.

Kegembiraan yang lahir dari keimanan memang beda rasanya. Nikmatnya, justru terasa dari lelahnya, dari jumlah pengorbanannya. Lihatlah, wajah-wajah itu, nampak lelah, namun sumringah.

Penantian berpuluh tahun, akhirnya Allah S.W.T. kabulkan. Bukan, bukan untuk bersenang-senang, namun untuk berjuang. Mengorbankan harta yang paling berharga, mengorbankan waktu yang tak sebentar meninggalkan sanak keluarga di kampung halaman.

Penantian yang pernah juga dialami Nabi Ibarahim A.S. Ia menanti selama 86 tahun sosok buah hati penerus risalah. Lahir dari fitrah yang terpelihara dalam ajaran yang hanif nan terbasuh oleh keberserahan pada Allah S.W.T. yang senantiasa beliau “menangkan” atas segala ego yang sebetulnya manusiawi.

Namun, di masa kelahirannya, malah teriring perintah penguji cinta-nya pada yang ia ikrarkan pada-Nya cinta teragung. Ia memaksa diri tunduk menaruh bayi merah puteranya di padang nan tandus. Yang kita ketahui dari sinilah cikal bakal ritual ibadah haji mangabadi hingga akhir zaman, menjadi hikmah tak berujung.

Ibadah haji tahun ini begitu spesial karena potensi nilai bonus sabar-nya kita menanti pemenuhan ibadah nan agung. Sudah menanti berpuluh tahun, eh, pada masanya kita “harusnya” berangkat, malah ketetapan-Nya yang tak terduga tiba. Bisa jadi, itu semacam pemurnian niat agar kian kuat mengharap ridho-Nya semata.

Semoga kita layak menjadi haji mabrur yang hajinya. Allah S.W.T. terima sebagai ibadah terbaik. Bukan hanya menghantarkan kita pulang ke kampung halaman dengan kedirian yang cemerlang karena bersih dari dosa, namun menjadi sebab berpulangnya kita ke kampung akhirat dengan selamat.

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *