Menjaga Ramadhan Hingga Akhir Hayat (2)

Agar spirit Ramadhan terjaga hingga akhir hayat, kita juga memerlukan syauq, al-uns, dan tumaninah.

Syauq ialah rindu yang sangat mendalam pada Allah S.W.T. Rindu pada pada Allah inilah yang kemudian melahirkan rindu pada kebaikan, senantiasa rindu pada amal sholeh. Allah S.W.T. menggambarkan rindu dengan sangat indah pada surat Al-Anfal ayat 2-4:

 

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

Sesungguhnya, orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya. Apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ

yaitu orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌۚ

Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat tinggi, ampunan, serta rezeki yang mulia di sisi Tuhannya.

Dalam ayat tersebut kita dapat menemukan potongan kalimat  “bila disebut asma Allah, bergetar hatinya” . “Bergetar” di sini maksudnya bukan takut, melainkan kerinduan. Sebagai gambaran, sensasinya mirip dengan orang yang sedang kasmaran. Orang lagi jatuh cinta itu liat barang pasangnya aja udah bergetar, langsung terngiang wajahnya, rasanya ingin menatap wajahnya.

Ekspresi kerinduan itu beragam. Dalam hal rindu pada Allah S.W.T. bentuknya ialah kita menghindari murkanya, semakin semangat mendengar pesan-pesan dalam ayat-ayatnya, istiqomah dalam shalat, kalau dapat rizki dia menafkan sebagian hartanya.

Bagi mereka, Allah S.W.T. akan berikan kebahagiaan yang mulia dari sisi-Nya atau “Rizkun kariim”, Allah berikan ampunan, ridho  pada kita

Perangkat selanjutnya yang kita perlukan untuk menjaga spirit Ramadhan ialah Al-Uns. Artinya, loyalitas yang tinggi pada Allah S.W.T. Dalam surat Al-An’aam ayat 161-163, Allah S.W.T. berfirman

 

قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakan (Muhammad), “Sesungguhnya, Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Ibrahim tidak termasuk orang-orang musyrik.”

قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakan (Muhammad), “Sesungguhnya, Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Ibrahim tidak termasuk orang-orang musyrik.”

لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ

Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang pertama dalam kelompok orang-orang yang berserah diri (Muslim).”

Dalam konteks relasi suami-istri, kita dapat menemukan jika perselingkuhan karena kurangnya kesetiaan. Kesetiaan itu ialah bekal melanggengkan kebaikan dan amal sholeh.

Ketika kita setia pada Allah S.W.T. senantiasa mendekat pada Allah S.W.T. kita dapat menikmati berbagai ujian yang menerjang.

Ketahuilah, jika kita berpaling dari Allah S.W.T. tidak akan merugikan Allah S.W.T. sama sekali karena sesungguhnya kitalah yang memerlukan Allah S.W.T. Selain itu, “posisi” kita sebagai orang beriman pasti akan Allah S.W.T. ganti dengan orang lain, “yang mencintai Allah, dan Allah pun cinta pada mereka”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Hai, orang-orang beriman! Siapa pun di antaramu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut pada makian orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahaluas pemberian-Nya, Maha Mengetahui.

Al-Ma’idah:54

Terakhir, agar spirit Ramadhan senantiasa tertanam dalam jiwa kita, kita memerlukan tumaninah. Ialah jiwa yang tentram karena telah mencapai tingkat kebersamaan dengan Allah S.W.T.

Hati itu ada level-levelnya. Orang kalau ingin menjaga spirit Ramadhan, hatinya harus sampai pada titik ini. Yaitu, ketika dia sakit sekalipun, hatinya tetap tenang karena yakin hakikatnya sakit ialah sebentuk kasih sayang Allah S.W.T.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingat, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.

Ar-Ra’du: 28

Untuk itu, kita harus dapat mengoptimalkan Ramadhan kita tahun ini dengan terus menimba ilmu dan melatih diri. Latih diri dengan senantiasa berdzikir pada Allah S.W.T. di setiap kesempatan, melelahkan diri beribadah pada Allah S.W.T. Dengan begitu, cinta Allah S.W.T. akan turun pada kita.


Tulisan kami sarikan dari ceramah Ust. Dr. Aam Amirudin M.Si pada Majelis Percikan Iman (MPI) di Masjid Peradaban Percikan Iman Arjasari, pada Ahad (24 April 2022)

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *