Menjaga Ramadhan Hingga Akhir Hayat

Percikan Iman – Prinsipnya, manusia itu suatu saat akan meninggal. Yang perlu kita ketahui, ada empat tipe kualitas umur manusia;

  1. Suul bidayah dan suul khatimah;

Tipe ini, awal dan akhir hidupnya buruk, sejak muda hingga akhir hayatnya buruk. Kehadirannya melelahkan orang-orang di sekitarnya. Bahkan saat meninggalnya, menyusahkan orang lain. Wajar jika orang seperti ini ialah seburuk-buruk manusia; syarru an-naas.

  1. Husnul bidayah wa suul khotimah

Mereka ialah tipe manusia yang awalnya baik, namun berakhir dalam kondsisi buruk. Saat mudanya sholeh, aktif berkgiatan agama. Namun, kian dekat dengan ajal, shalat malah ditnggalkan, shaum pun tak dilaksanakan. Wajarlah jika tipe manusia seperti ini dikatakan sebagai manusia yang paling rugi.

  1. Suul bidayah, wa husnul khotimah

Masa mudanya yang penuh kemaksiatan, berubah hijrah, sehingga menemui akhir yang baik. Waktu muda, bikin orang tua malu, bikin lelah, namun seiring waktu, menemukan hidayah, seiring dengan meninggalnya orang tua, dengan do’a orang tua-nya, ia menemukan hidayah.Jangan lihat masa lalu orang, lihat kondisinya sekarang. Manusia yang paling beruntung: aflahu An-Anaas,

  1. Husnul bidayah, wa husnul khatimah.

“Umurnya panjang, kesholehannya panjang”, dhuulul umuur, wa hasuna ‘amaluhu.. Sepanjang hidupnya sholeh. Bermanfaat buat orang lain. Sebaik-baik manusia: khoiru an-naas:

Alhamdulillaah, kita Allah S.W.T. pertemukan kembali dengan Ramadhan. Selama Ramadhan, Allah mendidik kita sehingga tumbuhlah berbagai kesadaran. Itulah spirit Ramadhan. Kesadaran tersebut merupakan bekal kita agar kita memperoleh Husnul Khotimah.

Agar bekal yang kita peroleh selama Ramadhan tersebut dapat senantiasa hidup dalam kehidupan kita, maka kita memerlukan perangkat. Perangkat itu meliputi.

  1. Muroqobah

Ialah kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi apa yang kita perbuat, ucapkan, rasakan,. Kita senantiasa merasa diawasi oleh Allah. Yakin Allah selalu menatap kita, mengawasi kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ

Sungguh di sisimu ada malaikat-malaikat yang mengawasi pekerjaanmu,

كِرَامًا كَاتِبِيْنَۙ

yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat amal perbuatanmu,

يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ

mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Al-Infitar:10-12

Berdasarkan surat tersebut, datang ke majelis ta’lim meski sulit, meski ngelenggut, tenang, Anda dapat “Apa-apa” karena pada dasarnya Allah mencatat setiap perbuatan kita. Niat baik kita, perjuangan kita, Allah cata. Belum lagi semua makhluk Allah menjadi saksi atas kesholeh-an kita, bahkan di majelis ilmu, malaikat yang menjadi saksi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ

Sesungguhnya, orang-orang yang takut kepada Tuhan yang tidak terlihat oleh mereka, memperoleh ampunan dan pahala besar.

وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

Rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

(Q.S. Al-Mulk: 12-13)

Walau tidak terlihat, tapi kita tetap menjaga diri kita di koridor yang benar, yakin dengan kehadiran Allah. Mau sembunyi-sembunyi atau terang-terangan dalm berbuat, sama saja bagi Allah. Faktor yang pertama yang harus ada dalam diri kita agar bisa konsisten dan komitmen.

  1. Khauf

Rasa takut itu ada yang datang dari Allah, dari setan, dan yang bersifat manusiawi. Khauf ialah rasa takut yang menghindarkan kita dari perbuatan dosa. Sedangkan rasa takut yang menjauhkan dari Allah datang dari setan.

Misalnya, kala kita akan shalat tahajjud, tiba-tiba muncul takut setan, akibatnya kita tidak jadi melaksanakan shalat sunnah yang paling utama tersebut. Boleh jadi itu datang dari setan karena mengakibatkan kita tidak jadi ibadah pada Allah, menjauhkan kita dari Allah S.W.T. Bahkan bisa jadi menjerumuskan kita pada dosa.

Ada juga takut yang manusiawi misal, tidak datang ta’lim karena ongkos kurang. Takut kecoa, takut  cicak itu manusiawi karena tidak menjauhkan kita dari Allah, tidak berpotensi dorongan kita pada dosa.

Poin ini terkait dengan poin pertama, itu karena ketika kita “merasa diawasi oleh Allah dapat menumbuhkan rasa takut pada Allah.

Terkati khauf, kita dapat belajar dari Nabi Yusuf ketika beliau digoda oleh Zulaikha, Nabi Yusuf sebenernya tergoda. Bagaimana tidak, Zulaikha merupakan seorang perempuan yang cantik, terhormat, beliau istri raja. Nabi Yusuf tertarik, namun tidak tergoda.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰى بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

Sungguh, perempuan itu ada maksud kepada Yusuf. Yusuf pun berkehendak kepadanya jika ia tidak melihat tanda dari Tuhannya.492 Demikian, Kami palingkan keburukan dan kekejian darinya. Sungguh, Yusuf termasuk hamba Kami yang terpilih.

Yusuf:24

Bagi mereka yang takut pada Allah S.W.T., Allah S.W.T. menjanjikan ampuanan dan pahala yang besar.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ

Sesungguhnya, orang-orang yang takut kepada Tuhan yang tidak terlihat oleh mereka, memperoleh ampunan dan pahala besar.

Al-Mulk: 12. Walau tidak terlihat, tapi kita tetap menjaga diri kita di koridor yang benar, yakin dengan kehadiran Allah.

  1. Roja’

Ialah optimis dengan rahmat Allah. Cinta Allah yang menyebabkan dosa kita diampuni. Kita Yakin Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun.

Dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Sudah seharusnya, kita selaku manusia yang mengaku mukmin untuk senantiasa berharap rahmat-Nya. Dalam Az-Zumar: 53 Allah S.W.T. berfirman:

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakan, “Hai, hamba-hamba-Ku yang pernah terjerumus dosa! Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni semua dosa-dosamu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Semoga kita semua dapat membawa spirit Ramadhan seumur hidup kita. Dengan begitu, kita pantas berharap pada Allah agar kita dipertemukan dengan penghujung kehidupan dalam kondisi Husnul Khotimah.


Tulisan penulis sarikan dari ceramah Ustadz Aam Amirudin pada MPI tanggal 17 April 2022 di Masjid Peradaban Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *