Gambar oleh GLady dari Pixabay

Menyusuri Jejak Manusia Agung di Bumi Nan Tandus

Percikan Iman –Bukan sembarang jalan-jalan, namun momen ini merupakan sebentuk “menapaki jalan menuju mabrur”, agar rasa tetap terjaga dari euforia tuntasnya kewajiban atau karena pemenuhan rindu bertemu kembali dengan mereka yang kita cintai teriring oleh-olehnya.

Namun, agar rasa rindu terhubung dengan yang memang seharusnya kita terhubung dengannya. Mereka sumber inspirasi cinta dan jejak yang takkan pernah surut, yakni para Nabi dan orang-orang sholeh. Terhubungnya kita dengan mereka, kerinduan kita kan bermuara pada Ia yang Maha Kasih dan Penyayang.

Kehadiran mereka di masa itu, tak dipungkiri tertaut erat dengan setiap tempat yang sebagiannya, kita dapat temui selam ritual haji. Namun, sebagainnya lagi, kita harus datangi dengan sengaja.

Arab, sejatinya bukan tempat yang menarik secara visual. Apa menariknya, gurun nan tandus; bebatuan, pasir, kalau pun ada pohon ya sekadarnya. Belum lagi udara yang ekstrem, panas amat terik atau dingin sangat menusuk.

Namun, Allah S.W.T. justru berkehendak memberi kita umat akhir zaman petunjuk menuju-Nya, dengan nilai keteladanan paling luhur di tempat ekstrem tersebut. Seolah Allah S.W.T. ingin memberi pesan,

“Ia Ibrahim bisa tuh menempatkan anak-istrinya di tempat tandus itu hanya karena perintah-Ku”,

“Ia Hajar bisa tuh taat pada suami padahal di tempatkan di tempat yang setetes air pun tak ada, sepucuk tumbuhan pun tak nampak, tanpa penjelasan dari suami-nya, cukup bermodalkan percaya pada-Ku”.

“Ia Muhammad, bisa tuh bertahan dengan prinsip perilaku terbaik di tengah kaumnya yang budayanya jauh menyimpang dari-Ku, yang bertolak dari tempat tersebut, cahaya rahmat-nya menerangi jagat.”

“Kalian hidup di era yang sudah nyaman, cukup meninggalkan istri tak sampai sehari di rumah dan fasilitasnya, sekadar ditinggal suami barang dua-tiga hari itupun dengan tetap bisa terhubung lewat ponsel, sekadar menghadapi cibiran tak jelas dari tetannga, masa kalian tak sabar?”

Sejarah yang tertaut dengan negeri tandus itu-lah yang menjadikan eskursi di sekitar Arab Saudi menarik. Setiap tempat terpaut padanya berbagai kisah ekspresi cinta.

Bukan sekadar soal Nabi dan tugasnya, melainkan juga bagaimana pergulatan rasa yang bisa jadi juga kita rasakan sehari-hari.

Ya, mereka Nabi, ya.. Mereka kerap berinteraksi dengan Allah S.W.T. namun, mereka juga manusia, yang punya rasa, yang punya nalar, namun ketika Allah S.W.T. meminta keimanan mereka mampu melampauianya.

Momen berangkat Haji, bukan sekadar menuntaskan ritual, namun juga soal menyambung rasa. Dengannya, kami berharap setiap jama’ah dapat mengendalikan rasa dalam jiwa agar tak hanya bergelegak-bereuforia, namun mengalir pada yang seharusnya. Dengan begitu, semoga dzikir senantiasa terapalkan sepulang haji. Dasarnya rindu, namun bukan hanya pada nuansa Haji, namun rindu bertemu dengan-Nya.

Kerinduan nan jujur pada-Nya, kita ekspresikan dengan senantiasa mengingatnya dalam berbagai ruang peran kita, semoga Allah S.W.T. menjemput kita juga dengan kerinduan, Husnul Khatimah.

Tulisan merupakaan pembukaan serial lokasi-lokasi di sekitar tempat ritual haji

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *