Regenerasi Kesholehan di MPI

Percikan Iman –  Lewat tulisan reportase MPI kali ini, penulis bersyukur pada Allah S.W.T. ciri-ciri Masjid Peradaban dapat memenuhi nubuat namanya dapat mewujud.

Peradaban bukan perkara yang dapat mewujud dalam satu malam layaknya membuat ketupat di malam takbiran. Wujudnya dapat terlihat dalam rangkaian waktu di buku-buku sejarah, yaitu ketika generasi pemula itu telah tiada.

Berkaca pada sejarah, kejayaan Islam yang salah satunya pilarnya berupa penaklukan Konstantinopel, mewujud dalam kurun waktu berbelas abad. Artinya, peradaban dapat mewujud ketika terjadi regenerasi, bukan sekadar wujud fisiknya, namun juga regenerasi kesholehan.

Sementara itu, keimanan dan kesholehan bukan perkara yang otomatis akan terwarisi oleh anak dari orang tuanya. Bahkan, meski orang tuanya Nabi sekalipun.

Sudah sepantasnya selaku orang tua atau generasi yang lebih dekat dengan penghujung usianya khawatir sebagaimana khawatirnya Muhammad Al-Fatih kala tak terdengar riuh suara anak-anak di Masjid. Baginya, itu merupakan pertanda akan melemahnya generasi penerus.

”Jika suatu saat masa kelak kamu tidak lagi mendengar bunyi bising dan gelak tertawa anak-anak riang di antara shaf-shaf shalat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan generasi muda kalian di masa itu,”

Di MPI kali ini, Alhamdulillaah, kita dapat melihat mereka yang perempuan menggunakan beragam warna jilbab. Yang laki-laki, ada yang berpeci, ada pula yang mengenakan perpaduan kupluk dengan jaket “Spiderman”.

Mereka merupakan anak-anak yang dapat jama’ah temui selama Majelis Percikan Iman berlangsung. Kadang mereka berlarian di area tempat parkir masjid. Sekalinya masjid kosong oleh jama’ah, mereka mengambil alih. Berlari ke sana ke mari, melengkapi nuansa MPI.

Memang begitulah MPI, bukan hanya tempat menimba ilmu, namun juga “area bermain” bagi anak. Bukan hanya orang tua nya yang dapat reuni dengan sesama jama’ah lainnya, anak-anak yang hadir juga mendapatkan teman bermain yang baru.

Masjid Peradaban, pada momen MPI kali ini terlihat layaknya rumah, yang salah satu fungsinya ialah tempat bertemunya orang tua dengan anak. Saling mengisi ruang peran dan saling mengisi suasana. Inilah kepuasan yang akan sulit kita dapatkan di ruang-ruang maya, meski dengan teknologi Metaverse sekalipun.

Para orang tuanya, meski yang kebagian shaf belakangnya kepanasan matahari pagi, terlihat tetap berusaha menikmati. Yang di tengah, yang di depan, semua terlihat berupaya menikmati dengan caranya masing-masing.

Do’a penuh harap-harap cemas mengharu memaniskan suasana. Sesekali, senyum-tawa menghiasi wajah jama’ah dalam mini “talk show” berama tokoh MPI 2022, Abah Engkon.

Sementara jama’ah anak-anak, biarkan mereka tetap menikmati MPI dengan caranya. Dengan berlarian mengitari masjid, bermain dengan sesamanya, berteriak sepuasnya, dan tak ketinggalan, jajan makan-minuman kesukaan. Biarkan kenangan indahnya Majelis Ilmu mengisi benaknya.

Dengan begitu, kita layak berharap Allah S.W.T. mengabulkan harap kita layaknya harapan do’a Nabi Ibrahim yang mengabadi dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 40

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ

Ya Tuhanku, jadikan aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankan doaku.

Dengan begitu, MPI di Masjid Peradaban bukan hanya menjadi sarana men-sholeh-kan generasi kita selaku orang tua, melainkan generasi penerus kita. Mereka dapat “mewarisi” kesholehan sekaligus menjadi pewujud Masjid sebagai titik tolak mewujudnya Peradaban yang lebih cerah.

Selamat datang di rumah kita bersama, Masjid Peradaban, dengan keluarga yang bernama jama’ah MPI

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *