Retak Hati Karena Kecewa

Percikan Iman — Betapapun baiknya mimpi kita, yakni bisa jadi keluarga ahli surga, tantangan di tengah jalan adalah keniscayaan. Betapapun rapi-nya perencanaan, ada saja hambatan yang tak terkira yang menghadang. Menyikapi realita tersebut, respon awal kita adalah kecewa. 

Sekarang, bayangkan, ketika kamu seorang ayah yang seharian kerja di luar, ketemu klien atau harus berhadapan dengan bos menyebalkan, pas sampai di rumah, ternyata di meja makan belum tersedia makan malam. Atau, saat ibu sudah seharian mengasuh anak di rumah, belum lagi anak pertama dan kedua yang sulit diatur, eh pas suami pulang, bukannya dengerin Anda curhat, dia malah melengos ke kamar dan tidur. 

Pasti kecewa

Kata seorang ahli hikmah, 

“kecewa adalah saat kamu merasakan kehilangan, meskipun kamu tidak memilikinya sejak awal. Kukira itulah kekecewaannya – rasa kehilangan untuk sesuatu yang tidak pernah dimiliki.”

Apakah makan malam itu sudah Ayah miliki? Belum, baru dibayangkan. Terus, Apakah kesediaan suami mendengar curhat itu sudah Ibu miliki? Belum, baru dibayangkan. “Sesuatu yang kita bayangkan (kita peroleh), padahal belum kita dapatkan itulah ‘ekspektasi’ dan kecewa adalah selisih antara ekspektasi dan realita”. 

Tahukah Anda, menurut Psychology Today, “(dari delapan jenis emosi) kekecewaan menduduki peringkat ketiga jenis emosi yang paling sering kita alami setelah “cinta” dan “penyesalan”. 

Ada lima elemen yang berkontribusi terhadap timbulnya kekecewaan dalam diri kita, 

  1.  Situasi di mana hasilnya tidak pasti.
  2. Kita mengharapkan hasil yang positif.
  3. Kita merasa pantas mendapatkan hasil positif tersebut.
  4. Kita terkejut karena kita tidak mencapai hasilnya.
  5. Kita tak dapat mengendalikan hasilnya melalui tindakan pribadi kita

Berikut contoh aplikasinya, 

  1. Istri belum tentu masak/ ada kemungkinan istri ada halangan untuk masak
  2. Bapak mengharapkan makan sudah tersedia
  3. Bapak sebagai seorang suami sudah selayaknya mendapatkan pelayanan, disediakan makan
  4. Bapak kaget karena ternyata “makanan” yang terbayang-bayang sejak tadi tak ada
  5. Bapak tak bisa mengendalikan berbagai kondisi yang memungkinkan istri tercegah untuk memasak

Idealnya, saat kita kecewa dengan realita yang muncul di hadapan kita, kita bisa menyikapinya dengan bijak. Hanya, ada sikap yang sulit kita hindarkan saat kita “dikecewakan”, terutama dalam hubungan “tanpa komitmen” yang kuat, yakni “hilang kepercayaan”.

Dalam satu percobaan psikologi, ditemukan bahwa :

“… orang-orang yang berada dalam suasana hati yang buruk (karena kecewa) lebih cenderung memberikan nilai rendah pada nilai suatu benda/ seseorang karena kita memproyeksikan emosi negatif kita sendiri ke benda-benda yang kita miliki”. Pada akhirnya, dapat berujung pada hilang kepercayaan hingga memutuskan hubungan.

Contohnya:

– Kecewa pada ojol, kita  ngasih bintang satu.
– Kecewa pada pedagang, gak beli lagi.
– Kecewa pada public figur, unfollow akunnya.
– Kecewa pada mitra bisnis, bisa berhenti muamalah
– Kecewa pada permainan Persib (klub bola kesayangan), buang atributnya.
– Kecewa pada tokoh politik, jangan pilih lagi (masalahnya kudu sabar lima tahun atau bahkan sepuluh tahun)

Masalahnya, kecewa pada pimpinan di kantor, tidak mudah juga untuk resign. “Lapangan kerja makin kompetitif, semakin susah nyari kerja lagi” atau “mau resign sungkan karena atasannya saudara sendiri

Apalagi kecewa pada pasangan, masa gara-gara istri belum masak, langsung talak tiga?

Jika itu sampai terjadi, Anda akan berkontribusi pada meningkatnya “ketidakpercayaan publik” pada institusi pernikahan atau menurunkan nilai kesakralan pernikahan dengan meningkatkan angka perceraian.

Namun, di sisi lain, bertahan pada hubungan yang terlalu banyak mengecewakan, bisa jadi “racun” buat kita. Jika hubungan tersebut adalah pernikahan, maka kita akan terjebak pada fenomena “toxic relationship”, yang tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

1. Anda dan pasangan lebih sering mencari kesalahan pada pasangan
2. Anda jadi sering berbohong pada pasangan
3. Sulit mengingat momen bahagia dengan pasangan
4. Sering menangis
5. Sering berpikir “cerai”
6. Pasangan melakukan kekerasan fisik maupun verbal
7. Anda menarik diri dari lingkar pertemanan 

Sahabat, kecewa adalah hal yang niscaya terjadi pada kita, lantaran selaku manusia yang saling membutuhkan satu sama lain, kita tentu tak bisa lepas dari “harapan” pada pasangan kita. Yang bisa kita lakukan adalah menyadari kekecewaan yang muncul dalam diri kita, kemudian memilih sikap terbaik sesuai skala tingkat permasalahan, misal apakah melanggar syari’at atau tidak.

Jika di dalamnya tidak ada pelanggaran syari’at, pilihlah sikap-sikap yang dapat melapangkan dada kita. Pasangan kita juga manusia, yang punya latar belakang pemikiran yang beda, cara pandang yang beda, juga kadang lupa, sama seperti Anda. Bisa jadi, justru “kekecewaan” kita merupakan ujian agar keluarga yang Anda bina makin Allah sayang, meningkatkan derjat Anda di sisi-Nya. Maka, bijaklah saat kecewa.

Wallahu a’lam bi shawwab

____
Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada Majelis Percikan Iman di Masjid Peradaban Percikan Iman, setiap Ahad sepanjang Bulan Januari 2024

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *