Rindu MPI, Abah Engkon ‘Bebelaan’ ke Arjasari dari Pelosok Garut

Datang dari pelosok Garut – bergonta-ganti kendaraan umum – , dengan tubuh yang sudah menua, Abah Engkon (71) justru menjadi hikmah MPI perdana

Percikan Iman – Wajahnya sudah dipenuhi keriput, dengan badan yang sudah agak membungkuk. Kala penulis menemuinya pertama kali, sempat berpikir jika beliau kemungkinan warga sekitar Masjid Peradaban.

Kala itu, penulis baru tiba di lokasi pada jam 8-an malam dan akan melaksanakan shalat Isya. Beliau duduk bersandar pada tembok Masjid pada sisi arah kiblat. Ia menggunakan setelan peci Indonesia dan bersarung. Penulis sempat melihatnya sekilas, lantas memutuskan melaksanakan shalat.

Baru pada esok, pada momen Majelis Percikan Iman, penulis baru tahu jika beliau adalah salah satu “hikmah” MPI perdana.

Pada sesi adaptasi, seperti biasa MC yang kali ini dilakoni Kang Ihsan (begitu biasa kami memanggilnya) mengabsen jama’ah. Salah satunya untuk mengecek asal daerah jama’ah yang hadir.

“Daerah mana nih yang paling jauh?” tanya Kang Ihsan pada hadirin.

Jama’ah ada menyebut Cimahi, Subang, dan di antara jama’ah muncullah sosok Abah Engkon dan menyebut daerah asalnya, Garut.

Wah, kirain warga sekitar,” tiba-tiba penulis teringat momen pertama kali melihat Abah Engkon

Demi mendengar asal kota dan melihat sosok asal suara tersebut, Kang Ihsan lalu menanyakan detail asal Abah Engkon. Sayangnya, penulis kala itu sedang teralihkan oleh tugas lain sehingga tak mendegarkan. Yang jelas, Abah Engkon datang dari pelosok, begitulah yang saya dengar dari Ustadz Aam kala menerjemahkan Abah Enkon yang mewawancarainya pada sesi pembukaan.

Sampai situ, ternyata cerita masih berlanjut.

Abah Engkon datang bukan bersama keluarganya, apalagi menggunakan kendaraan pribadi.

Diwawancarai Ustadz Aam, disaksikan ribuan jama’ah, Abah Engkon bercerita dirinya bisa sampai ke lokasi dengan beberapa kali berganti kendaraan. Seingat penulis, perjalanan langsung dimulai dengan Bus sampai “Paramun” (yang mengacu pada “Paramount”) alias Parakan Muncang.

Dari “Paramount”, Abah Engkon melanjutkannya dengan perjalanan menggunakan Kerta Api sampai Stasiun Kota Bandung. Dari sana, Abah Engkon lanjut menggunakan angkot ke Kebon Kalapa, Kota Bandung. Selanjutnya, Abah Engkon melanjutkan dengan angkot jurusan Banjaran.

Turun di pertigaan Arjasari, Abah Engkon lanjut menggunakan angkot hingga salah satu terminal kecil di Arjasari. Terakhir, Abah Engkon menggunakan ojek pangkalan. Barulah Abah Engkon sampai di tujuan.

Abah Engkon tiba di lokasi H-1 pelaksanaan MPI. Ia menginap di masjid untuk menginap.

Dalam pembukaan Ustadz Aam sempat memotivasi jama’ah terkait sulitnya akses Masjid Peradaban pada sesi pembukaan. Ustadz Aam menyampaikan jika dalam menyikapi kesulitan, termasuk sulitnya perjalanan menuju majelis ta’lim, kita dapat memilih untuk menikmatinya.

Itu teorinya.

Namun, pada momen MPI perdana ini, Allah melengkapinya dengan mengirimkan Abah Angkon. Bagi penulis, beliau seolah menjadi salah satu “hikmah” momen perdana MPI, yang juga pertama kali diadakan di Masjid Peradaban hasil wakaf para jama’ah MPI.

Washilahnya, Abah Engkon mendapatkan informasi dari radio. Bukan dari media sosial atau dari grup WhatsApp. “Teu tiasa (saya tidak bisa menggunakannya),” kata Abah Engkon.

Tentu bukan karena mendapatkan informasi, lantas Abah Engkon mendapatkan energi untuk menempuh perjalanan panjang tadi.

Namun, bagi mereka para perindu majelis ilmu, dahaga ilmu, informasi tersebut adalah jalan “pemenuhan rindu” dan “pereda dahaga”.

Mari kita pupuk terus kerinduan, kecintaan, pada ilmu yang sejatinya merupakan cahaya di kegelapan jalan menuju syurganya, pada majelis ilmu yang sejatinya merupakan taman di antara taman-taman syurga.

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *