Sekeluarga ke Surga (1)

Percikan Iman – Setelah berpuluh tahun berkeluarga, pernahkah Anda memikirkan cita-cita Anda sekeluarga? Jika belum, bagaimana kalau kita tentukan sekarang? Bagaimana kalau cita-citanya “kumpul lagi di surga”? Ya, bersama-sama.. Namun, tentu kita harus mempersiapkan “tiketnya” dari sekarang karena, jangan salah, di yaumil akhir nanti, ada anak atau pasangan yang justru menarik orang tua atau pasangannya ke Neraka (Naudzubillahi min dzaalik).

Dalam Qur’an, surat Ar-Ra’du ayat 19-23, Allah Swt. berfirman,

۞ اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰىۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِۙ 

Apakah sama orang yang melihat kebenaran yang diturunkan Tuhan kepadamu dengan orang buta? Hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran,

الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَۙ 

yaitu orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,

وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ ۗ 

orang-orang yang menghubungkan tali persaudaraan, dan orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan takut pada hisab yang buruk.

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ 

Orang yang sabar karena mengharap keridhoan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Orang itulah yang mendapat tempat kembali yang baik,

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ 

yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu,

سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ 

sambil mengucapkan, “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Alangkah nikmatnya tempat kembali seperti itu.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini bahwa Allah akan mengumpulkan seseorang bersama keluarganya, orang tua, istri dan anak-cucunya di surga. Ini adalah dalil satu keluarga bisa masuk surga bersama. Beliau berkata,

Allah mengumpulkan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai di dalam surga yaitu orang tua, istri dan anak keturunan mereka yang mukmin dan layak masuk surga. Sampai-sampai, Allah mengangkat derajat yang rendah menjadi tinggi tanpa mengurangi derajat keluarga yang tinggi (agar berkumpul di dalam surga yang sama derajatnya, pent).”

Agar sekeluarga bisa masuk surga, maka satu sama lain harus saling “menarik”, agar jangan sampai satupun dari anggota keluarga terlepas. Untuk itu, kita patut memperhatikan sarana yang Allah Swt tetapkan agar bisa “tarik-menarik” satu sama lain.

Dalam Al-Qur’an, surat At-Tahrim, ayat 6, Allah Swt. berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ 

Hai, orang-orang beriman! Jauhkan diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat kasar dan tegas, yang tidak durhaka kepada Allah dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.

Selaku orang tua, hendaknya kita memperhatikan lisan kita karena lisan ibarat pahat yang membentuk “kepribadian” anak kita, perilaku kita karena setiap apapun yang kita lakukan akan menjadi pijakan anak kita (mau baik ataupun buruk), dan juga kita harus membangun pembiasaan baik pada anak kita, dengan pendekatan sesuai umurnya. 

Dalam Al-Qur’an, surat Ath-Thur, ayat 21, Allah Swt. berfirman, 

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

Orang-orang beriman dan anak cucu mereka yang mengikutinya dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucunya di dalam surga. Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal kebajikan mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Ketika orang tua mendidik anaknya dengan benar, apakah secara langsung ataupun melalui fasilitas (sekolah atau pesantren), siapa tahu Allah Swt. berkenan menjadikan anak kita sebagai anak yang sholeh. Dengan begitu, anak kita pun, bisa menarik kita ke surga, baik lewat istighfar maupun lewat do’a-do’a yang mereka panjatkan. 

Dalam satu hadits, Rasulullah Saw. bersabda, 

إنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَنَّى هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sesungguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga lalu dia pun bertanya, ‘Dari mana ini?’ Dijawab, ‘Karena istighfar anakmu untukmu.’ 

(Sunan Ibnu Majah No. 3660)

Dalam keterangan lainnya, Rasulullah Saw. bersabda, 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya dan doa anak yang shalih” 

(HR. Muslim: 1631)

Tentu kita selaku orang tua, amat mengharapkan anak kita dan kita saling tarik menarik ke surga, namun kita perlu waspada karena, faktanya, akan ada anggota keluarga yang jutru menjadi musuk satu sama lain (Naudzubillahi min dzaalik).

Dalam Qur’an, surat At-Taghabun ayat 14, Allah Swt. berfirman.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

Hai, orang-orang beriman! Sesungguhnya, di antara pasangan-pasanganmu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Menurut Ibnu Zaid, konteks “menjadi musuh bagimu” itu karena mendorong seseorang untuk memutuskan tali persaudaraan atau berbuat maksiat pada Tuhannya karena didorong cintanya pada istri dan anak-anaknya. Maka, ingatlah, pada akhirnya, harta dan anak merupakan salah satu “media” ujian yang menuntut kita untuk bersabar, yakni menerima sebagai takdir, berupaya sekemampuan, dan bertawakkal pada Allah.

Sebagaimana firman Allah Swt. pada ayat berikutnya, At-Taghabun ayat 15 

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ 

Sesungguhnya, hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah ada pahala besar.

Wallahu a’lam bi shawwab

_____

Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada program “Safari Dakwah Tasik-Ciamis” 28 Februari – 1 Maret 2024

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *