Selamat Berkendara Taat

Percikan Iman – Hidup ini ibarat meniti sebuah jembatan yang lurus. Masalahnya, meski lurus, ia kadang menanjak, kadang menurun, kadang licin, dan kadang berduri. Seandainya kita dapat menyikapinya sesuai dengan ketentuan, maka selamatlah kita. Namun, seseorang juga bisa terpeleset dan akhirnya masuk ke dalam jurang. Jembatan lurus itulah ketaatan dan menempuhnya akan penuh dengan rintangan.

Karena itu, wajar jika kita diperintahkan untuk senantiasa meminta pada Allah Swt. agar kita diberikan pertolongan melaluinya. Bukan sekali, melainkan, minimal 17 kali sehari, yakni  di setiap raka’at shalat, dalam Qur’an, surat Al-Fatihah ayat 6-7

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ

Tunjukkan kepada kami jalan lurus

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ

yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Jalan ketaatan ialah jalan utama yang penghujungnya ialah surga. Maka, tak ada pilihan lain selain kita menyerahkan diri sepenuhnya pada semua perintah dan larangan-Nya.


بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” 

Dan telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“‘Setiap umatku akan masuk Surga kecuali yang tidak mau.?’. Para sahabat bertanya : ‘Wahai Rasulullah siapakah yang tidak mau ?’. Beliau bersabda : ‘Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk Surga dan barangsiapa yang tidak taat padaku maka dialah yang tidak mau (masuk Surga)“.

 

Bukan saja mendapatkan surga di akhirat, sebagai orang beriman, kita juga harus yakin, ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti semua panduan (mengikuti perintah, anjuran, dan menjauhi larangan) itu akan mengatarkan kita pada kebahagiaan dan kesuksesan di dunia

Kata taat merupakan serapan dari bahasa Arab yang berarti ‘menemani’ atau ‘mengikuti dan “hakikat taat ialah sikap dan tindakan yang tulus untuk mematuhi perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya.”

Sahabat, misi kita ke muka bumi, pada dasarnya adalah untuk beribadah dengan sebaiknya pada Allah Swt. sebagaimana tertuang dalam Qur’an, surat Adz-Dzariyat ayat 56 dan Qur’an, surat Al-Mulk ayat 2


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

Allah yang menciptakan mati dan hidup, untuk mengujimu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.

Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud dengan ahsanu ‘amala (yang terbaik amalnya) adalah akhlashuhum lillah (yang paling ikhlas karena Allah) dan atba’uhum lisysyari’ah (yang paling komitmen mengikuti aturan syari’ah). 

  • Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. 
  • Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.

Selanjutnya, ruang lingkup taat itu mencakup ibadah vertikal maupun horizontal, yakni dalam ruang lingkup tugas kita sebagai khalifatu fil ardl. Dalam ruang lingkup ibadah vertikal atau mahdhah, berarti kita mengikuti semua ketentuan-nya sesuai dengan yang Rasulullah Saw ajarkan, berhati-hati jangan sampai melakukan bid’ah, termasuk di dalamnya, taat dalam hal konsumsi (makan, minum, belanja) berarti menjauhi yang haram dan hanya mengkonsumsi yang halal.

Sedangkan, dalam konteks ibadah horizontal atau ghairu mahdlah (relasi pemimpin, orang tua, dan suami ialah mengikuti apapun perintah selama tidak keluar dari batasan syari’at, termasuk menghindari kezaliman. Dalam konteks relasi dengan pemimpin, Allah Swt. menekankan agar menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai “alat ukurnya”, sebagaimana yang tertuang dalam Qur’an, surat An-Nisa ayat 59,


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ 


Hai, orang-orang beriman! Taati Allah, taati Rasul, dan Ūlil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Apabila kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya bagimu.

Sedangkan terkait batasan taat pada orang tua tertuang dalam Qur’an surat Luqman, ayat 14 – 15, Allah Swt. berfirman

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang sangat lemah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Ku, kamu kembali.

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada ilmunya, janganlah kamu menaati keduanya. Tetapi, bergaullah secara baik dengan keduanya di dunia dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku tempat kembalimu. Lalu, akan Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Sedangkan bagi seorang istri, batas ketaatan pada suami ialah “maksiat”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR. Bukhari no.7257 dan Muslim no.1840).

Tak ada kendaraan yang bisa kita gunakan untuk melalui “jembatan yang lurus”, melainkan ketaatan. Maka, kenali Allah Swt. berharap tumbuh cinta pada-Nya dan pelajarilah sunah-sunah-nya agar makin bersih niat kita, makin benar ibadah kita pada-Nya, bahagia dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bi shawwab

_____
Tulisan ini merupakan pengembangan dari materi yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amiruddin pada Safari Dakwah Percikan Iman, Masjid Agung Cianjur, pada Jum’at, 26 Januari 2024

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *