Seni Melukis Hidup

Percikan Iman – Kita menjalani hidup seperti melukis. Ketika kita mati, orang akan melihat hasil lukisan kita atau lukisan diri kita. Ketika suami terbiasa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang meringankan istri, istri akan merasa kehilangan karena banyak bagian hidupnya terindahkan dengan “karya” akhlak suaminya. Begitupun sebaliknya. 

Belakangan, santer dalam berita, seorang anak yang berbakti pada ibunya selama belasan tahun. Ibunya divonis orang gila. Ibunya ditinggal suaminya di rumah yang mewah. Rumah mewah itu kini berubah wujud menjadi kumuh. Tiko kini menjadi orang yang berjuang untuk ibunya. 

Di tengah segala keterbatasan, tiada air dan listrik, anaknya “terus melukis” dengan akhlak terbaik pada ibunya. 

Di sisi lain, ada anak yang begitu khidmat pada ayahnya. Pasalnya, sang ayah senantiasa menyempatkan berinteraksi dengan anaknya di sela lelahnya. Meski lelah, dia tetap berupaya merespon keluahan dan permintaan tolong anaknya dengan narasi terbaik. Tak jarang, ada juga anak yang sama sekali tak memiliki “lukisan” ayahnya. 

Wajar jika di antara lukisan itu, ada noda ada goresan yang tak kita kehendaki. Bukan kehendak Allah S.W.T. melainkan keputusan kita yang salah. Menyesali pernikahan itu tidak boleh karena itu takdir. Yang boleh kita sesali ialah akhlak kita, niat kita dalam prses pernikahan. 

Ketika kita salah mengambil keputusan, salahnya kita ketika kita berkutat memandangi “goresan” tersebut, melainkan kita per-indah dengan taubat dan maaf. Kita juga dapat menjadikannya sebagai pelajaran atau ibroh yang kita bagikan pada orang lain atau generasi penerus kita sehingga menjadi ilmu bagi mereka.

Pahamilah, waktu akan memberi pelajaran pada kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ 

Jangan kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman.

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ

Jika kamu terluka (pada Perang Uhud), mereka pun mendapat luka yang serupa (pada Perang Badar). Masa kemenangan dan kekalahan itu, Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran, agar Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir, dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim.

وَلِيُمَحِّصَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَمْحَقَ الْكٰفِرِيْنَ

Dan agar Allah membersihkan orang-orang beriman dari dosa mereka serta membinasakan orang-orang kafir.

Dalam hidup, tak dapat kita pungkiri, ada saja yang mungkin kita sesali. Ketika ukuran tubuh tak lagi “M”, tak masalah jika kita menyesali. Namun, yang kita sesali bukan kondisi saat ini, melainkan perilaku kita yang mungkin saja salah. Untuk itu, jangan merasa lemah dan jangan sedih, selama beriman sejatinya kita orang yang mulia di sisi Allah S.W.T.

Belajar dari kesalahan tersebut, dan perbaiki diri kita seiring berjalannya masa. Mari kita ambil pelajaran dari masa perjuangan Rasulullah S.A.W. Pasukan pemanah, dalam perang Uhud merasa bersalah karena salah mengambil keputusan, yakni turun dari pos-nya. Namun, Allah S.W.T. memberikan penguatan pada mereka. 

Ketahuilah, “Kami (Allah S.W.T.) pergilirkan di antara manusia (kita) agar mereka (kita) mendapat pelajaran, agar Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir.” Inilah warna kehidupan. Ada masanya gagal, ada masanya sukses. Ada masanya sedih, sebagaimana ada masanya senang. 

Tugas kita, berjuang melukiskan hal yang indah. Namun, ada masanya kita salah menggores atau salah memilih warna. Bila kita merasa salah mendidik anak kita, jangan terlalu berkutat dalam rasa bersalah, mari kita berdo’a pada Allah S.W.T. agar dibukakan hidayah pada anak kita. 

Sahabat, bila saat ini kita tengah menghadapi takdir yang terasa begitu berat. Ketahuilah, seberat-beratnya kondisi yang kita rasakan, ketahuilah suatu saat akan terasa ringan karena Allah S.W.T. memampukan kita beradaptasi. Allah S.W.T. akan mempergilirkan kejayaan di antara sesama manusia. Tugas kita kita ialah menyikapinya dengan tepat.

“Seberat-beratnya hidup, kalau kita lapang hati, kita akan terbiasa juga.”

Inilah rumus hidup, semakin umur kita bertambah, semakin bertambah (rumit, sulit, berat) permasalahan, dengan kondisi berbeda-beda yang akan kita hadapi. Artinya, semakin sulit memperoleh kebahagiaan. Di sini kita akan menemukan sebahagia-bahagianya manusia ialah anak-anak.  

Juga, semakin berumur, kita semakin gelisah tentang masa depan. Pasalnya, waktu meninggal terasa semakin dekat. Bayangan nasib anak-anak dan keturunan terbayang-bayang. Inilah rumus baku, ritme, sekaligus seni kehidupan, Inilah sunnatullah

Di sinilah agama akan berperan. Pasalnya, ada juga yang makin menua, meski makin sulit, namun tetap tenang dan optimis. 

Dalam surat Al-Hajj ayat 5 dan 6 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ

Hai, manusia! Jika kamu meragukan Hari Kebangkitan, sesungguhnya Kami telah menjadikanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu. Kami tetapkan kamu dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian, Kami keluarkan kamu sebagai bayi dan berangsur-angsur sampai usia dewasa. Di antara kamu ada yang diwafatkan dan ada pula yang sampai usia lanjut (pikun) sehingga ia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Kamu lihat bumi ini kering. Jika Kami turunkan air hujan di atasnya, bumi menjadi hidup dan subur serta menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُّ وَاَنَّهٗ يُحْيِ الْمَوْتٰى وَاَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۙ

Hal yang demikian itu karena Allah yang hak. Sungguh, Allah yang menghidupkan segala yang telah mati, dan sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Berdasarkan ayat tersebut, ada masanya kita dalam kondisi sempurna, ada masanya kita wafat, dan ada juga tetap hidup hingga pikun menggerogoti ingatannya. Proses-proses hidup tersebut, tak bisa lepas dari waktu. Itu karena manusia merupakan bagian dari ruang dan waktu alam semesta. Manusia, tetumbuhan, dan berbagai makhluknya di alam semesta, terikat dengan waktu. 

Artinya, semua butuh proses seiring waktu. Hendaknya, kita bersabar seraya menyikapinya dengan tepat. Jika pasangan kita, anak kita belum sholeh, bersabar, yakinlah suatu saat dia akan berubah. Dalam rentang waktu itulah, Allah S.W.T. sebagai yang ber-hak, akan menetapkan kehendak-Nya; “Sungguh, Allah yang menghidupkan segala yang telah mati, dan sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”

Tugas kita, menerima, menjaga harapan, berdo’a, dan berupaya dengan iringan tawakkal.


Tulisan merupakan resume materi Kajian Utama yang disampaikan oleh guru kita, Ustadz Aam Amirudin pada Majelis Percikan Iman (MPI), di Masjid Peradaban Percikan Iman, Arjasari pada Ahad, 8 Januari 2023

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *