Shaum Lahirkan Kesadaran Maaf-Memaafkan, Menjaga Amanah, dan Terus Bergerak

Percikan Iman – Shaum Ramadhan melahirkan berbagai kesadaran. Selain kesadaran introskpeksi diri dan memperbaiki diri, selanjutnya, shaum juga akan melahirkan kesdaran untuk meminta maaf dan memaafkan, kesdaran menjaga amanah, dan kesadaran untuk terus berikhtiar.

Soal maaf-memaafkan, kita ketahui bersama, bukan perkara mudah. Meminta maaf harus menaklukkan gengsi, memaafkan berat karena sakit hati.

Untuk itu, Allah S.W.T. memberi motivasi pada kita lewat lisan Rasul-Nya, bahwa ketika dua orang berkonflik, yang terbaik di antar keduanya ialah yang memulai perdamaian.

Dalam Ali Imron 133-134 Allah S.W.T. juga berfirman jika Allah msangat menyukai mereka yang dapat memaafkan meski dia bukan yang memulai pertengkaran, meski dia yang didholimi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنۙ

Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan dapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa,

Ali ‘Imran:133

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

yaitu orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.

Ali ‘Imran:134

Selanjutnya, shaum juga melahirkan kesadaran untuk menjaga amanah. Amanah pekerjaan, amanah sebagai suami/ istri, atau dalam berbagai peran apapun di kehidupan kita.

Allah S.W.T. berfirman

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْن

Hai, orang-orang beriman! Jangan kamu khianati Allah dan Rasul, dan jangan kamu khianati amanat yang dipercayakan kepadamu, padahal kamu mengetahui.

Al-Anfal:27

Ketika kita shaum sedangkan tidak ada orang di sekitar kita, kita bisa saja membatalkannya karena tidak ada seorang pun yang melihat. Namun, seorang yang shaum berlandaskan keimanan tidak akan melakukan perkara yang membatalkan.

Itu karena keimanan bahwa Allah S.W.T. yang mengawasi kita.

Pada dasarnya, semua ibadah mahdhah mengajarkan kita untuk berlaku amanah dan jujur. Baik shalat,umroh, termasuk haji. Kita bisa saja tidak memenuhi rukun ibadah tersebut atau tak mengganti wudhu kala buang angin saat shalat, namun karena kita yakin Allah Maha Melihat, kita lantas mengambil air wudhu ketika batal saat shalat.

Selanjutnya, shaum juga melahirkan kesadaran untuk terus berikhtiar. Terus beruang, terus bergerak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ

Apabila kamu telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka tetaplah bekerja keras untuk urusan berikutnya,

Asy-Syarh:7

وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ

dan hanya kepada Tuhanmu, hendaknya kamu berharap.

Asy-Syarh:8

Umumnya, Islam mengajari kita terus bergerak. Dalam gerak, ada keberkahan, ada kebaikan. Namun, bukan asal gerak asal ikhtiar, melainkan ikhtiar yang dibingkai dengan berharap hanya pada Allah S.W.T.

Sebagaimana air yang terus bergerak, mengalir maka air tersebut akan baik, bahkan menyehatkan. Sebaliknya, air yang diam biasanya berpotensi jadi sumber penyakit.

Juga ibarat kendaraan yang jika jarang digunakan, akan mudah rusak. Begitupun rumah yang di dalamnya jarang digunakan untuk berbagai aktifitas, juga akan rusak.

 


Disarikan dari ceramah Ustadz Aam Amirudin pada Majelis Percikan Iman 2 April 2022 di Masjid Peradaban Percikan Iman, Arjasari.

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *