Shaum Ramadhan Akan Melahirkan Kesadaran Totalitas, Mendengarkan Nasihat, dan Berbagi

Percikan Iman – Rasulullah S.A.W. men-sunnah-kan sahur di waktu terbaiknya, yakni mendekati shubuh, jam 4 bukan jam 1 dini hari. Begitupun kala berbuka, Rasulullah S.A.W. men-sunnah-kan segera berbuka seketika Adzan Maghrib berkumandang.

Lewat dua perbuatan tersebut, Rasulullah S.A.W. sedang mengajarkan kita agar kita melakukan amal sholeh secara totalitas; sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah berupaya maksimal untuk mendapatkan nilai yang terbaik di mata Allah S.W.T.

Dalam surat Al-Mulk ayat 2, Allah S.W.T. berfirman

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

Allah yang menciptakan mati dan hidup, untuk mengujimu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.

Di 10 hari terakhir Ramadhan, Rasulullah S.A.W. mengajarkan kita agar kita totalitas agar mendapatkan ganjaran optimal dari Allah S.W.T. Rasulullah S.A.W. melakukan I’tikaf 10 hari penuh tanpa meninggalkan masjid. Sepenuhnya beribadah pada Allah S.W.T.

Dalam salah satu keteranga, beliau bahkan menyerukan para lelaki agar mengetatkan ikat sarungnya sebagai simbolisasi kesungguhan.

Selain itu, shaum Ramadhan juga melahirkan kesadaran dalam diri kita untuk lebih mudah menerima nasihat. Kondisi tersebut, salah satunya dapat terlihat dari merebaknya tayangan berupa tusiyah, film inspiratif tentang kesholehan, dan berbagai program religi lainnya sepanjang Ramadhan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ

yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.

Az-Zumar:18

Melalui ayat tersebut, Allah S.W.T. merberi tahu kita jika manusia yang berpikiran jernih, pasti akan menyadari dirinya butuh nasihat. Tak hanya itu, mereka juga terdorong untuk mengikuti nasihat tersebut. Artinya, bukan hanya dicatat, malinkan juga diamalkan.

Sejatinya, keimanan itu ibarat pohon, yang membutuhkan siraman air, pupuk, dan juga perawatan agar terhindar dari hama. Nasihat, ialah air, pupuk, dan sebentuk perawatan sehingga iman dapat tumbuh dengan baik, ibarat pohon yang akarnya kokoh menghujam ke bumi, dahannya menjulang ke langit, dedaunnya rindang. Mejadi sumber kesejukan bagi orang di sekitarnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (keimanan) seperti pohon yang baik, akarnya kuat menghunjam ke bumi, dan cabangnya menjulang ke langit,

Ibrahim: 24

Terakhir, shaum Ramadhan juga akan menghadirkan kesadaran berbagi. Sebagai gambaran, kita dapat membaca sirah nabawiyah yang memberitahu kita, jika tingket kedermawanan Rasulullah S.A.W. meningkat luar biasa di bulan Ramadhan. Para sahabat menggambarkannya “layaknya angin”, begitu mudah, begitu ringan.

Bagi kita, bentuk pengamalannya bisa beragam. Misal, dengan mengalah pada pengemudi lain keteika berpapasan di jalan sempit, menyumbang gagasan, menunjukkan jalan, atau misal berbagi informasi agenda MPI di status WhatsApp. Itu juga berbagi.

Allah S.W.T. menilai kebaikan yang kita bagikan itu ibarat benih. Yang ketika kita menanamnya, akan memantik ratusan kebaikan lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai dan pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi orang yang dikehendaki-Nya dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui

Ayat tersebut menggambarkan batapa agungnya berbagi. Ia ibarat sebutir benih, yang menumbuhkan tujuh tangkai, yang setiap tangkainya berbuah tujuh ratus kebaikan. Sekalinya berbagi, nilainya di mata Allah S.W.T. 700 kebaikan.

Masya Allah. Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang optimal dalam ibadah shaumnya. Dengan begitu, akan tumbuh berbagai kesadaran yang memantaskan diri kita mendapatkan ijazah taqwa dari Allah S.W.T. di penghujung madrasah Ramadhan.


Disarikan dari ceramah Ustadz Dr. Aam Amirudin, M.Si. pada momen Majelis Percikan Iman di Masjid Peradaban Percikan Iman, Arjasari, Ahad (10/4/2022)

Media Dakwah Percikan Iman

Media Dakwah Percikan Iman

Yayasan Percikan Iman | Ruko Komplek Kurdi Regency 33A Jl. Inhoftank, Pelindung Hewan Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40243 Telp. 08112216667

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *