Tangis Haru Nenek Penerima Sembako Bahagia

Percikan Iman – Sembari bercucuran air mata haru, ia mengatakan jika paket sembako ini merupakan paket pertama yang ia terima selama Ramadhan, bahagia karena akhirnya merasakan bahagianya berbuka dengan penganan yang layak.

“Alhamdulillah Cep, saya terima paket sembakonya, senang sekali bisa menerima sembako ini yang merupakan paket sembako pertama yang kami terima selama Ramadhan,” begitu ungkap Nenek (dengan diksi yang disesuaikan).

Ia adalah seorang perempuan renta yang tinggal di salah satu wilayah binaan Percikan Iman. Serumah dengannya, sang suami juga turut menerima kedatangan kami ke kediamannya yang sederhana di salah satu daerah di Kabupaten Ciamis.

Kami datang ke sana dalam rangka menyampaikan amanah sahabat Percikan Iman lewat program Sembako Bahagia pada Jum’at-Sabtu (16-17 April 2022). Kami tak menyangka akan mendapatkan hikmah dari pelaksanaan program spesial Ramadhan ini.

Bukan sekadar nilai sembako yang kita sampaikan, esensinya ialah perhatian bagi mereka. Sembako “hanya” media, namun kepedulian dan perhatian ialah pesan utama yang nampaknya dirasakan oleh sepasang suami-istri tersebut.

Ketika perhatian tersampaikan, kesan baik pun timbul berdasarkan pengalaman emosional mereka. Di sana-lah pintu hati untuk hidayah mungkin terbuka. Jika pesan Islam yang kita sampaikan, bisa jadi faktor memperkuat ikatan mereka dengan Islam. Begitu pun sebaliknya.

Kepedulian kita, perhatian kita menyalakan nyala harapan, jika manfaat Islam itu nyata adanya, orang Islam yang baik itu masih ada. Bagaimanapun, Islam itu ajaran, konsep, namun kita, orang-orangnya, ialah etalasenya.

Mari kita jaga nyala harap itu dengan tetap mengerti, tetap peduli, dan tetap memberi arti. Caranya, dengan tetap berbagi, istiqomah berbagi.

Ramadhan buka sekadar masa untuk memanen, namun juga sarana akselerasi pengembangan diri, begitu kata Ustadz Aam dalam banyak kesempatan. Salah satunya, belajar kedermawanan. Dengan begitu, kita boleh berharap, kepergian Ramadhan meninggalkan diri kita dengan versi ter-upgrade.

Senang berbagi, memberi arti pada hidup dan diri kita di hadapan Allah S.W.T.

Di akhir percakapan, nenek juga tak lupa juga mendo’akan, “Semoga shadaqah yang diberikan menjadi jariyah, menjadi asbab jama’ah percikan iman masuk ke dalam syurga-Nya.”

Memang begitulah janji Allah S.W.T. pada kita semua. Ketika ajal tiba, perjalanan panjang nan melelahkan dimulai. Lewat Al-Qur’an, Allah S.W.T. mengabarkan kita, jika obat penyesalan mereka yang sudah meninggal ialah shadaqah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Infakkan sebagian harta yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang menjemputmu. Lalu, ada yang menyesali, “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sesaat saja agar aku dapat bersedekah dan menjadi orang-orang saleh.”

QS. Al-Munafiqun:10

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *