Wajah Antusiasme Para Perindu Majelis Ilmu

Percikan Iman – Terletak di pelosok Arjasari, siapa yang mengira jika ribuan orang rela mendatangi Masjid Peradaban Percikan Iman. Para jama’ah hadir dari berbagai daerah, mulai dari seputaran Bandung, Garut, bahkan ada yang jauh-jauh dari Jawa Tengah.

Kok mau-maunya sih? Padahal di sana, mereka bukan menghadiri pelatihan menjadi milioner, bukan untuk menonton Moto GP, apalagi untuk menonton konser musik. Mereka berbondong-bondong untuk menghadiri majelis ta’lim.

Apapun alasannya, penuiis melihat sekitar dua ribu-an orang berkumpul. Padahal mereka bisa saja memilih rebahan di rumah karena bekerja sepekan penuh atau bisa saja seharian penuh jalan-jalan ke resort atau lokasi wisata untuk healing.

Namun, kok mau-mau-nya sih…? Pada untuk dapat hadir artinya mereka berlelah, menempuh jarak, “membuang” waktu dan uang?

Ilmu itu laksana air, begitu kata para bijak, ia mengalir hanya pada mereka yang merendahkan hatinya. Salah satu bentuknya ialah dengan mendatangi sumbernya. Hm.. Bisa jadi inilah yang menjadi salah satu motif para jama’ah. Mereka datang jauh-jauh ke Arjasari, bersusah payah agar ilmu mengalir pada mereka.

Atau.. Mereka ingin reuni dengan kawan-kawan sesama jama’ah haji.. Bisa jadi

Atau.. Mereka hanya ingin mengisi waktu liburnya dengan kegiatan bermanfaat sehingga “hiling” terasa lebih bergizi.. Bisa jadi

Atau.. Mereka rindu pada para Ustadz, rindu pada guru tercinta, Ustadz Aam Amirudin.. Itu pun boleh laah.

Yang jelas, penulis memilih memaknai semua yang hadir sebagai bentuk kerinduan pada majelis ilmu. Terlepas materi itu dapat tertangkap oleh para jama’ah, yang jelas, MPI merupakan majelis ilmu.

Hadir di majelis ilmu, kata Rasulullah S.A.W. berarti kita sedang menengok syurga dari salah satu taman di antara taman-tamannya.

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الجَنَّةِ فَارْتَعُوا

“Jika kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah!” begitu kalimat tersebut terdengar oleh Anas bin Malik. “Singgah” maksudnya silakan menikmati dan bersenang-senang di dalamnya.”

Menurut beberapa periwayat seperti Tirmidzi, Thabrani dan lain-lain,  yang disebut sebagai taman surga itu ialah: masjid, majelis dzikir dan majelis ilmu.

Belum lagi, keutamaan bagi para jama’ah yang hadir ke majelis ilmu. Rasulullah S.A.W. mengabarkan empat keutamaan akan diberikan pada mereka yang hadir di majelis ilmu. Ialah ketenangan, dekap rahmat, dibersamai malaikat, dan mensyen dari Allah S.W.T.

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah Ta’ala (masjid), sembari membaca Kitab Allah, saling mendaras (mengkaji) di antara mereka, melainkan turun ketenangan pada mereka, rahmat menyelimuti mereka, malaikat mengerumuni mereka dan mereka akan disebut Allah pada makhluk di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud)

Oh.. Pantas kalau begitu..”

Memang bukan harta yang diperoleh, memang bukan ilmu satu miliar, memang bukan kepuasan merasai suasana konser, melainkan, Allah S.W.T. telah memuliakan majelis ilmu, melainkan karena benefit yang lebih asasi, yaitu ketenangan dan rahmat Allah S.W.T.

Bicara keramaian, bukankah kita selaku orang beriman meyakini bahwa kita akan kembali dikumpulkan di padang mahsyar? Semua orang harap-harap cemas mengantri persidanganAllah Yang Maha Adil dan Bijaksana.

Tentu setiap orang beriman berharap hisab yang ringan dan segera memasuki syurga-Nya. Kembali berkumpul, reuni, mengenang masa-masa “menikmati” lelah dan kecemasan dompet yang menipis, bersandar pada dipan-dipan emas.

Semoga “penderitaan” menuju Masjid Peradaban Percikan Iman menjadi salah satu sarana penghantar kita semua ke sana.

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *