Canda atau Menghina?
Sutan
Kalau dibedakan antara canda dan menghina itu sangat tipis, sangatlah tipis. Makanya tidak sedikit yang berniat canda namun dipahami menghina, ada juga yang menghina namun dianggap canda, karena hinaan terlalu sering dianggap candaan, lama-lama hinaan itu menjadi biasa dan kebiasaan. Sekurang-kurangnya ini menunjukan sensitifitas antara canda dan hina sangatlah tipis sekali. Malah boleh jadi obrolan biasa saja kerap dianggap hinaan. Namun sebelum memahami candaan dan hinaan, saya akan membahas dulu tentang manusia,
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (An Nahl [16] : 78)
Berdasarkan ayat ini awalnya manusia itu tidak tahu apa-apa, seperti kertas putih yang kosong. Lalu Allah memberikan perangkat berupa pendegaran, penglihatan dan hati Nurani untuk mengisi kertas yang kosong dalam diri kita. Setelah perangkat-perangkat itu berfungsi maka kertas yang awalnya kosong lama-lama terisi. Nah isi dari kertas itu sendiri sangat ditentukan oleh lingkungan hingga latar belakang keluarga atau orang tuanya. Sebagaimana hadits Nabi,
"Kullu mauludin Yuu ladu alal fitrah, Faabawahu, Au Yuhawwidanihi Au Yunassiranihi Au Yumajjisanihi" HR. Muslim. (Tiap-tiap anak yang baru dilahirkan dalam keadaan fitrah, Maka ayahnyalah (lingkungannyalah) yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi).
Kalau menggunakan hadits ini artinya kenakalan anak itu disebabkan orangtua, makanya jangan langsung salahin anak ketika dia melakukan kesalahan atau memang dia nakal. Tapi yang harus dilakukan adalah evaluasi diri, jangan-jangan kita yang salah menerapkan pola asuh. Nah pola asuh ini akan berlanjut pada bagaimana menyikapi candaan menjadi candaan yang apa adanya atau malah menjadi hinaan. Sebab pola asuh berpengaruh secara signifikan terhadap bagaimana merespon.
Selain ditentukan oleh pola asuh manusia juga memiliki sifat bawaan yang negative disamping sifat positif,
Dan apabila Kami berikan kesenangan pada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa. (Al Isra [17] : 83)
Nah berdasarkan ayat ini dasar sifat manusia adalah sombong ketika diberikan kelebihan, tapi putus asa, galau, stress, depresi ketika ditimpa kesusahan. Selanjutnya manusia itu sifatnya cenderung suka mengingkari nikmat. Maksudnya adalah ketika anda punya suami yang super baik, lalu saat suami anda melakukan kesalahan tiba-tiba anda melupakan kebaikan suami anda sebelumnya, yang begitu namanya adalah mengingkari nikmat. Nah maka pelajarannya adalah jangan bergantung kepada orang, lalu ketika mereka berbuat kesalahan jangan generalisir.
Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim [14] : 34)
Sifat manusia setelah mengingkari nikmat, selanjuntya adalah kikir atau pelit. Lawan dair kikir adalah dermawan, artinya untuk bisa dermawan harus meredam rasa kikir. Tentang kikir tidak selamanya tentang finansial, tapi ada juga kikir dalam memaafkan atau menerima kenyataan bahwa orang ketika bercanda kepada kita lalu kita sakit hati bisa jadi dia tidak berniat menyakiti. Makanya kita mesti dermawan, ketika kita berbicara kepada orang lalu mau bercanda lebih baik hati-hati, tapi kalau orang lain bercanda atau menghina kepada kita, maka kita mesti dermawan dalam memaafkan.
Katakanlah (Muhammad), "Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya." Dan manusia itu memang sangat kikir. (Al Isra [17] : 100)
Berikutnya, manusia itu sifatnya selalu suka membantah dan banyak alasan.
Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Alquran ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah. (Al Kahfi [18] : 54)
Selanjutnya sifat buruk manusia itu suka tergesa-gesa,
Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya. (Al Anbiya [21] : 37)
Itulah beberapa sifat buruk yang disebutkan Alquran yang harus kita lawan. Makanya ktia berbicara mesti hati-hati, sebab kita tidak tahu ucapan mana yang bakal menyakiti atau memang candaan. Terlebih kita harus memahami karakter dominan orang yang diajak bicara oleh kita.



