Kembali
Canda atau Menghina?

Canda atau Menghina?

8 dilihat
6 mnt baca
SU

Sutan

Kalau dibedakan antara canda dan menghina itu sangat tipis, sangatlah tipis. Makanya tidak sedikit yang berniat canda namun dipahami menghina, ada juga yang menghina namun dianggap canda, karena hinaan terlalu sering dianggap candaan, lama-lama hinaan itu menjadi biasa dan kebiasaan. Sekurang-kurangnya ini menunjukan sensitifitas antara canda dan hina sangatlah tipis sekali. Malah boleh jadi obrolan biasa saja kerap dianggap hinaan. Namun sebelum memahami candaan dan hinaan, saya akan membahas dulu tentang manusia,

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (An Nahl [16] : 78)

Berdasarkan ayat ini awalnya manusia itu tidak tahu apa-apa, seperti kertas putih yang kosong. Lalu Allah memberikan perangkat berupa pendegaran, penglihatan dan hati Nurani untuk mengisi kertas yang kosong dalam diri kita. Setelah perangkat-perangkat itu berfungsi maka kertas yang awalnya kosong lama-lama terisi. Nah isi dari kertas itu sendiri sangat ditentukan oleh lingkungan hingga latar belakang keluarga atau orang tuanya. Sebagaimana hadits Nabi,

 "Kullu mauludin Yuu ladu alal fitrah, Faabawahu, Au Yuhawwidanihi Au Yunassiranihi Au Yumajjisanihi" HR. Muslim. (Tiap-tiap anak yang baru dilahirkan dalam keadaan fitrah, Maka ayahnyalah (lingkungannyalah) yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi).

Kalau menggunakan hadits ini artinya kenakalan anak itu disebabkan orangtua, makanya jangan langsung salahin anak ketika dia melakukan kesalahan atau memang dia nakal. Tapi yang harus dilakukan adalah evaluasi diri, jangan-jangan kita yang salah menerapkan pola asuh. Nah pola asuh ini akan berlanjut pada bagaimana menyikapi candaan menjadi candaan yang apa adanya atau malah menjadi hinaan. Sebab pola asuh berpengaruh secara signifikan terhadap bagaimana merespon.

Selain ditentukan oleh pola asuh manusia juga memiliki sifat bawaan yang negative disamping sifat positif,

Dan apabila Kami berikan kesenangan pada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa. (Al Isra [17] : 83)

Nah berdasarkan ayat ini dasar sifat manusia adalah sombong ketika diberikan kelebihan, tapi putus asa, galau, stress, depresi ketika ditimpa kesusahan. Selanjutnya manusia itu sifatnya cenderung suka mengingkari nikmat. Maksudnya adalah ketika anda punya suami yang super baik, lalu saat suami anda melakukan kesalahan tiba-tiba anda melupakan kebaikan suami anda sebelumnya, yang begitu namanya adalah mengingkari nikmat. Nah maka pelajarannya adalah jangan bergantung kepada orang, lalu ketika mereka berbuat kesalahan jangan generalisir.

Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim [14] : 34)

Sifat manusia setelah mengingkari nikmat, selanjuntya adalah kikir atau pelit. Lawan dair kikir adalah dermawan, artinya untuk bisa dermawan harus meredam rasa kikir. Tentang kikir tidak selamanya tentang finansial, tapi ada juga kikir dalam memaafkan atau menerima kenyataan bahwa orang ketika bercanda kepada kita lalu kita sakit hati bisa jadi dia tidak berniat menyakiti. Makanya kita mesti dermawan, ketika kita berbicara kepada orang lalu mau bercanda lebih baik hati-hati, tapi kalau orang lain bercanda atau menghina kepada kita, maka kita mesti dermawan dalam memaafkan.

Katakanlah (Muhammad), "Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya." Dan manusia itu memang sangat kikir. (Al Isra [17] : 100)

Berikutnya, manusia itu sifatnya selalu suka membantah dan banyak alasan.

Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Alquran ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah. (Al Kahfi [18] : 54) 

Selanjutnya sifat buruk manusia itu suka tergesa-gesa,

Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya. (Al Anbiya [21] : 37)

Itulah beberapa sifat buruk yang disebutkan Alquran yang harus kita lawan. Makanya ktia berbicara mesti hati-hati, sebab kita tidak tahu ucapan mana yang bakal menyakiti atau memang candaan. Terlebih kita harus memahami karakter dominan orang yang diajak bicara oleh kita.

 

 

Artikel Terkait

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Materi ini sangat penting bagi yang sudah berumah tangga atau yang akan memasuki rumah tangga, karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama dan panjang. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, shaum atau haji pasti waktunya 5 menit buat shalat dst. Tapi kalau pernikahan ibadah paling panjang dan lama. Ada yang sudah 45 tahun, 50 tahun dan seterusnya. Karena ibadahnya paling lama, maka dalam rumah tangga harus terus belajar tanpa henti. Kenapa sampai disebut ibadah paling lama? Disebabkan apapun yang dilakukan suami atau istri dalam konteks melayani dan sejenisnya akan jadi nilai pahala dan ibadah, tapi sebelum menjadi suami istri maka apapun yang dilakukan belum disebut ibadah dalam rumah tangga.

Pulang Membawa Penyesalan

Pulang Membawa Penyesalan

Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian pada hari kiamat datang dengan membawa kambing yang mengembik di lehernya, atau kuda yang meringkik di lehernya, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku.’ Maka aku menjawab: ‘Aku tidak memiliki kuasa apa pun untuk menolongmu. Sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.’” (Muttafaq ‘Alaihi)

Hidupku Jariyahku

Hidupku Jariyahku

Jariyah itu artinya mengalir atau tidak putus. Berarti kalau berbicara hidupku jariyahku artinya hidup itu tidak abadi tapi amal harus abadi. Fisik kita tidak abadi, dulu kita lucu sekarang berbeda, dulu kita kuat sekarang lemah, dulu kita cantik, sekarang cantiknya berbeda. Artinya perubahan itu menunjukan fisik kita tidak abadi. Jadi manusia itu tidak ada yang abadi dengan bukti mereka selalu terikat waktu, ada awal dan ada akhir. Nah persoalanya adalah bagaimana agar amalan kita mengalir terus.

Membangun Komunikasi Keluarga

Membangun Komunikasi Keluarga

Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu?