Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I
Sutan
Materi ini sangat penting bagi yang sudah berumah tangga atau yang akan memasuki rumah tangga, karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama dan panjang. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, shaum atau haji pasti waktunya 5 menit buat shalat dst. Tapi kalau pernikahan ibadah paling panjang dan lama. Ada yang sudah 45 tahun, 50 tahun dan seterusnya. Karena ibadahnya paling lama, maka dalam rumah tangga harus terus belajar tanpa henti. Kenapa sampai disebut ibadah paling lama? Disebabkan apapun yang dilakukan suami atau istri dalam konteks melayani dan sejenisnya akan jadi nilai pahala dan ibadah, tapi sebelum menjadi suami istri maka apapun yang dilakukan belum disebut ibadah dalam rumah tangga.
Maka oleh sebab itu kalau kita dalam berumah tangga mencari bahagia pertanyaan yang pertama adalah apakah rumah tangga bisa memberi kebahagiaan atau tidak? Sebelum menjawabnya, dalam Alquran ada dua macam kebahagiaan yang Allah sebutkan. Pertama, fatrhatun ((فرحة yaitu kebahagiaan yang ditentukan atau diperoleh dari material. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗوَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ ࣖ
Allah melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan membatasi kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang sedikit dibanding dengan kehidupan akhirat. (Ar Ra’du [13] : 26)
Contoh kebahagiaan farhatun seperti pasangan yang baru awal-awal nikah, mungkin satu sampai empat bulan masih merasakan kebahagiaan, tapi kalau sudah masuk satu tahun dan seterusnya feel yang akan diterima akan berbeda. Nah itu artinya farhah. Jadi kebahagiaannya sifatnya materi dan sementara. Makanya ada penelitian bahwa pasangan yang sudah lama menikah lama kelamaan perasaanya akan turun kembali ke awal. Oleh sebab itu ketika menciptakan bahagia dalam rumah tangga jangan didasari farhah, tapi carilah yang kedua,
Kedua, sa’adah (سعادة), yaitu rasa bahagia karena rasa syukur dan yakin dengan janji Allah,Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
۞ وَاَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِى الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ اِلَّا مَا شَاۤءَ رَبُّكَۗ عَطَاۤءً غَيْرَ مَجْذُوْذٍ
Adapun tempat orang-orang yang berbahagia itu di surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal lain, sebagai karunia yang tidak terputus. (Hud [11] : 108)
Bahagia yang pertama berbeda dengan bahagia yang kedua. Yang terakhir ini ukuran kebahagiaanya adalah surga bukan dunia. Oleh sebab itu berarti rasa bahagia yang muncul didasari basis agama atau spiritual. Jadi kalau anda mencari bahagia farhah maka akan timbul kecewa, berbeda kalau yang dicari adalah sa’adah, maka bahagia dunia dan akhirat.
Makanya ada benar-benar bahagia, namun sadari bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah di surga nanti. Karena kebahagiaan di surga adalah puncak kebahagiaan rumah tangga.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ
yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)
سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ
sambil mengucapkan, “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Alangkah nikmatnya tempat kembali seperti itu. (Ar ra’du [13] : 24)
Kalau begitu bahwa kebahagiaan abadi dalam rumah tangga bukanlah cinta, melainkan ibadah bersama untk surga-Nya. Karena jika menurut pengalaman yang sudah menikah, bahwa cinta itu sifatnya sementara dan akan berubah menjadi benci. Namun bukan berarti tanpa cinta sama sekali, melainkan bimbing cinta itu dengan ibadah kepada Allah. Makanya ada beberapa tujuan dalam menikah;
1. Mendekatkan diri kepada Allah
2. Menjaga diri dari kemaksiatan
3. Mengamalkan sunnah Rasulullah SAW
4. Memperbanyak keturunan
5. Menerapkan ajaran agama dalam rumah tangga
6. Menyempurnakan setengah agama
7. Membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah



