Kembali
Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

41 dilihat
15 mnt baca
SU

Sutan

Materi ini sangat penting bagi yang sudah berumah tangga atau yang akan memasuki rumah tangga, karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama dan panjang. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, shaum atau haji pasti waktunya 5 menit buat shalat dst. Tapi kalau pernikahan ibadah paling panjang dan lama. Ada yang sudah 45 tahun, 50 tahun dan seterusnya. Karena ibadahnya paling lama, maka dalam rumah tangga harus terus belajar tanpa henti. Kenapa sampai disebut ibadah paling lama? Disebabkan apapun yang dilakukan suami atau istri dalam konteks melayani dan sejenisnya akan jadi nilai pahala dan ibadah, tapi sebelum menjadi suami istri maka apapun yang dilakukan belum disebut ibadah dalam rumah tangga. 

Maka oleh sebab itu kalau kita dalam berumah tangga mencari bahagia pertanyaan yang pertama adalah apakah rumah tangga bisa memberi kebahagiaan atau tidak? Sebelum menjawabnya, dalam Alquran ada dua macam kebahagiaan yang Allah sebutkan. Pertama, fatrhatun ((فرحة yaitu kebahagiaan yang ditentukan atau diperoleh dari material.  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗوَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ

Allah melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan membatasi kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang sedikit dibanding dengan kehidupan akhirat. (Ar Ra’du [13] : 26)

Contoh kebahagiaan farhatun seperti pasangan yang baru awal-awal nikah, mungkin satu sampai empat bulan masih merasakan kebahagiaan, tapi kalau sudah masuk satu tahun dan seterusnya feel yang akan diterima akan berbeda. Nah itu artinya farhah. Jadi kebahagiaannya sifatnya materi dan sementara. Makanya ada penelitian bahwa pasangan yang sudah lama menikah lama kelamaan perasaanya akan turun kembali ke awal. Oleh sebab itu ketika menciptakan bahagia dalam rumah tangga jangan didasari farhah, tapi carilah yang kedua,

Kedua, sa’adah (سعادة), yaitu rasa bahagia karena rasa syukur dan yakin dengan janji Allah,Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ وَاَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِى الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ اِلَّا مَا شَاۤءَ رَبُّكَۗ عَطَاۤءً غَيْرَ مَجْذُوْذٍ

Adapun tempat orang-orang yang berbahagia itu di surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal lain, sebagai karunia yang tidak terputus. (Hud [11] : 108)

Bahagia yang pertama berbeda dengan bahagia yang kedua. Yang terakhir ini ukuran kebahagiaanya adalah surga bukan dunia. Oleh sebab itu berarti rasa bahagia yang muncul didasari basis agama atau spiritual. Jadi kalau anda mencari bahagia farhah maka akan timbul kecewa, berbeda kalau yang dicari adalah sa’adah, maka bahagia dunia dan akhirat.

Makanya ada benar-benar bahagia, namun sadari bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah di surga nanti. Karena kebahagiaan di surga adalah puncak kebahagiaan rumah tangga.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ

yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)

سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ

sambil mengucapkan, “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Alangkah nikmatnya tempat kembali seperti itu. (Ar ra’du [13] : 24)

Kalau begitu bahwa kebahagiaan abadi dalam rumah tangga bukanlah cinta, melainkan ibadah bersama untk surga-Nya. Karena jika menurut pengalaman yang sudah menikah, bahwa cinta itu sifatnya sementara dan akan berubah menjadi benci. Namun bukan berarti tanpa cinta sama sekali, melainkan bimbing cinta itu dengan ibadah kepada Allah. Makanya ada beberapa tujuan dalam menikah;

1.     Mendekatkan diri kepada Allah

2.     Menjaga diri dari kemaksiatan

3.     Mengamalkan sunnah Rasulullah SAW

4.     Memperbanyak keturunan

5.     Menerapkan ajaran agama dalam rumah tangga

6.     Menyempurnakan setengah agama

7.     Membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah

 

Artikel Terkait

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa berkumpul kembali di surga-Nya, tidak lihat latar belakang sosial, ekonomi apalagi finansial, tapi melihat diukur dari kesholehan. Ketika semua penghungi ruma mampu menghiasai rumah dengan kesholehan maka akan di ajnjikan berkumpul di surga nanti. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)

Membangun Komunikasi Keluarga

Membangun Komunikasi Keluarga

Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Rumahku Surgaku

Rumahku Surgaku

Rumah tangga yang hebat itu adalah keluarga yang sama-sama berusaha untuk mencapai atau membawa menuju surga-Nya Allah SWT. Lalu bagaimana kalau suami istri itu tidak sholeh? Apakah mungkin masuk surga?

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Realita rumah tangga atau pernikahan adalah berjuang bersama. Lalu sekarang yang akan dibahas adalah mengabadikan kebahagiaan atau dalam bahasa Arab disebut sa’adah. Kebahagiaan yang hakiki dalam rumah tangga bukanlah di dunia, melainkan saat bisa berkumpul di surga, jadi tidak ada istilahnya bahagia yang hakiki selama ukuran kebahagiaanya adalah dunia,