Kembali
Pulang Membawa Penyesalan

Pulang Membawa Penyesalan

5 dilihat
3 mnt baca
SU

Sutan

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ .متفق عليه.

“Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian pada hari kiamat datang dengan membawa kambing yang mengembik di lehernya, atau kuda yang meringkik di lehernya, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku.’ Maka aku menjawab: ‘Aku tidak memiliki kuasa apa pun untuk menolongmu. Sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.’” (Muttafaq ‘Alaihi)

Hadis ini menjelaskan tentang beratnya pertanggungjawaban harta dan amanah pada hari kiamat. Rasulullah saw memperingatkan agar seseorang tidak datang pada hari kiamat membawa harta yang dahulu ia miliki atau kuasai, tetapi tidak ia tunaikan haknya. Kambing dan kuda dalam hadis ini menjadi simbol harta, kepemilikan, fasilitas, dan amanah dunia yang kelak dapat berubah menjadi beban di akhirat.

Orang yang diberi kelapangan harta, tetapi selalu berkata: “nanti saja bersedekah,” “kalau sudah lebih kaya,” “kalau sudah aman,” maka ia sedang menunda hak kebaikan yang bisa menjadi penyelamatnya. Padahal harta bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga untuk:

  • Menunaikan zakat,
  • Membantu fakir miskin,
  • Mendukung dakwah,
  • Menolong keluarga,
  • Membantu pendidikan,
  • Meringankan kesulitan sesama.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata: Wahai Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sebentar saja, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi orang saleh.” (QS. Al-Munāfiqūn: 10)

Artikel Terkait

Membangun Komunikasi Keluarga

Membangun Komunikasi Keluarga

Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Toleransi dalam Keluarga

Toleransi dalam Keluarga

UNESCO memutuskan bahwa setiap tanggal 16 November dinobatkan sebagai hari toleransi internasional. Kenapa harus ada hari toleransi, karena tolerasni ini adalah ruh bersatunya umat manusia dalam kebaikan. Kita bisa bayangkan kalau tidak ada toleransi maka bagaimana dunia ini? Kenapa Allah menciptakan toleransi karena Allah menciptakan manusia berbeda dan tidak ada yang sama. Makanya ada ciri unik dalam diri setipa manusia.

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa berkumpul kembali di surga-Nya, tidak lihat latar belakang sosial, ekonomi apalagi finansial, tapi melihat diukur dari kesholehan. Ketika semua penghungi ruma mampu menghiasai rumah dengan kesholehan maka akan di ajnjikan berkumpul di surga nanti. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Realita rumah tangga atau pernikahan adalah berjuang bersama. Lalu sekarang yang akan dibahas adalah mengabadikan kebahagiaan atau dalam bahasa Arab disebut sa’adah. Kebahagiaan yang hakiki dalam rumah tangga bukanlah di dunia, melainkan saat bisa berkumpul di surga, jadi tidak ada istilahnya bahagia yang hakiki selama ukuran kebahagiaanya adalah dunia,