Pulang Membawa Penyesalan
Sutan
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ .متفق عليه.
“Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian pada hari kiamat datang dengan membawa kambing yang mengembik di lehernya, atau kuda yang meringkik di lehernya, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku.’ Maka aku menjawab: ‘Aku tidak memiliki kuasa apa pun untuk menolongmu. Sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.’” (Muttafaq ‘Alaihi)
Hadis ini menjelaskan tentang beratnya pertanggungjawaban harta dan amanah pada hari kiamat. Rasulullah saw memperingatkan agar seseorang tidak datang pada hari kiamat membawa harta yang dahulu ia miliki atau kuasai, tetapi tidak ia tunaikan haknya. Kambing dan kuda dalam hadis ini menjadi simbol harta, kepemilikan, fasilitas, dan amanah dunia yang kelak dapat berubah menjadi beban di akhirat.
Orang yang diberi kelapangan harta, tetapi selalu berkata: “nanti saja bersedekah,” “kalau sudah lebih kaya,” “kalau sudah aman,” maka ia sedang menunda hak kebaikan yang bisa menjadi penyelamatnya. Padahal harta bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga untuk:
- Menunaikan zakat,
- Membantu fakir miskin,
- Mendukung dakwah,
- Menolong keluarga,
- Membantu pendidikan,
- Meringankan kesulitan sesama.
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata: Wahai Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sebentar saja, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi orang saleh.” (QS. Al-Munāfiqūn: 10)



