Kembali
Pulang Membawa Penyesalan

Pulang Membawa Penyesalan

111 dilihat
3 mnt baca
SU

Sutan

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ .متفق عليه.

“Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian pada hari kiamat datang dengan membawa kambing yang mengembik di lehernya, atau kuda yang meringkik di lehernya, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku.’ Maka aku menjawab: ‘Aku tidak memiliki kuasa apa pun untuk menolongmu. Sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.’” (Muttafaq ‘Alaihi)

Hadis ini menjelaskan tentang beratnya pertanggungjawaban harta dan amanah pada hari kiamat. Rasulullah saw memperingatkan agar seseorang tidak datang pada hari kiamat membawa harta yang dahulu ia miliki atau kuasai, tetapi tidak ia tunaikan haknya. Kambing dan kuda dalam hadis ini menjadi simbol harta, kepemilikan, fasilitas, dan amanah dunia yang kelak dapat berubah menjadi beban di akhirat.

Orang yang diberi kelapangan harta, tetapi selalu berkata: “nanti saja bersedekah,” “kalau sudah lebih kaya,” “kalau sudah aman,” maka ia sedang menunda hak kebaikan yang bisa menjadi penyelamatnya. Padahal harta bukan hanya untuk disimpan, tetapi juga untuk:

  • Menunaikan zakat,
  • Membantu fakir miskin,
  • Mendukung dakwah,
  • Menolong keluarga,
  • Membantu pendidikan,
  • Meringankan kesulitan sesama.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata: Wahai Rabbku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sebentar saja, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi orang saleh.” (QS. Al-Munāfiqūn: 10)

Artikel Terkait

Musibah Perspektif Alquran

Musibah Perspektif Alquran

Kehidupan itu tidak abadi, dan ketidakabadian itu terlihat dari proses hidup yang selalu fluktuaktif. Kadang hari ini kita sedih, tapi kesedihan kita tidak abadi, tidak lama dari situ kita jadi senang. Artinya kehidupan tidak ada yang tetap seperti itu, tapi akan Allah pergilirkan, termasuk musibah. Nah hari ini kita akan membahasa musibah dalam tinjauan Alquran.

Realisasi Keberanian Iman I

Realisasi Keberanian Iman I

Realisasi iman itu kita semua harus jadi penebar kebaikan bukan malah menebar keburukan, setiap ada keburukan kita tutup. Ada teman kita lagi ngomongin orang kita alihkan untuk bicara ngomongin yang lain.

Jangan Merasa Aman dari Kematian

Jangan Merasa Aman dari Kematian

Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang dari malam hari ketika mereka sedang tidur? Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siskaan kami yang datang pada pagi hari ketika merekka sedang bermain? Apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah yang tidak terduga-duga? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang rugi. (Al A’raf [7] : 99)

Hidupku Jariyahku

Hidupku Jariyahku

Jariyah itu artinya mengalir atau tidak putus. Berarti kalau berbicara hidupku jariyahku artinya hidup itu tidak abadi tapi amal harus abadi. Fisik kita tidak abadi, dulu kita lucu sekarang berbeda, dulu kita kuat sekarang lemah, dulu kita cantik, sekarang cantiknya berbeda. Artinya perubahan itu menunjukan fisik kita tidak abadi. Jadi manusia itu tidak ada yang abadi dengan bukti mereka selalu terikat waktu, ada awal dan ada akhir. Nah persoalanya adalah bagaimana agar amalan kita mengalir terus.