Membangun Komunikasi Keluarga
Sutan
Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia.
Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Ternyata kunci dalam rumah tangga itu adalah komunikasi. Jadi perceraian akan bisa diselesaikan kalau masih bisa komunikasi dengan baik, tetapi akan sangat sulit menmyelamatkan rumah tangga kalau gagal dalam komunikasi. Oleh sebab itu menurut riset bahwa penyebab retaknya rumah tangga itu didominasi oleh jeleknya komunikasi antar pasangan. Tahun 2022 saja kasus perceraian menembus angka setengah juta dalam satu tahun.
Makanya dalam masuk rumah tangga jangan anggap remeh komunikasi, sebab salah komunikasi akan mengakibatkan keretakan sehingga tidak heran 80% isi rumah tangga adalah komunikasi. Menurut penelitian psikologi menyebutkan bahwa hancurnya rumah tangga disebabkan relasi yang buruk, dan relasi yang buruk disebabkan gagal dalam komunikasi, ciri-ciri komunikasi gagal yaitu,
1. Sensitif
Sikap pasangan terlalu membesar-besarkan masalah yang kecil. Ternyata orang yang sensitif tidak melihat masalahnya, tapi bagaimana respon akan masalahnya, dan responya selalu negatif bahkan cenderung diperlebar dan diperbesar. Selain itu, kerap juga mudah marah dan mudah menyimpulkan.
2. Emosional
Pasangan tidak mudah marah dan emosional menyikapi sikap pasangannya atau kondisi yang dihadapi. Jadi tidak bisa menempatkan emosinya pada tempatnya yang proposional. Bukan tidak boleh marah, tapi mengkontrol amarahnya.
3. Cepat salah paham
Ketika ada perbedaan pemikiran atau maksud yang ditangkap oleh penerima, antara yang dibicarakan oleh pembicara berebda dengan maksud yang didengarkan oleh pendengar. Biasanya orang yang salah paham cenderung sering cepat menyimpulkan tanpa melihat sesuatu dari sudut yang lain
4. Egois
Kedua pasangan inginya sama-sama menang dan tidak mau ada yang mengalah, akibatnya dua-duanya saling berantem karena ingin menang dan benar. Padahal apa susahnya minta maaf? Lama-lama jika terus-terusan gagal dalam berkomunikasi, ujungnya kita akan lebih percaya komunikasi kepada orang lain ketimbang kepada pasangan kita.
Ternyata meskipun komunikasi itu seolah ringan, padahal faktanya sangat berpengaruh bagi rumah tangga, termasuk anak. Jika terjadi break communication, atau gagal komunikasi ujungnya anak akan tidak percaya kepada orangtuanya disebabkan melihat orang tuanya yang gagal komunikasi. Bahkan ironisnya akan mengakibatkan kenakalan remaja, seperti tawuran, pergaulan bebas, sampai kriminalitas.
Maka ada kuncinya untuk meminimalisir kegagalan komunikasi,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Karena rahmat Allah, kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri darimu. Karena itu, maafkan mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Ali Imran [3] : 159)
Berdasarkan ayat ini yang terpenting dalam komunikasi adalah memiliki jiwa pemaaf dan saling memaafkan, lalu bermusyarah, dengan kata lain berkomunikasi dengan saling menerima pendapat yang berbeda dan menguatkan pendapat lain. Kalau sudah bisa saling memaafkan, maka pasti komunikasi akan berjalan dengan baik, sebab kita akan melihat pasangan yang memiliki kekurangan, sehingga kekurangan itu akan dimaklumi dan dimaafkan lalu yang paling baik adalah disempurnakan, maka akan terlihat harominsasi salaing melengkapi.
Selanjutnya dalam berkomunikasi kita harus menyadari bahwa manusia itu makhluk yang pasti melakukan kesalahan. Kalau sudah bisa menyadari kekurangan pasangan, maka tidak aka nada lagi certia menyalahkan kekurangan,, menghina atau memarahi pasangan. Oleh sebab itu pasangan kita akan lebih terkontrol dalam berucap dan bersikap.



