Kembali
Membangun Komunikasi Keluarga

Membangun Komunikasi Keluarga

28 dilihat
13 mnt baca
SU

Sutan

Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia.

Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Ternyata kunci dalam rumah tangga itu adalah komunikasi. Jadi perceraian akan bisa diselesaikan kalau masih bisa komunikasi dengan baik, tetapi akan sangat sulit menmyelamatkan rumah tangga kalau gagal dalam komunikasi. Oleh sebab itu menurut riset bahwa penyebab retaknya rumah tangga itu didominasi oleh jeleknya komunikasi antar pasangan. Tahun 2022 saja kasus perceraian menembus angka setengah juta dalam satu tahun.

Makanya dalam masuk rumah tangga jangan anggap remeh komunikasi, sebab salah komunikasi akan mengakibatkan keretakan sehingga tidak heran 80% isi rumah tangga adalah komunikasi. Menurut penelitian psikologi menyebutkan bahwa hancurnya rumah tangga disebabkan relasi yang buruk, dan relasi yang buruk disebabkan gagal dalam komunikasi, ciri-ciri komunikasi gagal yaitu,

1.     Sensitif

Sikap pasangan terlalu membesar-besarkan masalah yang kecil. Ternyata orang yang sensitif tidak melihat masalahnya, tapi bagaimana respon akan masalahnya, dan responya selalu negatif bahkan cenderung diperlebar dan diperbesar. Selain itu, kerap juga mudah marah dan mudah menyimpulkan. 

2.     Emosional

Pasangan tidak mudah marah dan emosional menyikapi sikap pasangannya atau kondisi yang dihadapi. Jadi tidak bisa menempatkan emosinya pada tempatnya yang proposional. Bukan tidak boleh marah, tapi mengkontrol amarahnya.

3.     Cepat salah paham

 Ketika ada perbedaan pemikiran atau maksud yang ditangkap oleh penerima, antara yang dibicarakan oleh pembicara berebda dengan maksud yang didengarkan oleh pendengar. Biasanya orang yang salah paham cenderung sering cepat menyimpulkan tanpa melihat sesuatu dari sudut yang lain

4.     Egois

Kedua pasangan inginya sama-sama menang dan tidak mau ada yang mengalah, akibatnya dua-duanya saling berantem karena ingin menang dan benar. Padahal apa susahnya minta maaf? Lama-lama jika terus-terusan gagal dalam berkomunikasi, ujungnya kita akan lebih percaya komunikasi kepada orang lain ketimbang kepada pasangan kita.

Ternyata meskipun komunikasi itu seolah ringan, padahal faktanya sangat berpengaruh bagi rumah tangga, termasuk anak. Jika terjadi break communication, atau gagal komunikasi ujungnya anak akan tidak percaya kepada orangtuanya disebabkan melihat orang tuanya yang gagal komunikasi. Bahkan ironisnya akan mengakibatkan kenakalan remaja, seperti tawuran, pergaulan bebas, sampai kriminalitas.

Maka ada kuncinya untuk meminimalisir kegagalan komunikasi,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Karena rahmat Allah, kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri darimu. Karena itu, maafkan mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Ali Imran [3] : 159)

Berdasarkan ayat ini yang terpenting dalam komunikasi adalah memiliki jiwa pemaaf dan saling memaafkan, lalu bermusyarah, dengan kata lain berkomunikasi dengan saling menerima pendapat yang berbeda dan menguatkan pendapat lain. Kalau sudah bisa saling memaafkan, maka pasti komunikasi akan berjalan dengan baik, sebab kita akan melihat pasangan yang memiliki kekurangan, sehingga kekurangan itu akan dimaklumi dan dimaafkan lalu yang paling baik adalah disempurnakan, maka akan terlihat harominsasi salaing melengkapi.

Selanjutnya dalam berkomunikasi kita harus menyadari bahwa manusia itu makhluk yang pasti melakukan kesalahan. Kalau sudah bisa menyadari kekurangan pasangan, maka tidak aka nada lagi certia menyalahkan kekurangan,, menghina atau memarahi pasangan. Oleh sebab itu pasangan kita akan lebih terkontrol dalam berucap dan bersikap.

 

 

 

Artikel Terkait

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa berkumpul kembali di surga-Nya, tidak lihat latar belakang sosial, ekonomi apalagi finansial, tapi melihat diukur dari kesholehan. Ketika semua penghungi ruma mampu menghiasai rumah dengan kesholehan maka akan di ajnjikan berkumpul di surga nanti. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Materi ini sangat penting bagi yang sudah berumah tangga atau yang akan memasuki rumah tangga, karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama dan panjang. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, shaum atau haji pasti waktunya 5 menit buat shalat dst. Tapi kalau pernikahan ibadah paling panjang dan lama. Ada yang sudah 45 tahun, 50 tahun dan seterusnya. Karena ibadahnya paling lama, maka dalam rumah tangga harus terus belajar tanpa henti. Kenapa sampai disebut ibadah paling lama? Disebabkan apapun yang dilakukan suami atau istri dalam konteks melayani dan sejenisnya akan jadi nilai pahala dan ibadah, tapi sebelum menjadi suami istri maka apapun yang dilakukan belum disebut ibadah dalam rumah tangga.

Rumahku Surgaku

Rumahku Surgaku

Rumah tangga yang hebat itu adalah keluarga yang sama-sama berusaha untuk mencapai atau membawa menuju surga-Nya Allah SWT. Lalu bagaimana kalau suami istri itu tidak sholeh? Apakah mungkin masuk surga?

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Realita rumah tangga atau pernikahan adalah berjuang bersama. Lalu sekarang yang akan dibahas adalah mengabadikan kebahagiaan atau dalam bahasa Arab disebut sa’adah. Kebahagiaan yang hakiki dalam rumah tangga bukanlah di dunia, melainkan saat bisa berkumpul di surga, jadi tidak ada istilahnya bahagia yang hakiki selama ukuran kebahagiaanya adalah dunia,