Kembali
Hidupku Jariyahku

Hidupku Jariyahku

3 dilihat
17 mnt baca
SU

Sutan

Jariyah itu artinya mengalir atau tidak putus. Berarti kalau berbicara hidupku jariyahku artinya hidup itu tidak abadi tapi amal harus abadi. Fisik kita tidak abadi, dulu kita lucu sekarang berbeda, dulu kita kuat sekarang lemah, dulu kita cantik, sekarang cantiknya berbeda. Artinya perubahan itu menunjukan fisik kita tidak abadi. Jadi manusia itu tidak ada yang abadi dengan bukti mereka selalu terikat waktu, ada awal dan ada akhir. Nah persoalanya adalah bagaimana agar amalan kita mengalir terus.

Perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa umur itu ada tiga macam, umur biologis, yaitu umur yang sudah Allah teteap sejak zaman azali, jika Allah sudah menetapkan umur diangka sekian, berarti diumur itulah kita akan meninggal. Nah ini umur secara biologis,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَاۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktunya telah datang. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Munafiqun [63] : 11)

Ada juga yang disebut dengan umur kronologis, yaitu umur yang menggambarkan kualitas kesehatan. Ada yang sudah berumur 70 tapi kualitas kakinya masih bagus untuk lari, naik tangga dan sejenisnya, tapi ada juga yang berumur 45 tahun tapi sudah tidak kuat berjalan jauh apalagi naik tangga. Lalu selanjutnya yang terakhir yaitu umur amal shaleh, yaitu umur yang kita isi dengan amalan yang Allah ridhoi dan cintai,

وَالْعَصْرِۙ

Demi masa,

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

Sungguh, manusia berada dalam kerugian,

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (Al Ashr [103] : 1-3)

Maka tugas kita adalah mengisi umur sisa-sisa dalam hidup dengan amal shaleh agar tidak termasuk ornag yang rugi. Nah ada amalan yang bukan sebatas sampai sini, tapi akan mengalir sampai kita mati, yaitu disebut amal jariyah, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya:
“Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga, yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR Muslim)

Agar hidup diisi dengan amal jariyah, atau amalan yang mengalir sampai kita mati, yaitu ilmu yang bermanfaa. Ilmu yang bermanfaat itu tidak selamanya dipahami ilmu agama, tapi apapun ilmunya selama itu bermanfaat dan bisa mengambil manfaatnya maka hal itu termasuk ilmun yuntafa’ubih. Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan, karena ketika diamalkan akan terasa manfaat ilmu itu. Ketika mampu diamalkan dengan kata lain kita berhasil mengambil manfaat dari ilmu tersebut. Berarti tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat. Selanjutnya ada sedekah yang berkaitan dengan harta, dan yang ketiga adalah anak shaleh yang mendoakan. Anak yang mendoakan bukan hanya secara biologis, tapi non biologis juga termasuk.

Lalu sekarang bagaimana agar hidup kita menjadi jariyah

1.     Mulai dari merawat qalbu kita

Manusia itu terdiri dari tiga unsur, ada jasad, akal dan qalbu. Dari tiga hal ini yang menjadi panglimanya adalah qalbu bukan akal apaalgi jasadnya. Makanya kata Nabi hati sangat menentukan karakter sesorang sampai bentuk fisik seseorang. Oleh sebab itu yang jadi penentu keshalehan seseorang adalah hatinya.

وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَۙ

janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ

yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna,

اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati bersih, (ASy Syu’ara [26] : 87-89)

Kenapa hati haru bersih? Sebab kalau hati mulai kotor maka hati kita hidup kita diselimuti oleh dosa, lalu lama-kelamaan hati kita sudah ternodai oleh dosa,

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. (Al Muthafifin [83] : 14)

Agar hati kita bersih maka berdoalah kepada Allah,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami pada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya, Engkau Maha Pemberi.” (Ali Imran [3] : 8)

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Pulang Membawa Penyesalan

Pulang Membawa Penyesalan

“Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian pada hari kiamat datang dengan membawa kambing yang mengembik di lehernya, atau kuda yang meringkik di lehernya, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, tolonglah aku.’ Maka aku menjawab: ‘Aku tidak memiliki kuasa apa pun untuk menolongmu. Sungguh aku telah menyampaikan kepadamu.’” (Muttafaq ‘Alaihi)

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Materi ini sangat penting bagi yang sudah berumah tangga atau yang akan memasuki rumah tangga, karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama dan panjang. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, shaum atau haji pasti waktunya 5 menit buat shalat dst. Tapi kalau pernikahan ibadah paling panjang dan lama. Ada yang sudah 45 tahun, 50 tahun dan seterusnya. Karena ibadahnya paling lama, maka dalam rumah tangga harus terus belajar tanpa henti. Kenapa sampai disebut ibadah paling lama? Disebabkan apapun yang dilakukan suami atau istri dalam konteks melayani dan sejenisnya akan jadi nilai pahala dan ibadah, tapi sebelum menjadi suami istri maka apapun yang dilakukan belum disebut ibadah dalam rumah tangga.

Membangun Komunikasi Keluarga

Membangun Komunikasi Keluarga

Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Toleransi dalam Keluarga

Toleransi dalam Keluarga

UNESCO memutuskan bahwa setiap tanggal 16 November dinobatkan sebagai hari toleransi internasional. Kenapa harus ada hari toleransi, karena tolerasni ini adalah ruh bersatunya umat manusia dalam kebaikan. Kita bisa bayangkan kalau tidak ada toleransi maka bagaimana dunia ini? Kenapa Allah menciptakan toleransi karena Allah menciptakan manusia berbeda dan tidak ada yang sama. Makanya ada ciri unik dalam diri setipa manusia.