Kembali
Toleransi dalam Keluarga

Toleransi dalam Keluarga

0 dilihat
11 mnt baca
SU

Sutan

UNESCO memutuskan bahwa setiap tanggal 16 November dinobatkan sebagai hari toleransi internasional. Kenapa harus ada hari toleransi, karena tolerasni ini adalah ruh bersatunya umat manusia dalam kebaikan. Kita bisa bayangkan kalau tidak ada toleransi maka bagaimana dunia ini? Kenapa Allah menciptakan toleransi karena Allah menciptakan manusia berbeda dan tidak ada yang sama. Makanya ada ciri unik dalam diri setipa manusia. 

Kita ini ada perbedaan bilogis, ada perbedaan budaya, ada perbedaan kepentingan, ada ras, dan agama. Jadi kenapa harus ada toleransi? Jawabanya karena Allah mencitakan manusia itu berbeda. Disitulah kita harus punya kelapangan hati, menerima dan menghargai perbedaan. Dan perbedaan bisa jadi merusak hubungan keluarga, pertemanan, atau kekerabatan kalau tidak ada toleransi atau dalam Bahasa arabnya yaitu tasamuh.

Kita akan berbciara toleransi dimulai dari keluarga. Tadi itu gambaran betapa kita diciptakan Allah berbeda-beda, dan jika kita tidak menerima perbedaan itu maka bisa terjadi perceraian atau sejenisnya. Ada riset menyebutkan tahun 2022 perceraian di Indonesia ada setengah juta lima ratus enam belas ribu tiga ratus empat puluh empat kasus perceraian. Jadi tahun 2022 ada setengah juta, tahun 2021 empat ratus ribu. Menurut data itu terjadi karena disebabkan pertengkaran secara terus meneris, kenapa bisa terjadi pertengkaran? Mungkin tidak ada toleransi diantara mereka.

Makanya kita harus memiliki sifat tasamuh, nah dalam tasamuh ada berlaku baik, memaafkan dan menghormati. Tadi sudah dijelaskan bahwa kita harus toleransi disebabkan Allah menciptakan kita berbeda,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Hai, manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Allah ialah orang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (AL Hujurat [49] : 13)

Allah memanggil dengan kalimat yaa ayyuhan annas artinya panggilannya bersifat umum seluruh umat manusia apapun bangsa dan agamanya. Kenapa dimulai dari jenis laki-laki, karena dari per indidvidu sudah berbeda, apalagi berbeda antara laki-laki dan Perempuan. Bahkan katanya struktur otak laki-laki dan manusia agak sedikit berbeda. Apalagi organ reproduksinya berbeda, seperti Perempuan bisa mengalami mens, kalau laki-laki tidak bisa mengalami mens. Artinya laki-laki dan perempuan diciptakan Allah berbeda. Jadi laki dan perempuan itu sudah berbeda, ditambah berbangsa dan bersuku-suku, maka tasamuh itu saling memahami, mengenal, menghargai dan saling memaafkan. Lalu Allah mengatakan yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling takwa, bukan berdasarkan suku, jenis dll.

 

Maka kita harus meneremia kenyataan bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Artinya keharusan yang wajib kita terima. Makanya kalau ada yang berbeda dengan kita maka harus berlapang hati dengn perbedaan itu.

 Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Allah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta Allah jadikan rasa kasih dan sayang di antaramu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.” (Ar Rum [30] : 21)

Dari jenismu sendiri itu maksudnya adalah jenis manusia, berarti kita akan menikah dengan makhluk yang sejenis. Allah ciptakan kita agar kita merasa tentram, dan Allah menjadikan rasa kasih saying diantara kita. Dair ayat ini ada kalimat penting, yaitu Allah menciptakan dari jenis yang sama agar kita merasa tentram. Jadi ketentraman rumah tangga harus ada Upaya kita agar kamu (orang yang berumah tangga) menciptakan ketenangan, jadi sakinah itu tidak diberikan oleh Allah tapi harus diupayakan. Dalam tafsir Al Maraghi bahwa sakinah itu setelah melewati badai. Berarti Sakinah itu ketenangan yang harus diperjuangkan seperti orang yang melewati ombak yang besar berjuang di perahu itu untuk bisa saling menyelamatkan sehingga terjadilah dan terkendalilah ketenangan. jadi sakinah itu hasil perjuangan bersama antara suami istri seperti orang yang berada di dalam perahu mereka berkolaborasi berjuang supaya perahu itu selamat dari hantaman badai dan angin.

Nah ketenangan itu terjadi saat suami dan istri punya jiwa toleransi, inti dari toleransi kalau dalam kehidupan rumah tangga yaitu memaafkan. Sakinah itu harus diperjuangkan harus diikhtiarkan dan kuncinya ada di toleransi, toleransi itu menerima kenyataan bahwa kita itu berbeda.

Toleransi dalam rumah tangga itu harus diasah, dan dilatih dan siap memaafkan.Berbeda dengan ayat berikutnya, wa’ala bainakum, jadi Allah akan jadikan rasa kasih sayang diantara pasangan. Jadi mawaddah dan Rahmah itu dikasih sama Allah langung, kalau Sakinah itu diperjuangkan. Jadi mawaddah dan rahmah itu hadiah dari Allah karena kita sudah berjuang. Makanya Allah tidak akan dapat mawaddh dan Rahmah kalau kita tidak berjuang dulu. Mirip seperti kompetisi.  Jadi mimpi kita mau dapat mawaddah dan Rahmah kalau kita tidak mau berjuang untuk toleran terhadap pasangan hidup kita. Karena toleransi adalah kunci Sakinah mau memaafkan.

 

Artikel Terkait

Membangun Komunikasi Keluarga

Membangun Komunikasi Keluarga

Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Materi ini sangat penting bagi yang sudah berumah tangga atau yang akan memasuki rumah tangga, karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama dan panjang. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, shaum atau haji pasti waktunya 5 menit buat shalat dst. Tapi kalau pernikahan ibadah paling panjang dan lama. Ada yang sudah 45 tahun, 50 tahun dan seterusnya. Karena ibadahnya paling lama, maka dalam rumah tangga harus terus belajar tanpa henti. Kenapa sampai disebut ibadah paling lama? Disebabkan apapun yang dilakukan suami atau istri dalam konteks melayani dan sejenisnya akan jadi nilai pahala dan ibadah, tapi sebelum menjadi suami istri maka apapun yang dilakukan belum disebut ibadah dalam rumah tangga.

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa berkumpul kembali di surga-Nya, tidak lihat latar belakang sosial, ekonomi apalagi finansial, tapi melihat diukur dari kesholehan. Ketika semua penghungi ruma mampu menghiasai rumah dengan kesholehan maka akan di ajnjikan berkumpul di surga nanti. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Realita rumah tangga atau pernikahan adalah berjuang bersama. Lalu sekarang yang akan dibahas adalah mengabadikan kebahagiaan atau dalam bahasa Arab disebut sa’adah. Kebahagiaan yang hakiki dalam rumah tangga bukanlah di dunia, melainkan saat bisa berkumpul di surga, jadi tidak ada istilahnya bahagia yang hakiki selama ukuran kebahagiaanya adalah dunia,