Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh
Sutan
Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa berkumpul kembali di surga-Nya, tidak lihat latar belakang sosial, ekonomi apalagi finansial, tapi melihat diukur dari kesholehan. Ketika semua penghungi ruma mampu menghiasai rumah dengan kesholehan maka akan di ajnjikan berkumpul di surga nanti.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ
yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)
makanya tempat berkumpul yang paling baik adalah surga atau bertemu kembali dengan kelaurag kita di surga. Itulah tempat dan pertemuan yang paling indah dan tidak ada bandinganya sama sekali. Lalu bagaimana agar kita bisa berkumpul kembali di surga nanti? Jadi supaya indah di dunia dan bahagia di surga.
Karena yang dibicarakan adalah keluarga, maka variabel penting dalam bangunan keluarga adalah orang tua atau pasangan hidup dan anak. Sebelum membahas anak, kita mesti membahas terlebih dahulu orang tua. Dalam Alquran dijelaskan ada empat tipe pasangan hidup;
Tipe Imron yang kedua-duanya baik istri, suami dan anaknya hingga cucunya sholeh. Tipe Fir’aun, dia tidak sholeh tapi memiliki istri bernama Asiah yang sholehah. Artinya keluarga yang tidak kompak kesholehannya. Tipe Nabi Nuh, beliau sholeh tapi istrinya tidak sholeh, dmeikian juga anakny Tipe Abu Lahab, kedua-duanya baik Abu Lahab atau istrinya hingga anaknya tidak sholeh
Jadi ternyata dalam kehidupan di dunia ini tidak semua rumah tangga itu ideal. Berarti yang harus dilakukan adalah perenungan, kira-kira kita itu tipe keluarga yang mana? Tapi yang terpenting adalah ideal atau tidak keluarga itu usahakan agar keluarga menjadi wasilah meraih surga. Lihat keempat tipe diatas, tipe tiga dan empat. Meski tidak kompak dalam kesholehan tapi menjadi jembatan untuk meraih surga Allah.
Nah dari yang semua itu yang harus dijaga dan diperjuangkan oleh kita adalah, anak. Akarena amanah yang terberat itu anak. Dalam Alquran sendiri anak itu ada tiga kemungkinan;
1. Anak yang zinatulhayat
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Namun, amal kebajikan yang dilakukan terus-menerus lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al Kahfi [18] : 46)
Yang namanya perhiasan itu adalah sesuatu yang dapat membanggakan, dan perhiasan itu sendiri disematkan pada anak dan harta. Artinya dua dianatara yang selalu dibanggakan adalah anak dan harta. Jadi bangga ketik anaknya prestasi, kaya, memiliki jabatan mentereng, sekolah ke luar negeri dst. Dan semua itu sebatas untuk dibanggakan dan dipamerkan.
2. Anak yang fitnatun
اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
Sesungguhnya, hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah ada pahala besar. (Ath Tagabun [64] : 15)
Fitnah disini artinya adalah ujian. Menurut Al Maraghi fitnah dalam ayat tersebut adalah cobaan dan ujian berat. Artinya dengan kata lain ada saatnya anak itu menjadi baik untuk kita atau malah sebaliknya.
3. Anak yang qurrata a’yun
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang- orang bertakwa.” (Al Furqan [25] : 74)
Anak yang disebut qurrata a’yun itu bukan diukur oleh kepintaran atau kecerdasanya. Melainkan anak yang giat ibadahnya. Dalam bahasa Sunda ada istilah “tiis ceuli herang panon”. Jadi anak tipe ketiga ini adalah yang sholeh disegala lini, meski berprofesi sebagai dokter, ahli mesin, masinis, pilot tapi tidak menanggalkan kesholehannya.
Lalu bagaimana caranya agar anak-anakk kitab isa menghadapi tantangan zaman? Karena mau tidak mau zaman terus berubah seiring bersamaan menawarkan tantangan yang berat. Maka ada beberapa resep yang harus disiapkan agar anak kita menjadi qurrata a’yun yang dengan itu mereka bisa melawan tantangan zaman, caranya;
1. Bicara yang benar
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka dan khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar. (An Nisa [4] : 9)
Anak kita itu dibentuk oleh ucapan kita, maka perhatikan ucapan dan omongan kita kepada anak sebab itu akan membentuk karakter anak. Makanya Alquran mendorong agar berucap dengan ucapan yang benar. Terutama ketika ngomong dengan anak, berilah ucapan yang positif, inspiratif dan motivatif. Oleh sebab itu waspadai mulut-mulut kita.
2. Memberikan kebiasaan yang benar
Seperti Nabi yang selalu membawa Hasan Husaen ke masjid agar melihat contoh Nabi dan membiasakan mereka melakukan kebaikan. Ini sebetulnya sesuai dengan teori psikologi bahwa manusia akan menjadi apa tergantung apa yang dia biasakan.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا
Jadi yang dimaksud kemampuan itu tercipta dari proses membiasakan diri, kalau sudah terbiasa artinya dia sudah mampu melakukanya.
3. Keteladanan atau contoh
Artinya memberikan contoh yang baik dan benar kepada anak, kemudian membiasakanya. Agar anak melihat contoh kepada kita, karena anak itu selalu memperhatikan kelakuan orang tuanya. Artinya selain kita memberikan kebiasaan yang benar yaitu lakukan juga kebiasaan itu oleh kita supaya jadi contoh bagi anak-anak kita.
4. Doakan anak kita
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka menaati perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran. (Al Baqarah [2] : 186)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang- orang bertakwa. (Al Furqan [25] : 74)



