Kembali
Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

36 dilihat
23 mnt baca
SU

Sutan

Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa berkumpul kembali di surga-Nya, tidak lihat latar belakang sosial, ekonomi apalagi finansial, tapi melihat diukur dari kesholehan. Ketika semua penghungi ruma mampu menghiasai rumah dengan kesholehan maka akan di ajnjikan berkumpul di surga nanti.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ

yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)

makanya tempat berkumpul yang paling baik adalah surga atau bertemu kembali dengan kelaurag kita di surga. Itulah tempat dan pertemuan yang paling indah dan tidak ada bandinganya sama sekali. Lalu bagaimana agar kita bisa berkumpul kembali di surga nanti? Jadi supaya indah di dunia dan bahagia di surga.

Karena yang dibicarakan adalah keluarga, maka variabel penting dalam bangunan keluarga adalah orang tua atau pasangan hidup dan anak. Sebelum membahas anak, kita mesti membahas terlebih dahulu orang tua. Dalam Alquran dijelaskan ada empat tipe pasangan hidup;

Tipe Imron yang kedua-duanya baik istri, suami dan anaknya hingga cucunya sholeh. Tipe Fir’aun, dia tidak sholeh tapi memiliki istri bernama Asiah yang sholehah. Artinya keluarga yang tidak kompak kesholehannya. Tipe Nabi Nuh, beliau sholeh tapi istrinya tidak sholeh, dmeikian juga anakny Tipe Abu Lahab, kedua-duanya baik Abu Lahab atau istrinya hingga anaknya tidak sholeh

Jadi ternyata dalam kehidupan di dunia ini tidak semua rumah tangga itu ideal. Berarti yang harus dilakukan adalah perenungan, kira-kira kita itu tipe keluarga yang mana? Tapi yang terpenting adalah ideal atau tidak keluarga itu usahakan agar keluarga menjadi wasilah meraih surga. Lihat keempat tipe diatas, tipe tiga dan empat. Meski tidak kompak dalam kesholehan tapi menjadi jembatan untuk meraih surga Allah.

Nah dari yang semua itu yang harus dijaga dan diperjuangkan oleh kita adalah, anak. Akarena amanah yang terberat itu anak. Dalam Alquran sendiri anak itu ada tiga kemungkinan;

1.     Anak yang zinatulhayat

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Namun, amal kebajikan yang dilakukan terus-menerus lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al Kahfi [18] : 46)

Yang namanya perhiasan itu adalah sesuatu yang dapat membanggakan, dan perhiasan itu sendiri disematkan pada anak dan harta. Artinya dua dianatara yang selalu dibanggakan adalah anak dan harta. Jadi bangga ketik anaknya prestasi, kaya, memiliki jabatan mentereng, sekolah ke luar negeri dst. Dan semua itu sebatas untuk dibanggakan dan dipamerkan.

2.     Anak yang fitnatun

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

Sesungguhnya, hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, dan di sisi Allah ada pahala besar. (Ath Tagabun [64] : 15)

Fitnah disini artinya adalah ujian. Menurut Al Maraghi fitnah dalam ayat tersebut adalah cobaan dan ujian berat. Artinya dengan kata lain ada saatnya anak itu menjadi baik untuk kita atau malah sebaliknya.

3.     Anak yang qurrata a’yun

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang- orang bertakwa.” (Al Furqan [25] : 74)

Anak yang disebut qurrata a’yun itu bukan diukur oleh kepintaran atau kecerdasanya. Melainkan anak yang giat ibadahnya. Dalam bahasa Sunda ada istilah “tiis ceuli herang panon”. Jadi anak tipe ketiga ini adalah yang sholeh disegala lini, meski berprofesi sebagai dokter, ahli mesin, masinis, pilot tapi tidak menanggalkan kesholehannya.

Lalu bagaimana caranya agar anak-anakk kitab isa menghadapi tantangan zaman? Karena mau tidak mau zaman terus berubah seiring bersamaan menawarkan tantangan yang berat. Maka ada beberapa resep yang harus disiapkan agar anak kita menjadi qurrata a’yun yang dengan itu mereka bisa melawan tantangan zaman, caranya;

1.     Bicara yang benar

 

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka dan khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar. (An Nisa [4] : 9)

Anak kita itu dibentuk oleh ucapan kita, maka perhatikan ucapan dan omongan kita kepada anak sebab itu akan membentuk karakter anak. Makanya Alquran mendorong agar berucap dengan ucapan yang benar. Terutama ketika ngomong dengan anak, berilah ucapan yang positif, inspiratif dan motivatif. Oleh sebab itu waspadai mulut-mulut kita.

 

2.     Memberikan kebiasaan yang benar

Seperti Nabi yang selalu membawa Hasan Husaen ke masjid agar melihat contoh Nabi dan membiasakan mereka melakukan kebaikan. Ini sebetulnya sesuai dengan teori psikologi bahwa manusia akan menjadi apa tergantung apa yang dia biasakan.

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

Jadi yang dimaksud kemampuan itu tercipta dari proses membiasakan diri, kalau sudah terbiasa artinya dia sudah mampu melakukanya.

3.     Keteladanan atau contoh

Artinya memberikan contoh yang baik dan benar kepada anak, kemudian membiasakanya. Agar anak melihat contoh kepada kita, karena anak itu selalu memperhatikan kelakuan orang tuanya. Artinya selain kita memberikan kebiasaan yang benar yaitu lakukan juga kebiasaan itu oleh kita supaya jadi contoh bagi anak-anak kita.

4.     Doakan anak kita

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka menaati perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran. (Al Baqarah [2] : 186)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang- orang bertakwa. (Al Furqan [25] : 74)

 

Artikel Terkait

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga I

Materi ini sangat penting bagi yang sudah berumah tangga atau yang akan memasuki rumah tangga, karena pernikahan adalah ibadah yang paling lama dan panjang. Berbeda dengan ibadah yang lain seperti shalat, shaum atau haji pasti waktunya 5 menit buat shalat dst. Tapi kalau pernikahan ibadah paling panjang dan lama. Ada yang sudah 45 tahun, 50 tahun dan seterusnya. Karena ibadahnya paling lama, maka dalam rumah tangga harus terus belajar tanpa henti. Kenapa sampai disebut ibadah paling lama? Disebabkan apapun yang dilakukan suami atau istri dalam konteks melayani dan sejenisnya akan jadi nilai pahala dan ibadah, tapi sebelum menjadi suami istri maka apapun yang dilakukan belum disebut ibadah dalam rumah tangga.

Membangun Komunikasi Keluarga

Membangun Komunikasi Keluarga

Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Rumahku Surgaku

Rumahku Surgaku

Rumah tangga yang hebat itu adalah keluarga yang sama-sama berusaha untuk mencapai atau membawa menuju surga-Nya Allah SWT. Lalu bagaimana kalau suami istri itu tidak sholeh? Apakah mungkin masuk surga?

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Muara Kebahagiaan Rumah Tangga II

Realita rumah tangga atau pernikahan adalah berjuang bersama. Lalu sekarang yang akan dibahas adalah mengabadikan kebahagiaan atau dalam bahasa Arab disebut sa’adah. Kebahagiaan yang hakiki dalam rumah tangga bukanlah di dunia, melainkan saat bisa berkumpul di surga, jadi tidak ada istilahnya bahagia yang hakiki selama ukuran kebahagiaanya adalah dunia,