Pelita Kehidupan Rasulullah saw
Sutan
Kita ini butuh rule model, atau keteladanan. Jadi gini, ternyata manusia ini dibentuk harus ada model, contoh atau teladan. Dan biasanya teladan ini lebih mujarab daripada ucapan. Ada penelitian bahwa seorang suami jika sering membantu istrinya, nah jika memiliki anak laki-laki pasti dia akan meniru sifat dari ayah dan ibunya. Artinya kita selalu membutuhkan sosok keteladanan. Nah dengan demikian juga manusia dibentuk dengan keteladanan. Kita pun memiliki keteladanan yang sangat bagus, karena memang yang namanya model itu harus sempurna dan bagus. Model kita yang paling sempurna adalah Rasulullah SAW,
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak mengingat Allah. (Al Ahzab [33] : 21)
Nah saya bilang model itu harus ideal, kenapa? Karena kita akan menjadikan dia role model, contoh bagi kita. Nah ibu bapak yang susah dalam hidup yaitu kalau saya jadi ayah harus menjadi role model bagi anak, kalau saya jadi guru harus jadi role model bagi murid saya, kalau saya jadi pimpinan yang susah gimana saya jadi role model untuk anak buah saya. Makanya jangan main-main dengan ucapan dan perilaku karena itu ada yang melihat kita. Dan hati-hati makin umur kita nambah yang menatap kita makin banyak.
Nah jadi ternyata manusia itu dibentuk satu oleh omongan yang kita dengar terus dua oleh pembiasaan latihan latihan latihan tiga oleh keteladanan. Persoalan role model itu, ada yang memberikan keteladanan yang baik atau keteladanan yang buruk. Nah biasanya manusia itu ee apa kalau tidak diberi nilai maka dia itu netral, melihat keteladanan pokonya pengen kaya si fulan, aku pengen kaya si fulan dst. Nah problem kita sekarang ini, anak-anak selalu menyaksikan media sosial dan selalu yang dijadikan teladan adalah sosok keteladanan yang buruk. Inilah tantangan kita sekarang adalah di role model, di keteladanan. Jadi bahaya kalau anak sudah menonton hal-hal yang tidak benar, ini akan berbahaya. Jadi betapa sangat penting kit aini mengulang kata-kata yang baik, memberikan contoh yang baik karena kita bersaing dengan tontonan. Dan apa yang kita lakukan akan direkam oleh anak.
Kenapa kita harus punya contoh yang benar? Karena kita hidup kita di dunia sementara, singkat. Paling harapan umur warga Indonesia adalah 70 tahun. Bahkan laki-laki lebih pendek umur ketimbang Perempuan. Kenapa? Karena Perempuan lebih kuat nahan sakit daripada laki-laki. Mengapa kita harus jadi keteladanan yang benar, karena harus sadar karena pada akhirnya kita hanya akan jadi sejarah. Kita hanya punya tiga waktu, masa lalu yang jadi sejarah, masa depan yang misterius, masa kini yang jadi milik kita. Makanya yang kita miliki adalah masa kini, sebab itu akan jadi sejarah di masa depan kita. Makanya keteladanan kita harus benar, karena kita akan jadi contoh dan diikuti oleh anak-anak kita atau generasi yang akan dating. Kita tidak tahu masa depan bagaimana, maka berjuanglah sebaik mungkin sekarang,
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ ۖوَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Hai, kaumku! Sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanya kesenangan sementara dan akhirat itu negeri kekal. (Ghafir [40] : 39)
Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan sesaat, jadi dunia itu kesenangan sesaat, maksudnya tidak kerasa. Ibu rasanya anak ibu baru kemarin TK sekarang sudah menggendong anak TK. Jadi dunia itu kesenangan yang singkat, maka ingat sesungguhnya kehidupan kahirta kehidupan yang abadi, sebab itu kita harus jadikan Rasul jadi pelita hidup. Kalau pelita itu jadi penerang ditengah kegelapan, maka jangan melangkah selain harus sesuai dengan pelita itu. Makanya kita harus jadikan Rasul itu teladan karena kehidupan dunia itu kehidupan singkat.
Ada satu doa yang harus kita baca,
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandung dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila anak itu telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhoi. Berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai anak cucuku. Sesungguhnya, aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang Muslim.” (Al Ahqaf [46] : 15)



