Realisasi Keberanian Iman I
Sutan
Peruwujudan keimanan itu adalah akan membuat kita lebih cerdas, cerdasr yang dimaksud seperti apa? Karena cerdas itu macam-macam, ada cerdas motorik ya kalau cerdas motorik itu, misalnya ada orang yang pintar main basket sepak bola apalagi yang bersifat motorik gitu kecerdasan motorik ada, kecerdasan linguistik yang belajar bahasa itu gampang aja gitu ada yang menguasai tujuh bahasa padahal dia cuman belajar dari youtube, dia tidak pernah kursus. Nah realisasi keberanian iman itu membuat kita lebih cerdas, yaitu cerdas spiritual, ini dijelaskan dalam hadits,
يا رَسولَ اللهِ، أيُّ المؤمنينَ أفضَلُ: قال: أحسَنُهم خُلُقًا، قال: فأيُّ المؤمِنينَ أكيَسُ؟ فقال: أكثَرُهم للموتِ ذِكرًا وأحسَنُهم له استِعدادًا
Wahai Rasulullah siapa mukmin yang paling baik? Rasul menjawab yaitu yang paling baik akhlaqnya, Kembali bertanya, “Siapa mukmin yang paling pintar?” Rasul menjawab, “Yaitu yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus untuk mempersiapkanya.” (HR Ibn Majah)
Itulah orang yang cerdas, jadi kata Nabi orang yang cerdas itu aksaruhum dzikron lil maut orang yang sering mengingat mati, bila satu saat saya bakal mati apapun tidak akan saya bawa, kalau tahajud malas sadari takutnya keburu meninggal. Jadi sebenarnya saya dan anda semua berkesempatan untuk jadi orang cerdas ketika kita yakin semua kita ini bakal mati dan kita bersiap berbekal sebelum kematian itu menjemput ya berbekal jadi apa apapun sekecil apapun jalani itu sebagai bekal saat kita berpulang, karena kata Nabi Yatsba’u mayyit tsalasah yang akan mengikuti itu cuman tiga, keluarganya, hartanya dan amalanya, dua akan pergi tinggal yang tersisa cuman satu.
Harus sadar hidup itu harus cerdas persiapkanlah apapun yang ada di genggaman kita pada akhirnya ujian, sebenarnya rezeki yang limpah ujian bisa tidak kita berbagi rezeki, yang lagi seret juga ujian, bisa tidak kita sabar. Jadi dua-duanya sama-sama berbekal. Sebenarnya inti kehidupan itu berbekal, nah itu realisasi iman.
Makanya jangan pernah menyepelekan suatu kebaikan, makanya kata Nabi jangan menyepelekan kebaikan sekalipun dengan senyuman dan keramahan, karena itu sedekah.
Kedua, realisasi keimanan itu akan jadi penebar kebaikan,
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Orang paling baik perkataannya adalah orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan serta berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (Fushilat [41] : 33)
Realisasi iman itu kita semua harus jadi penebar kebaikan bukan malah menebar keburukan, setiap ada keburukan kita tutup. Ada teman kita lagi ngomongin orang kita alihkan untuk bicara ngomongin yang lain.



