Sebab Keimanan Menjadi Sempurna
Sutan
Sadari atau tidak ternyata keimanan kita kerap mengalami masa fluktuaktif, atau masa dimana iman kadang sedang naik, kadang juga iman mengalami penurunan. Artinya iman itu selalu tidak stabil dan cepat tergoyahkan,
وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آَمَنُوا إِيمَانًا
“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (QS al-Mudatstsir: 31)
لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan mukmin dan tidaklah minum minuman keras ketika minumnya dalam keadaan mukmin serta tidaklah mencuri ketika mencuri dalam keadaan mukmin”.
Satu ayat dan hdits diatas menunjukan bahwa iman selalu menghadapi fase naik dan turun. Lalu ada lagi diayat lain yang menunjukan ciri iman sedang naik atau sedang turun,
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingat, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. (Ar Ra’du [13] : 28)
dengan ayat ini menunjukan bahwa ciri dari iman yang bertambah adalah bertambahnya ketaatan kepada Allah, berarti kalau iman sedang turun menunjukan ketaatan sedang menurun. Oleh sebab itu iman kita harus dirawat dan diurus agar terjaga dan tidak turun.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat menghunjam ke bumi, dan cabangnya menjulang ke langit,
تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢبِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
pohon itu menghasilkan buah setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. (Ibrahim [14] : 24-25)
Menurut ayat ini iman itu laykanya tanaman yang harus dijaga dan dirawat, kalau tanaman itu ingin bagus dan berbuah maka harus dicebor atau dipupuk sampai diberi vitamin. Nah seperti itu juga keimanan yang harus dicebor dengan ilmu, dipupuk dengan amal dst. Maka untuk menjaga iman agar tetap paripurna dan sempurna mesti melewati beberapa tahapan,



