Kembali
Tiga Tanda Keikhlasan

Tiga Tanda Keikhlasan

3 dilihat
6 mnt baca
SU

Sutan

Sahabat ada yang tahu ciri keikhlasan? atau ciri kalau kita sudah benar-benar mengamalkan amalan itu ikhlas karena mengharap pahala dan ridho Allah. Untuk apa sih kita harus tahu ciri-cirinya? Justru supaya amalan yang kita lakukan dengan benar-benar ikhlas yang sesungguhnya, tidak ikhlas se-ikhlas ikhlasnya, melainkan ikhlas yang sebenarnya. Nah sahabat ini nih ada tiga tanda keikhlasan seseorang, apa aja? Yuk simak penjelasannya.

Ada tiga tanda keikhlasan menurut Dzu nun Al Misri

Pertama, Istiwa' Al Madhi wa dzammi min al ammah, artinya ialah seimbang atau bersikap sama ketika mendapatkan pujian atau celaan. Nah artinya tanda yang pertama adalah bersikap sama baik ketika amalan kita itu dipuji atau ketika kita sendiri dicaci atau bahkan dihina. Jadi kalau sahabat sedang membaca Alquran lalu ada yang memuji maka seketika respon sahabat cuman tersenyum dan tidak merasa paling unggul atau paling hebat, demikian juga ketika sahabat dihina atau dicela memberikan respon yang sama. Jadi kalau ikhlas karena Allah maka tidak akan berbeda respon atau sikapnya ketika dihina atau dipuji, bersikap tetap sama dan terus mengamalkan amalanya mesti ditengah-tengah cacian dan hinaan, atau tidak merasa hebat ketika dipuji. Artinya sikapnya konsisten dan konsekwen.

Kedua, Nisyanu ru'yatu al amal fil 'amal, yaitu tidak memperlihatkan amal kebaikan. Maksudnya adalah tidak memperlihatkan apapun yang kita amalkan kepada manusia, dengan kata lain tidak riya' dengan berharap dipuji dan dilihat orang lain agar mereka memandang kita sebagai orang shaleh. Jadi kalau benar-benar ikhlas maka ciri kedua adalah tidak riya' atau ingin dilihat orang lain, sebab riya' ini merupakan penyakit yang sangat buruk dan dapat merusak amal yang kita lakukan bahkan akidah kita, sebagaimana sabda Nabi,

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِىَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً »

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad)

Ketiga, ciri keikhlasan adalah iqtidha' tsawab al 'amal fil akhirah, artinya mengharapkan pahala hanya di akhirat. Jadi yang kita harapkan hanyalah ganjaran disisi Allah SWT, tidak ada yang lain. Berarti kalau mengharapkan pahala dari sisi Allah harus mengikuti cara ibadah atau amalan yang diinginkan dan diperintah oleh Allah. Karena tidak ada cara ikhlas kepada Allah selain hanya mengikuti yang Allah inginkan melalui lisan Rasulullah. Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali Imran [3] : 31)

Jadi sahabat untuk mengecek apakah amalan kita sudah benar-benar ikhlas karena Allah tinggal perhatikan apakah ada tiga tanda itu sudah ada pada diri kita?

Artikel Terkait

Membangun Komunikasi Keluarga

Membangun Komunikasi Keluarga

Hari ini kita sedang menghadapi fenomena “gray divorce,” yakni perceraian yang terjadi pada individu di usia 50 tahun ke atas. Data di Amerika Serikat tahun 2015 menunjukkan 10 dari 1,000 pasangan usia 50 tahun ke atas mengalami perceraian, meningkat dua kali lipat dari angka perceraian di tahun 1990. Bahkan, bagi pasangan di atas usia 65 tahun, angka perceraian bahkan mencapai tiga kali lipat kenaikannya dalam 25 tahun. Kasus seperti ini tentu dihadapi oleh beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia. Dari tren tersebut menunjukan bahwa perceraian bisa terjadi di beberapa usia pernikahan, jadi bukan hanya diusia baru belasan tahun, yang sudah puluhan tahun saja bisa berpeluang bercerai. Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Toleransi dalam Keluarga

Toleransi dalam Keluarga

UNESCO memutuskan bahwa setiap tanggal 16 November dinobatkan sebagai hari toleransi internasional. Kenapa harus ada hari toleransi, karena tolerasni ini adalah ruh bersatunya umat manusia dalam kebaikan. Kita bisa bayangkan kalau tidak ada toleransi maka bagaimana dunia ini? Kenapa Allah menciptakan toleransi karena Allah menciptakan manusia berbeda dan tidak ada yang sama. Makanya ada ciri unik dalam diri setipa manusia.

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Mempersiapkan Anak Menghadapi Usia Baligh

Keluarga yang bahagia adalah keluarga yang bisa berkumpul kembali di surga-Nya, tidak lihat latar belakang sosial, ekonomi apalagi finansial, tapi melihat diukur dari kesholehan. Ketika semua penghungi ruma mampu menghiasai rumah dengan kesholehan maka akan di ajnjikan berkumpul di surga nanti. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ yaitu Surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya bersama orang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (Ar Ra’du [13] : 23)

Rumahku Surgaku

Rumahku Surgaku

Rumah tangga yang hebat itu adalah keluarga yang sama-sama berusaha untuk mencapai atau membawa menuju surga-Nya Allah SWT. Lalu bagaimana kalau suami istri itu tidak sholeh? Apakah mungkin masuk surga?